Rumahnya Kejatuhan Meteor, Joshua Mendadak Jadi Jutawan

Telset.id, Jakarta  – Joshua Hutagalung, warga Dusun Sitahan Barat, Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tak pernah menyangka akan mendapatkan uang ratusan juta rupiah gara-gara sebuah meteor.

Pada 1 Agustus 2020 lalu, segumpal meteor berwarna hitam menimpa rumah Joshua. Saat jatuh, suaranya sangat keras. Bahkan, seng atap rumahnya jebol. Meteor seukuran batu seberat 2,2 kilogram masuk ke tanah sedalam 10 sentimeter.

Joshua lantas bergegas mengambilnya. Ketika di pegang, meteor tersebut sedikit terasa panas. Meteor itu berjenis Chondrite berkarbon, meteorit yang sangat langka.

Meteor Chondrite berkarbon yang jatuh di rumah Joshua berumur sekitar 4,5 miliar tahun dan diperkirakan bernilai £ 645 atau Rp 12 jutaan per gram. Artinya, meteor yang menghantam rumah Joshua bernilai £ 1,4 juta atau sekira Rp 26 miliar.

{Baca juga: Uji Coba Asteroid NASA Bisa Picu Hujan Meteor di Bumi}

Berbicara kepada The Sun, Joshua yang bekerja sebagai pembuat peti mati mengaku menjual meteor tersebut kepada seorang ahli meteorit asal Amerika Serikat (AS) bernama Jared Collins. Collins kemudian menjualnya kepada kolektor meteor asal AS.

Banyak media luar negeri memberitakan, meteor yang dibeli dari Joshua disimpan di Pusat Studi Meteorit di Arizona State University, AS. Akan tetapi, ada yang menyebut bahwa meteor itu disimpan oleh kolektor kondang dari AS, Jay Piatek.

Berdasarkan pemberitaan berbagai sumber, Piatek adalah seorang dokter medis berusia 53 tahun yang memiliki klinik gizi Piatek Institute. Piatek merupakan orang kaya asal Gary, Indiana, AS, dengan kendaraan pribadi berharga mahal, termasuk Jaguar.

Piatek hobi berburu meteor sejak 2003. Semua berawal ketika sang anak belajar soal meteor di sekolah. Piatek coba mencari meteor yang dijual di eBay dan pameran batu serta mineral. Piatek membuka jaringan dengan aneka komunitas ilmuwan.

Kolektor Batu Meteor

Meteor yang dibeli ia jual lagi ke museum atau ke lembaga riset. Dari situ, Piatek memutar uang hasil penjualan meteor. Informasi menyebut bahwa Piatek pernah mempunyai 1.300 spesimen meteor. Namun, kabarnya, sekarang ia cuma punya 400 spesimen.

Koleksi Piatek yang paling berharga adalah batu dari Planet Mars bernama Black Beauty. Batu itu jatuh di Maroko, jutaan tahun lalu, dan ditemukan suku nomaden pada 2011. Piatek membelinya lewat perantara seharga USD 6.000 atau Rp 85,2 juta.

Black Beauty kini menjadi objek penelitian sejumlah lembaga riset universitas. Harga Black Beauty jauh lebih mahal daripada meteor yang jatuh di rumah Joshua. Meski demikian, uang dari meteor tersebut tetap membuat Joshua mendadak kaya raya.

Dengan uang hasil penjualan meteor yang diakui sebesar Rp 200 juta, Joshua berencana untuk pensiun dari pembuat peti mati dan membangun gereja di komunitasnya. Ia tak menampik bahwa kehadiran meteor itu merupakan tanda keberuntungan.

Joshua Hutagalung Meteor
Batu meteor yang dijual Joshua Hutagalung seharga Rp 200 juta (Foto Dokumen Pribadi Joshua Hutagalung)

{Baca juga: Wow! Potongan ‘Meteorit Missouri’ Dihargai Rp 352 Juta}

Joshua mengemukakan, bobot meteor yang jatuh menimpa atap rumahnya mencapai 2,2 kilogram. Meteor yang ia jual ke Collins hanyalah sebagian atau 1.800 gram dari total lima gram. Sisanya, menurut Joshua, dibagi-bagikan ke sanak keluarga.

“Saya mendapat bagian lima gram. Sisanya saya bagi-bagi ke sanak keluarga. Saudara saya ada yang membuatnya menjadi batu cincin. Sisa meteor yang saya simpan tidak akan dijual. Saya akan menjadikannya kenang-kenangan,” tutup Joshua. [SN/HBS]

 

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -