Telset.id – Badan intelijen militer Ukraina, GUR, mengungkap detail rudal jelajah baru buatan Rusia bernama Filin yang diproduksi menggunakan teknologi 3D printing. Rudal ini pertama kali dikerahkan sekitar September dan Oktober tahun ini, dan kehadirannya menjadi ancaman baru bagi pertahanan udara Ukraina karena harganya jauh lebih murah dibanding rudal konvensional.
Filin diklaim mampu melesat hingga kecepatan 500 mph dan memiliki jangkauan lebih dari 700 mil. Menurut laporan Business Insider, rudal jelajah ini jauh lebih terjangkau dibanding rudal Kh-101 yang biaya peluncurannya mencapai lebih dari US$2.000.000 per tembakan. Selisih biaya inilah yang memicu kekhawatiran bahwa militer Rusia akan memakai Filin dalam taktik “missile spam” terhadap Kyiv guna membanjiri sistem pertahanan udaranya.

Invasi Rusia ke Ukraina yang semula direncanakan hanya berlangsung beberapa pekan kini berubah menjadi perang atrisi bertahun-tahun. Kondisi ini membuat garis depan menjadi medan yang mahal bagi manusia maupun mesin, sehingga kedua pihak mencari cara berperang yang lebih hemat biaya. Drone memang sudah dipakai secara luas dalam konflik ini, tetapi kecepatannya relatif rendah dan lebih mudah ditembak jatuh.
Sebagai perbandingan, Geran-5 yang pernah diketahui hancur di udara hanya mampu mencapai kecepatan maksimum 270 mph. Sementara Filin dilaporkan bisa menembus 500 mph dengan jangkauan 745 mil. Meski masih belum secepat jet tempur modern seperti F-16 Fighting Falcon, kenaikan kecepatan puncak ini bisa membuat sistem pertahanan udara Ukraina jauh lebih sulit menghadapi ancaman tersebut.
GUR menyebut Filin memiliki fuselage dari karbon dan fiberglass, sekaligus dilengkapi sejumlah komponen hasil 3D printing. Badan intelijen itu juga menyatakan Moskow mampu menekan biaya rudal jelajah ini dengan mengandalkan komponen yang tersedia secara komersial dari perusahaan domestik maupun asing. Filin memakai mesin buatan Rusia, bukan turbojet buatan China yang ditemukan pada banyak drone Shahed.
Selain mesin, banyak komponen elektronik seperti flight controller, sistem navigasi inersia, pengendali peralatan, hingga perangkat anti-jamming dikatakan berasal dari negara-negara Barat dan sekutunya. GUR merinci sumber komponen tersebut: 35 komponen berasal dari Amerika Serikat, 22 dari China, serta 13 dari Jepang, Swiss, Taiwan, dan Belanda.
Baca Juga:
Meski 3D printing tidak selalu lebih murah dibanding metode manufaktur tradisional, teknologi ini kadang lebih efisien untuk memproduksi benda dengan geometri unik, seperti bahan bakar roket padat atau bilah turbin mesin jet. Teknologi yang sama bahkan memungkinkan seorang penghobi teknologi merakit MANPADS buatan sendiri dengan biaya di bawah US$100.
Filin sendiri diperkirakan akan jauh lebih mahal dibanding rudal 3D printing buatan rumahan. Namun fakta bahwa harganya jauh lebih terjangkau dibanding rudal jelajah tradisional bisa memungkinkan Rusia meluncurkan lebih banyak rudal, yang berpotensi menyulitkan para pembela Ukraina.

Penggunaan komponen komersial dari berbagai negara ini menunjukkan bagaimana rantai pasok global tetap menjadi bagian dari upaya militer Rusia. Sejumlah komponen elektronik yang disebut berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Taiwan, dan Belanda menegaskan bahwa perangkat kritis tidak selalu dipasok lewat jalur domestik. Hal ini menjadi perhatian tersendiri di tengah berbagai pembatasan yang berlaku.
Di sisi lain, pendekatan hemat biaya dalam produksi senjata menjadi pola yang terus muncul dalam konflik ini. Rusia sebelumnya juga dikaitkan dengan berbagai langkah teknologi lain, termasuk pembahasan pemanfaatan infrastruktur untuk kepentingan strategis seperti tambang batubara Rusia yang ditawarkan menjadi lokasi data center AI, serta wacana data center bertenaga nuklir yang sempat dibahas AS dan Rusia.
Bagi Ukraina, implikasi paling langsung dari kehadiran Filin adalah beban tambahan pada sistem pertahanan udara. Rudal yang lebih murah memungkinkan peluncuran dalam jumlah lebih besar, sementara kecepatannya yang lebih tinggi dibanding drone membuat intersepsi menjadi lebih menantang. Kombinasi harga rendah dan kecepatan inilah yang menjadikan Filin sebagai ancaman yang perlu diantisipasi.
GUR sendiri telah mempublikasikan rincian teknis Filin, mulai dari material fuselage hingga asal komponen elektroniknya. Publikasi ini memberi gambaran bahwa rudal jelajah hasil 3D printing bukan lagi sekadar konsep, melainkan persenjataan yang sudah dikerahkan di medan perang. Dengan jangkauan 745 mil dan kecepatan 500 mph, Filin menandai babak baru dalam cara Rusia memproduksi dan menggunakan rudal jelajah.





Komentar
Belum ada komentar.