Untuk Pertama Kalinya Teleskop Radio Deteksi “Planet Super”

Telset.id, Jakarta  – Para ilmuwan menggunakan Low-Frequency Array atau teleskop radio LOFAR telah menemukan “planet super” atau sering disebut kurcaci coklat yang dingin dan sangat redup, yang sulit dipahami oleh metode survei inframerah tradisional.

Teleskop radio LOFAR mengungkap kurcaci coklat, yang oleh para peneliti dinamai BDR J1750 + 3809 dan dijuluki Elegast. Kurcaci coklat kadang-kadang disebut sebagai bintang gagal atau super-planet karena terlalu kecil dianggap sebagai bintang.

{Baca juga: Kabel Putus Rusak Teleskop Radio Raksasa di Brasil}

Umumnya, planet super ditemukan melalui survei langit inframerah. Elegast, seperti dilaporkan Space.com, merupakan objek substellar pertama yang dideteksi menggunakan teleskop radio, menurut pernyataan dari Universitas Hawai’i.

“Pekerjaan ini membuka metode baru untuk menemukan objek terdingin yang mengapung di sekitar matahari,” kata Michael Liu, penulis studi dan peneliti dari the Institut Astronomi Universitas Hawai’i, dikutip Telset, Senin (23/11/2020).

Karena terlalu kecil untuk menjadi bintang, katai coklat tidak mengalami reaksi fusi nuklir yang sama, yang menjadi bahan bakar bintang terang, seperti matahari kita. Karenanya, bintang-bintang itu lebih kecil, lebih redup, dan lebih dingin.

Menurut penjelasan para peneliti, planet super lebih sulit ditemukan menggunakan metode konvensional, seperti halnya instrumen inframerah. Akan tetapi, planet super dapat memancarkan cahaya dalam panjang gelombang radio.

{Baca juga: Astronom Tangkap Sinyal Radio Misterius dari Luar Angkasa}

Para peneliti menemukan Elegast menggunakan teleskop radio LOFAR yang berbasis di Belanda. Pengamatan mereka dikonfirmasi menggunakan Observatorium Gemini Internasional di Hawaii dan Chili dan Fasilitas Teleskop Inframerah NASA.

Teleskop Raksasa Dinonaktifkan

Teleskop raksasa di Arecibo Observatory di Puerto Rico (AP)

Sebelumnya, National Science Foundation mengumumkan akan menonaktifkan teleskop super raksasa di Arecibo Observatory di Puerto Rico. Hal itu sontak membuat para ilmuwan di seluruh dunia kecewa.

Selama ini, para ilmuwan di hampir seluruh dunia menggunakan teleskop besar di Arecibo Observatory di Puerto Rico untuk mencari planet, asteroid, dan kehidupan di luar Bumi.

Badan independen yang didanai pemerintah federal mengatakan, terlalu berbahaya untuk tetap mengoperasikan teleskop radio antena tunggal terbesar di dunia itu.

Apa sebenarnya alasan utamanya? Ternyata, alasannya karena teleskop besar di Arecibo Observatory di Puerto Rico itu mengalami kerusakan cukup signifikan.

Menurut informasi, kerusakan yang dimaksud adalah kabel tambahan putus pada Agustus 2020, sehingga merobek lubang setinggi 100 kaki di piringan reflektor dan merusak kubah.

Ilmuwan di seluruh dunia telah menggunakannya untuk melacak asteroid dan planet asing di jalur menuju Bumi serta melakukan penelitian yang menghasilkan Nobel. [SN/HBS]

 

SourceSpace

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -