Telset.id – Sebuah roket Falcon 9 milik SpaceX dipastikan akan menabrak permukaan Bulan dan menimbulkan ledakan setara 3 metrik ton TNT. Peristiwa yang dijadwalkan terjadi pada Rabu (4/3/2026) sekitar pukul 6:34 pagi UTC ini menjadi sorotan para ilmuwan karena dampaknya terhadap keamanan infrastruktur dan astronot di masa depan.
Roket tersebut merupakan tahap atas (upper stage) dari Falcon 9 yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut sepasang pendarat bulan (lunar landers). Meski pendaratnya berhasil mencapai permukaan Bulan, roket ini justru terlantar di luar angkasa karena tidak memiliki cukup bahan bakar untuk kembali ke Bumi atau masuk ke orbit yang stabil.
Dengan bobot mencapai 4 metrik ton, roket ini diperkirakan akan menghantam permukaan Bulan dengan kecepatan sekitar 5.400 mph—atau sekitar tujuh kali kecepatan suara. Karena Bulan tidak memiliki atmosfer untuk memperlambat proyektil, dampak tabrakan ini akan meninggalkan kawah dengan perkiraan diameter hingga 27 meter dan kedalaman 5 meter.
Baca Juga:
## Lokasi dan Visibilitas Tabrakan
Roket tersebut diperkirakan akan menghantam area di dekat Kawah Einstein di sisi barat tepi dekat Bulan. Wilayah Amerika diprediksi memiliki pandangan terbaik untuk menyaksikan peristiwa ini. Meskipun tabrakan tidak akan terlihat dengan mata telanjang, para pengamat dengan teleskop berkualitas baik seharusnya bisa melihat gumpalan puing (debris plume) selama beberapa menit setelah dampak.
Peristiwa tabrakan roket ke Bulan yang terlihat dari Bumi ini menjadi tontonan langka, namun sekaligus memunculkan kekhawatiran tentang masa depan Bulan. Beberapa negara tengah merencanakan misi bulan tanpa awak (uncrewed lunar missions) yang berpotensi memenuhi area sekitar Bulan dengan berbagai objek.
## Bukan Kejadian Pertama
Penting untuk dicatat bahwa ini bukan pertama kalinya roket secara tidak sengaja menabrak Bulan. Pada Maret 2022, roket Long March 3C milik China juga menghantam permukaan Bulan dan meninggalkan kawah selebar 29 meter. China dan Amerika Serikat juga tengah berupaya membangun pangkalan di permukaan Bulan dalam beberapa dekade mendatang.
Bill Gray, pencipta inisiatif Project Pluto yang mengembangkan perangkat lunak dan alat untuk melacak orbit asteroid, komet, dan satelit buatan, adalah orang pertama yang menghitung lintasan tabrakan Falcon 9 ini. Ia juga merupakan bagian dari tim yang mengerjakan studi pracetak (preprint study) yang dirilis bulan lalu yang merinci tabrakan tersebut.
Studi tersebut menyatakan bahwa pendaratan darurat ini menjadi “kesempatan untuk menguji jalur pengukuran sifat kilatan cahaya untuk menemukan peristiwa dampak secara seismik, dan untuk lebih memahami bahaya multi-modal yang ditimbulkan oleh puing-puing luar angkasa yang menghantam Bulan terhadap infrastruktur bulan dan astronot di masa depan.”
## Risiko bagi Infrastruktur Masa Depan
Meskipun pembangunan pusat penelitian bulan yang mampu mendukung kehadiran manusia secara berkelanjutan akan memakan waktu setidaknya satu dekade, misi NASA untuk membangun fasilitas pertama diharapkan diluncurkan dalam beberapa tahun mendatang sebagai bagian dari program Artemis.
“Hal-hal semacam ini akan semakin sering terjadi. Dan karena kita memiliki lebih banyak astronot di permukaan bulan, lebih banyak infrastruktur bulan seperti habitat, kita perlu memahami seberapa besar risiko yang sebenarnya ditimbulkan oleh peristiwa dampak ini,” ujar Benjamin Fernando, peneliti di Los Alamos National Laboratory di New Mexico dan rekan penulis studi pracetak tersebut, kepada ABC News.
Risiko yang ditimbulkan oleh puing-puing luar angkasa menjadi bagian dari daftar bahaya yang terus bertambah dan menimbulkan keraguan tentang keamanan proyek jangka panjang di Bulan. Selain potensi sampah luar angkasa yang dapat merusak permukaan Bulan, peristiwa alam seperti hantaman meteorit juga mengancam aktivitas masa depan.
Namun, dengan potensi pangkalan bulan yang masih berjarak satu dekade atau lebih, para peneliti memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari bahaya tersebut dan merencanakannya. Peristiwa tabrakan ini menjadi pelajaran penting bagi masa depan eksplorasi luar angkasa.
“Progres pabrik dan pengembangan teknologi antariksa memang terus berjalan, namun risiko tabrakan seperti ini harus menjadi perhatian serius,” ujar pengamat.
“Ini adalah cara yang ideal untuk mempelajari risiko langsung, risiko tertabrak puing atau dibutakan oleh kilatan cahaya, tetapi juga risiko tidak langsung, risiko tertabrak awan material yang terlontar dan mengganggu atau mengganggu fungsi pesawat ruang angkasa di orbit bulan,” tambah Fernando.
Para ilmuwan berharap dengan mempelajari dampak tabrakan ini, mereka dapat lebih siap menghadapi tantangan membangun kehadiran manusia yang aman di Bulan. Perkembangan industri antariksa memang pesat, namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap misi eksplorasi.





Komentar
Belum ada komentar.