Telset.id β NASA mengumumkan komitmen pendanaan sebesar $359 juta atau sekitar Rp5,8 triliun untuk membantu Boeing memperbaiki sistem pendorong reaction control system pada wahana antariksa Starliner. Langkah ini diambil di tengah ancaman SpaceX yang berencana menghentikan platform peluncuran generasi lama seperti Falcon dan Dragon. Keputusan tersebut menempatkan NASA pada posisi sulit, karena tanpa Crew Dragon, Starliner menjadi satu-satunya harapan untuk mengakses Stasiun Antariksa Internasional (ISS).
Administrator NASA, Jared Isaacman, secara terbuka menyatakan bahwa SpaceX berniat menghentikan platform lama mereka untuk fokus pada Starship. βSaya rasa bukan rahasia lagi bahwa SpaceX berniat menghentikan platform lama seperti Falcon dan Dragon saat mereka berkonsentrasi pada kemampuan generasi berikutnya, Starship,β ujar Isaacman kepada wartawan pada Senin. Pernyataan ini muncul saat NASA tengah mempertimbangkan untuk membeli dua peluncuran tambahan menggunakan Starliner milik Boeing.
Selama enam tahun terakhir, Crew Dragon milik SpaceX menjadi tulang punggung pengiriman kru ke ISS. Jika SpaceX benar-benar menghentikan operasional Crew Dragon, opsi NASA untuk mengirim astronot ke orbit Bumi akan semakin menipis. Kondisi ini memaksa NASA untuk kembali melirik Starliner, meskipun wahana tersebut memiliki sejarah panjang masalah teknis yang belum terselesaikan.
Sejarah Panjang Masalah Starliner
Starliner bukan tanpa kontroversi. Wahana ini telah menelan biaya miliaran dolar dari Boeing dan menghabiskan lebih dari satu dekade pengembangan, namun hingga kini belum menyelesaikan satu pun misi berawak ke ISS. Berbagai insiden mewarnai perjalanan Starliner, mulai dari kegagalan peluncuran tanpa awak akibat komputer yang bermasalah, misi yang dibatalkan hingga membuat dua astronot NASA terdampar di stasiun selama sembilan bulan, hingga sederet masalah teknis lainnya.
Pada 2024, Starliner hampir saja dihentikan sepenuhnya. Namun, dengan ancaman SpaceX yang ingin meninggalkan platform peluncuran yang ada demi Starship yang masih belum terbukti, NASA seolah melihat tanda-tanda bahaya. Badan antariksa tersebut kini harus menanggung tagihan besar untuk menyelamatkan proyek yang bermasalah ini.
Sumber masalah terbesar Starliner terletak pada reaction control system thrusters. NASA menyatakan bahwa dana $359 juta akan dialokasikan untuk membantu Boeing membangun kembali sistem tersebut. Selain itu, NASA juga perlu mensertifikasi roket Vulcan milik United Launch Alliance untuk misi berawak sebelum Atlas V pensiun.
Baca Juga:
Rencana Peluncuran dan Sertifikasi Starliner
Target NASA adalah meluncurkan Starliner paling cepat pada Desember tahun ini. Menurut Ars Technica, NASA juga telah memiliki tiga kontrak yang sudah ada untuk misi berawak bersama Boeing. Rencana ini menjadi bagian dari upaya NASA untuk memastikan akses ke orbit Bumi tetap terjaga di tengah ketidakpastian masa depan Crew Dragon.
βKami memulai dengan misi Starliner-1 tanpa awak ke Stasiun Antariksa Internasional untuk memvalidasi perbaikan yang dilakukan pada wahana dan mengumpulkan data penerbangan yang kami butuhkan,β kata Isaacman dalam sebuah pernyataan. βDari sana, kami akan menggunakan apa yang kami pelajari, terus menerapkan tindakan korektif yang diidentifikasi oleh Tim Investigasi Program kami, dan menyelesaikan pengujian serta sertifikasi yang diperlukan untuk penerbangan berawak.β
Isaacman menambahkan bahwa rencana saat ini adalah mengembalikan astronot dengan Starliner-2 pada 2028. Ini menjadi momen transisi yang canggung bagi NASA. ISS dijadwalkan pensiun pada akhir dekade ini, meninggalkan celah besar dalam akses ke orbit Bumi. Belum jelas apa yang akan menggantikan pos terdepan orbital yang menua tersebut, dengan beberapa perusahaan swasta bersaing memperebutkan kontrak pemerintah yang menguntungkan untuk meluncurkan habitat mereka sendiri.
Jika mengikuti keinginan NASA, Starliner seharusnya menjadi bagian dari visi tersebut. Namun, mengingat rekam jejak yang ada, hal itu jauh dari jaminan. Kegagalan demi kegagalan membuat Starliner menjadi salah satu proyek paling bermasalah dalam sejarah eksplorasi antariksa modern.

Ketergantungan NASA pada Starliner juga memunculkan pertanyaan besar tentang strategi jangka panjang badan antariksa tersebut. Selama ini, NASA mengandalkan kemitraan dengan perusahaan swasta untuk mengurangi biaya dan mempercepat inovasi. Namun, ketika salah satu mitra utama seperti SpaceX memutuskan untuk mengalihkan fokus ke proyek yang belum terbukti, NASA harus memiliki rencana cadangan yang solid. Sayangnya, rencana cadangan itu justru datang dari proyek yang belum menunjukkan hasil memuaskan.
Dalam konteks yang lebih luas, keputusan NASA untuk terus mendanai Starliner mencerminkan betapa terbatasnya pilihan yang tersedia. Tanpa Crew Dragon, tanpa Starliner yang berfungsi, dan dengan ISS yang akan segera pensiun, NASA menghadapi risiko kehilangan kemampuan untuk mengirim manusia ke orbit Bumi. Ini bukan hanya masalah prestise, tetapi juga menyangkut kemampuan untuk melakukan penelitian ilmiah dan mempertahankan kehadiran manusia di luar angkasa.
Boeing sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait komitmen dana dari NASA ini. Namun, dengan tiga kontrak yang sudah ada dan target peluncuran pada Desember, tekanan bagi Boeing untuk membuktikan bahwa Starliner layak dioperasikan semakin besar. Kegagalan lagi bukan hanya akan merugikan Boeing secara finansial, tetapi juga menempatkan NASA dalam posisi yang sangat sulit.
Masa depan akses NASA ke luar angkasa kini bergantung pada kemampuan Starliner untuk bangkit dari keterpurukan. Dengan dana talangan sebesar $359 juta, NASA berharap dapat memperbaiki masalah teknis yang menghantui wahana tersebut. Namun, waktu terus berjalan, dan ISS semakin dekat dengan masa pensiunnya. Keputusan untuk mempertahankan Starliner mungkin bukan pilihan ideal, tetapi dalam situasi saat ini, NASA tampaknya tidak memiliki banyak alternatif lain.
[ META_DESCRIPTION]
NASA mengucurkan dana Rp5,8 triliun untuk memperbaiki Starliner Boeing di tengah ancaman SpaceX menghentikan Crew Dragon.





Komentar
Belum ada komentar.