Telset.id – Peta lengkap otak dan sistem saraf pusat lalat buah dewasa jantan akhirnya berhasil diungkap untuk pertama kalinya. Temuan yang dipublikasikan akhir pekan lalu ini langsung direspons para insinyur perangkat lunak dengan cara yang tidak biasa: melatih konektom lalat buah tersebut untuk bermain gim klasik seperti Doom dan Super Mario 64.
Pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi para ilmuwan Google Research bersama HHMI Janelia Research Campus dan komunitas ilmiah. Dalam unggahan media sosialnya, Google mengklaim kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk menggabungkan jutaan gambar 2D menjadi bentuk saraf 3D, merekonstruksi lebih dari 166.000 neuron yang memecahkan rekor.
Jumlah neuron tersebut memang jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan 86 miliar neuron pada otak manusia. Namun, para peneliti menilai tonggak sejarah ini akan mampu mempercepat pemahaman manusia tentang cara kerja otak serta menjadi pencapaian besar di bidang ilmu saraf.
Yang menarik, hanya dalam hitungan hari setelah pengumuman tersebut, para pengembang perangkat lunak sudah menunjukkan demonstrasi konektom MaleCNS v1.0 yang dilatih untuk bermain gim video. Insinyur perangkat lunak Alex Wormuth dan Jessica Paquette menjadi dua nama yang paling menonjol dalam eksperimen ini.

Wormuth, yang fokus melatih otak lalat untuk bermain Doom, menjelaskan bahwa setiap bingkai gim merangsang neuron sensorik. Aktivitas saraf kemudian dipetakan ke kontrol gim, sementara kerusakan yang diterima karakter memicu stimulus ke dua sel dopamin PPL101 sebagai penguatan. Ia menutup cuitannya dengan pertanyaan, “Akankah lalat belajar bertahan hidup?”
Sementara itu, Paquette membagikan video pendek yang memperlihatkan Mario yang berulang kali terbang dan menabrak dinding dalam Super Mario 64. Proyek ini ia akui “100 persen vibe coded dengan GPT Astra hanya untuk bersenang-senang”. Kode dari kedua proyek tersebut tersedia secara terbuka, dan proses pelatihan 166.700 neuron bahkan dapat disaksikan secara langsung.
Baca Juga:
Perkembangan ini memunculkan kembali diskusi tentang Hukum Ketiga Arthur C. Clarke. Banyak pihak kini berseloroh bahwa hukum tersebut perlu diamendemen menjadi kurang lebih: “Teknologi baru apa pun yang cukup maju akan segera dipaksa untuk bermain Doom.”
Lalat buah sendiri telah digunakan para ilmuwan untuk penelitian selama lebih dari satu abad. Serangga bersayap ini memiliki sejarah panjang dalam penelitian genetika dan tetap relevan pada 2020-an di bidang genetika, ilmu saraf, dan lainnya. Kini, untuk pertama kalinya, seluruh otak dan sistem saraf pusat lalat buah dewasa jantan berhasil dipetakan secara lengkap.
Keberhasilan pemetaan ini membuka peluang baru bagi para peneliti untuk memahami bagaimana koneksi saraf yang kompleks dapat menghasilkan perilaku. Dengan data konektom yang tersedia secara terbuka, komunitas ilmiah global dapat mengakses dan menganalisis data tersebut untuk berbagai keperluan riset lanjutan.
Eksperimen bermain gim dengan otak lalat buah ini juga menunjukkan bagaimana teknologi pemetaan saraf dapat diintegrasikan dengan simulasi digital. Pendekatan ini berpotensi digunakan untuk menguji berbagai hipotesis tentang fungsi otak dalam lingkungan yang terkendali.
Meskipun masih jauh dari kemampuan otak manusia, pencapaian pemetaan otak lalat buah ini merupakan langkah penting dalam upaya memahami misteri cara kerja otak. Para ilmuwan berharap temuan ini dapat membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang berbagai gangguan neurologis pada manusia di masa depan.
Bagi para penggemar teknologi dan gim, proyek开源 ini menjadi contoh menarik bagaimana data ilmiah dapat digunakan secara kreatif di luar konteks penelitian tradisional. Kombinasi antara kecerdasan buatan, ilmu saraf, dan gim klasik ini menunjukkan potensi kolaborasi lintas disiplin yang tidak terduga.
Para pengembang yang tertarik dapat mengakses kode sumber proyek ini untuk mempelajari atau mengembangkannya lebih lanjut. Sementara itu, publik dapat mengikuti perkembangan keberhasilan pelatihan otak lalat ini melalui akun media sosial para pengembang yang terlibat.
Ke depannya, teknologi pemetaan konektom seperti ini dapat menjadi fondasi bagi berbagai inovasi di bidang komputasi dan kecerdasan buatan. Pemahaman yang lebih baik tentang arsitektur saraf biologis dapat menginspirasi desain algoritma dan arsitektur komputasi baru yang lebih efisien.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum teknologi ini dapat diterapkan pada organisme yang lebih kompleks. Namun, pencapaian ini membuktikan bahwa dengan kombinasi teknologi yang tepat, batas-batas pemahaman ilmiah dapat terus didorong.
Perpaduan antara sains mutakhir dan budaya gim ini juga menunjukkan bahwa penemuan ilmiah dapat dirayakan dengan cara-cara yang kreatif dan menghibur, sekaligus membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas dalam perkembangan sains.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.