Telset.id – Panel surya kini bisa beroperasi hingga kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut. Tim ilmuwan dari Yunnan University, China, berhasil memvalidasi kinerja sel surya yang terendam dan mampu mengisi baterai lithium-ion hanya dalam dua jam. Temuan ini membuka jalan bagi sumber daya mandiri untuk perangkat bawah laut seperti sensor, kamera, dan sistem komunikasi.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Joule ini menguji sejumlah sel surya yang diletakkan 32 kaki (10 meter) di bawah permukaan Laut China Selatan. Sel tersebut mampu mengumpulkan energi yang cukup untuk mengisi baterai lithium-ion dalam waktu dua jam. Sel dibuat dari lead halide perovskite dengan tambahan polimer bernama polyhexamethylene guanidine hydrochloride. Aditif ini meningkatkan efektivitas panel.
Menurut Wen-Hua Zhang dari Yunnan University, “Sangat sedikit studi yang dilaporkan tentang sel surya bawah laut, dan semuanya berfokus pada kedalaman air yang sangat dangkal hanya dua meter atau kurang, skenario yang jauh dari memenuhi persyaratan aplikasi praktis.” Ia menambahkan, “Karya ini menyajikan validasi fungsional pertama dari sel surya terendam yang secara praktis beroperasi pada kedalaman air hingga sekitar 10 meter, sangat memperluas cakupan aplikasinya.”

Peneliti menyatakan bahwa setiap sel dapat digunakan selama sekitar lima setengah tahun dalam sekali penyebaran. Panel menangkap 1.416 milliwatt-hours (mWh) listrik pada kedalaman dua meter. Angka ini menurun menjadi 752 mWh pada enam meter dan 324 mWh pada sepuluh meter. Dalam pengujian laboratorium terpisah, panel surya memiliki efisiensi konversi daya hampir 35 persen.
Ide di balik riset ini adalah panel surya bawah laut dapat digunakan untuk memberi daya pada perangkat seperti sensor, kamera, sistem komunikasi, dan lainnya. Banyak objek ini tidak bergerak sepanjang waktu, sehingga sel surya di dekatnya dapat membantu menjaga mereka tetap terisi dan berfungsi tanpa memerlukan intervensi manusia yang ekstensif.
Salah satu pertanyaan yang belum terjawab adalah bagaimana panel surya seperti ini akan berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, kemungkinan mereka akan mengakumulasi biomaterial yang dapat menghambat operasinya, berpotensi memerlukan pembersihan rutin agar tetap berfungsi penuh. Cahaya matahari yang memberi daya pada sel ini juga dapat mendorong pertumbuhan tanaman dan hewan, sebuah proses yang dikenal sebagai biofouling.

Meski demikian, penelitian ini tampaknya memiliki potensi. Seperti yang dicatat para penulis, “Karya ini membuka jalan bagi penyebaran praktis fotovoltaik perovskite di lingkungan bawah laut, menawarkan rute menjanjikan menuju sistem energi laut mandiri dan perangkat bawah laut otonom.”
Pengembangan teknologi bawah laut juga menjadi perhatian sektor lain. Beberapa waktu lalu, Meta Investasi Tambahan untuk data center menunjukkan bagaimana infrastruktur digital terus berkembang pesat. Sementara itu, inovasi di bidang energi juga terus bermunculan, seperti Breathalyzer Pengukur Lemak yang dikembangkan ilmuwan.
Penelitian ini masih menyisakan tantangan, terutama terkait biofouling dan interaksi jangka panjang dengan ekosistem laut. Namun, validasi fungsional pada kedalaman 10 meter menjadi langkah awal yang signifikan. Ke depannya, panel surya bawah laut dapat menjadi solusi untuk memberi daya pada perangkat otonom yang beroperasi di lingkungan laut tanpa perlu sering diganti baterainya.
Dengan efisiensi konversi daya hampir 35 persen dan kemampuan bertahan hingga lima setengah tahun, teknologi ini menawarkan alternatif untuk sistem energi laut mandiri. Peneliti dari Yunnan University menegaskan bahwa karya ini membuka jalan bagi penerapan fotovoltaik perovskite di bawah air, sebuah rute yang menjanjikan untuk perangkat bawah laut otonom.
[ META_DESCRIPTION]
Panel surya bawah laut dari Yunnan University berhasil beroperasi di kedalaman 10 meter dan mengisi baterai lithium-ion dalam dua jam.





Komentar
Belum ada komentar.