Telset.id – Sebuah roket Falcon 9 SpaceX akan menabrak Bulan pada 5 Agustus 2026 pukul 06:35 UTC. Tahap atas roket yang sudah habis masa pakainya ini diperkirakan menghantam permukaan lunar di dekat Kawah Einstein dengan kecepatan 2,43 kilometer per detik atau sekitar 8.700 kph (5.400 mph). Meski tidak sengaja diarahkan ke Bulan, peristiwa ini telah diprediksi sejak September 2025, memberikan waktu bagi para ilmuwan untuk mempersiapkan pengamatan.
Objek yang dikatalogkan sebagai 2025-010D ini merupakan tahap atas Falcon 9 yang meluncur dari Kennedy Space Center pada 15 Januari 2025. Misi tersebut membawa dua pendarat komersial: Firefly Aerospace’s Blue Ghost Mission 1 yang sukses mendarat di Bulan pada Maret, dan ispace’s Hakuto-R Mission 2 yang hilang sesaat sebelum mendarat pada Juni. Kini, sisa roket tersebut akan menjadi kawah baru di permukaan Bulan.
Astronom independen Bill Gray, yang perangkat lunak Project Pluto-nya menghasilkan prediksi awal, memperkirakan tahap roket ini memiliki panjang sekitar 12 meter atau setinggi gedung lima lantai, dengan massa mendekati 4.900 kg. Setelah pemisahan, roket ini berada di orbit elips mengelilingi Bumi dengan periode 26 hari, berayun antara sekitar 220.000 hingga 510.000 km.

Lintasan roket dan orbit Bulan sebenarnya saling berpotongan, namun selama 18 bulan kedua objek tersebut tidak pernah bertemu di titik persimpangan. Kini, pertemuan itu akhirnya terjadi. Dampak tabrakan ini diperkirakan melepaskan energi setara dengan sekitar tiga ton TNT.
Nilai Ilmiah di Balik Tabrakan
Meski tampak seperti kecelakaan, peristiwa ini memiliki nilai ilmiah. NASA’s Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) dan Danuri milik Korea Selatan telah disiapkan untuk mengambil gambar sebelum dan sesudah tabrakan di area yang diperkirakan menjadi lokasi dampak. Pengamatan ini akan menjadi latihan untuk menguji metode lokalisasi dampak bagi eksperimen masa depan.
Bill Gray memperkirakan tabrakan akan menghasilkan satu kawah dengan diameter sekitar 17 meter, dengan analogi pada kawah ganda yang ditinggalkan oleh tahap atas Chang’e-5 T1 pada 2022. Sementara itu, makalah perencanaan observasi yang dipimpin Benjamin Fernando memperkirakan ukuran lebih besar, sekitar 27 meter dengan kedalaman 5 meter.
Namun, ada batasan terhadap apa yang bisa diukur dari peristiwa ini. Ketika NASA sengaja menabrakkan tahap ketiga Saturn V dan modul bulan ke Bulan antara 1969 dan 1972, dampak tersebut menjadi sumber seismik yang direkam oleh jaringan empat seismometer. Jaringan itu dimatikan pada 1977 dan belum ada penggantinya hingga sekarang. Akibatnya, meskipun orbiter akan memotret kawah yang dihasilkan, dampak tabrakan ini tidak dapat direkam secara seismik sama sekali.
Baca Juga:
Ini akan menjadi kedua kalinya roket mati diketahui menabrak Bulan secara tidak sengaja, setelah peristiwa Chang’e-5 T1 pada 2022 yang tidak pernah diakui secara publik oleh China. Bill Gray sendiri mengatakan episode ini menunjukkan kecerobohan dalam cara pembuangan perangkat keras luar angkasa yang tersisa.
Objek di orbit rendah Bumi pada akhirnya akan bertemu atmosfer dan terbakar. Bulan tidak memiliki mekanisme pembersihan semacam itu, sehingga dampak lunar bersifat permanen. Tabrakan ini menjadi pengingat bahwa sampah antariksa di sekitar Bulan tidak akan hilang dengan sendirinya.
Peristiwa ini juga menjadi sorotan bagi industri antariksa yang semakin ramai. Dengan semakin banyaknya misi ke Bulan, risiko tabrakan tak sengaja seperti ini kemungkinan akan meningkat. Pengamatan yang dilakukan LRO dan Danuri diharapkan dapat memberikan data berharga untuk pengelolaan lalu lintas antariksa di masa depan, sekaligus menjadi uji coba metode identifikasi dampak yang lebih akurat.
Bagi para pengamat antariksa, tabrakan ini adalah pengingat bahwa meskipun prediksi telah dibuat jauh-jauh hari, konsekuensi dari aktivitas manusia di luar angkasa tetap membutuhkan perhatian serius. Kawah baru di Bulan ini akan menjadi saksi bisu dari aktivitas eksplorasi antariksa yang terus berlanjut.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.