📑 Daftar Isi

Ilustrasi roket SpaceX Falcon 9 yang menabrak permukaan Bulan dan meledak

Roket Falcon 9 SpaceX Tabrak Bulan Akibatkan Ledakan dan Kawah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Roket Falcon 9 SpaceX menabrak Bulan pada Rabu dini hari dan meledak saat tumbukan
  • Bagian atas roket yang dibuang telah terlantar di luar angkasa selama lebih dari setahun
  • Kecepatan tabrakan mencapai 5.400 mil per jam, sekitar tujuh kali kecepatan suara di Bumi
  • Kawah yang terbentuk diperkirakan selebar 60-100 kaki dengan kedalaman 12 kaki
  • Roket berasal dari misi Januari 2025 yang membawa Firefly's Blue Ghost dan ispace's Hakuto-R
  • NASA menyebut objek dengan energi serupa menghantam Bulan setiap enam hari sekali
  • Ilmuwan akan mempelajari fisika material lontaran di lingkungan gravitasi rendah
  • Insiden memunculkan pertanyaan tentang pengelolaan sampah antariksa di orbit Bulan

Telset.id – Sebuah roket Falcon 9 milik SpaceX dikonfirmasi menabrak permukaan Bulan pada Rabu dini hari, meledak saat tumbukan dan menciptakan kawah besar. Insiden ini menjadi pendaratan tak terduga bagi SpaceX, yang selama ini dikenal dengan ambisi besarnya menuju Bulan, namun justru mencatat sejarah melalui kecelakaan ini.

Roket yang dimaksud adalah bagian atas (upper stage) Falcon 9 yang telah dibuang dan terlantar di luar angkasa selama lebih dari setahun. Para astronom yang memantau lintasannya telah memproyeksikan bahwa puing antariksa ini akan menabrak Bulan dengan kecepatan 5.400 mil per jam, sekitar tujuh kali kecepatan suara di Bumi. Dampak dari tabrakan ini diperkirakan meledakkan kawah selebar 60 kaki dan sedalam 12 kaki, meskipun beberapa perkiraan lain menyebutkan kawah bisa mencapai lebar 100 kaki.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena menyangkut salah satu perusahaan antariksa paling ambisius di dunia. CEO SpaceX, Elon Musk, telah lama menjanjikan eksplorasi Bulan melalui roket Starship yang dirancang untuk membawa kargo ke permukaan Bulan dan mendaratkan astronaut NASA dalam misi bersejarah. Namun, hingga saat ini belum ada wahana SpaceX yang berhasil mencapai orbit Bulan, apalagi mendarat di sana.

Asal Usul Roket yang Menabrak Bulan

Bagian roket Falcon 9 yang jatuh ini merupakan sisa dari misi yang diluncurkan pada Januari 2025. Misi tersebut membawa dua pendarat bulan, yaitu Firefly’s Blue Ghost dan ispace’s Hakuto-R, menuju Bulan. Setelah menyelesaikan tugasnya, bagian atas roket tersebut dibuang dan dibiarkan melayang di luar angkasa.

Para astronom mulai mencurigai bahwa puing tersebut akan jatuh ke orbit Bulan, dan pada akhir April, sebuah laporan mengonfirmasi dugaan bahwa roket tersebut akan menabrak satelit berbatu itu. Karena ledakan terjadi sulit untuk diamati secara langsung, para ilmuwan mungkin memerlukan waktu untuk menyusun kembali seluruh kejadian yang terjadi.

A photo illustration showing a SpaceX rocket crashing on the Moon.

Meskipun terdengar dramatis, kawah baru ini tidak akan banyak mengubah kondisi Bulan. Karena tidak memiliki atmosfer pelindung, permukaan Bulan memang dibombardir oleh meteoroid setiap hari. Menurut NASA, benda dengan energi yang sama dengan roket tahap atas ini menghantam Bulan sekitar setiap enam hari sekali.

Namun, insiden ini tetap memunculkan pertanyaan penting tentang praktik terbaik pengelolaan sampah antariksa, terutama apakah membuang bagian roket bekas di dekat orbit Bulan dapat dianggap sebagai kelalaian. Ini bukan pertama kalinya puing manusia menghantam permukaan Bulan. NASA sengaja mengarahkan bagian roket Saturn V-nya ke Bulan selama misi Apollo pada tahun 1970-an, dan pada tahun 2009, badan antariksa AS itu juga menabrakkan bagian roket ke Bulan untuk mempelajari dampaknya.

Para ilmuwan berharap dapat mempelajari lebih banyak dari kecelakaan ini, termasuk wawasan tentang fisika material yang terlempar akibat ledakan di lingkungan gravitasi rendah, di mana material lontaran (ejecta) dapat bergerak hingga bermil-mil jauhnya. Bill Gray, seorang astronom yang menciptakan perangkat lunak Project Pluto untuk melacak objek dekat Bumi dan menerbitkan laporan yang memprediksi tabrakan ini, menulis bahwa peristiwa ini mungkin memiliki minat ilmiah yang kecil, namun tetap memberikan pelajaran berharga.

“Ini mungkin memiliki — kemungkinan kecil — minat ilmiah, dan kita mungkin belajar beberapa hal darinya,” tulis Gray di situsnya. “Ini tidak menimbulkan bahaya bagi siapa pun, meskipun ini menyoroti kecerobohan tertentu tentang bagaimana perangkat keras luar angkasa yang tersisa (sampah antariksa) dibuang.”

Insiden ini juga menjadi pengingat akan tantangan yang dihadapi SpaceX dalam perjalanannya menuju Bulan. Perusahaan tersebut terus mengembangkan Starship sebagai kendaraan utama untuk misi lunar, sambil juga memperluas bisnis lainnya. SpaceX juga telah menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan pendapatan yang meningkat berkat layanan Starlink dan kontrak AI, serta ekspansi ke berbagai sektor teknologi antariksa.

Ke depannya, peristiwa ini akan menjadi bahan diskusi di kalangan ilmuwan dan pembuat kebijakan tentang bagaimana mengelola puing antariksa dengan lebih bertanggung jawab. Meskipun Bulan terbiasa menerima hantaman benda langit, kecelakaan ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia di luar angkasa juga meninggalkan jejak yang perlu diperhatikan lebih serius.

Bagi para pengamat antariksa, tabrakan ini menjadi momen bersejarah yang tidak terduga. SpaceX, yang dikenal dengan ambisi besarnya untuk membawa manusia kembali ke Bulan, justru mencatat “pendaratan” pertamanya di Bulan melalui sebuah kecelakaan. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sejarah eksplorasi antariksa, setiap kecelakaan selalu membawa pelajaran yang dapat digunakan untuk misi-misi berikutnya, termasuk keputusan besar yang diambil perusahaan di tengah pengembangan teknologinya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.