📑 Daftar Isi

Ilustrasi krisis internal NASA dengan latar grafis yang menunjukkan pemotongan anggaran dan diagram sains iklim yang terancam.

NASA di Ujung Tanduk: Krisis Sains Iklim dan Ancaman Pemotongan Dana

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Pernahkah Anda membayangkan melihat Bumi dari sisi terjauh Bulan? Empat astronot NASA baru saja melakukannya, membawa pulang gambar menakjubkan “kelereng biru” kita yang rapuh. Namun, di balik keindahan spektakuler itu, tersembunyi sebuah paradoks pahit. Saat manusia mencapai lagi titik terjauhnya, fondasi sains yang memungkinkan eksplorasi itu justru sedang dibongkar dari dalam.

Konteksnya lebih dalam dari sekadar misi luar angkasa. Gambar-gambar dari misi Artemis 2 itu bukan sekadar pemandangan indah; mereka adalah pengingat visual betapa Bumi telah berubah sejak 1972. Perubahan iklim yang tak terbantahkan telah mengubah wajah planet, sementara di sisi lain, lembaga yang seharusnya mempelajarinya justru menghadapi serangan bertubi-tubi. NASA, simbol keunggulan sains dunia, kini terjepit antara ambisi eksplorasi dan tekanan politik yang menggerus kemampuan intinya untuk memahami rumah kita sendiri.

Transisi dari kekaguman terhadap pencapaian teknologi ke keprihatinan atas masa depan sains planet terjadi dengan cepat. Seorang ilmuwan senior NASA, Kate Marvel, baru-baru ini mengundurkan diri dengan surat terbuka yang menyayat hati. Alasannya? Untuk “mengatakan yang sebenarnya” tentang apa yang terjadi di dalam agensi antariksa paling ternama itu. Pengakuannya membuka tabir sebuah krisis yang mengancam tidak hanya NASA, tetapi juga pemahaman kolektif kita tentang planet yang semakin panas ini.

Serangan Terhadap Sains Iklim di NASA

Dalam esainya yang terbit di New York Times, Kate Marvel, mantan ilmuwan peneliti di NASA Goddard Institute for Space Studies, menggambarkan situasi yang suram. Ia menyatakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya yang bertugas melacak perubahan Bumi dari luar angkasa justru berada di “garis tembak” administrasi yang bertekad melindungi kepentingan industri minyak dan gas. Pernyataan ini bukan metafora belaka. Marvel mengalami langsung bagaimana serangan terhadap pekerjaan mereka semakin intens, dengan kekacauan yang menjadi hal yang konstan.

“Pada Maret ini, kekacauan itu sudah menjadi hal yang tetap, dan serangan terhadap pekerjaan kami hanya semakin menguat,” tulis Marvel. “Saya tahu saatnya telah tiba untuk pergi.” Pengunduran dirinya bukan tindakan isolasi. Ia adalah bagian dari gelombang besar “brain drain” atau pelarian otak yang melanda lembaga-lembaga sains nasional. Tahun lalu saja, lebih dari 10.000 ahli berpendidikan doktoral meninggalkan pekerjaan mereka, menciptakan kekosongan keahlian yang dalam di tengah krisis iklim yang membutuhkan solusi berbasis sains.

Ilmuwan NASA ungkap krisis sains iklim akibat tekanan politik.

Serangan ini bersifat sistematis. Laporan tahun 2025 dari Komite Perdagangan, Sains, dan Transportasi Senat AS menyimpulkan bahwa NASA telah bertindak prematur dan ilegal dengan menjalankan proposal anggaran kontroversial tahun 2026 dari pemerintahan Trump, jauh sebelum Kongres menyetujuinya—yang ternyata tidak pernah terjadi. Meskipun pada Januari lalu, para pembuat undang-undang memutuskan anggaran NASA akan tetap tidak berubah, kerusakannya sudah terjadi. Iklim ketidakpastian dan penolakan terhadap sains iklim yang melonjak telah meracuni sumur pengetahuan.

Anggaran 2027: Pukulan Telak bagi Direktorat Sains

Jika Anda mengira badai telah reda, pikirkan lagi. Baru dua hari setelah peluncuran epik Artemis 2 dari Kennedy Space Center, Gedung Putih melalui Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) melepaskan proposal anggaran NASA untuk tahun 2027. Isinya? Sebuah rencana untuk melumpuhkan direktorat sains agensi dengan mengusulkan pemotongan anggaran yang mencengangkan: 47 persen. Bayangkan, hampir separuh dari kemampuan riset ilmiahnya terancam dipotong.

Proposal ini, yang muncul di tengah euforia keberhasilan misi bulan, membuat komunitas sains dan para anggota kongres terkejut. Ini adalah upaya yang diperbarui untuk “membasmi” kemampuan ilmiah NASA, tepat ketika data tentang perubahan iklim menjadi lebih kritis dari sebelumnya. Pemotongan sebesar itu bukanlah penghematan; itu adalah pembungkaman. Tindakan ini secara efektif akan menghentikan misi satelit yang berfokus pada iklim, menghentikan penelitian atmosfer, dan memutus “pipa ilmiah” yang menghasilkan generasi ilmuwan berikutnya.

Marvel dengan tegas menyatakan bahwa sains iklim seharusnya tidak berhubungan dengan politik. “Sains iklim tidak secara inheren bermuatan politik, apa pun yang dikatakan pemerintahan,” tulisnya. “Tidak ada seorang pun yang bekerja dengan saya memiliki (atau menginginkan) kekuatan untuk membuat kebijakan. Tugas kami adalah mempelajari hukum fisika, yang tetap benar tidak peduli siapa yang berkuasa.” Namun, administrasi sebelumnya telah berusaha—meski gagal—mengakhiri misi satelit besar yang berfokus pada perubahan iklim dan bahkan menghilangkan semua penyebutan ‘perubahan iklim’ dalam laporan tahunan suhu global.

Inspirasi vs. Pemahaman: Dilema NASA Saat Ini

NASA, menurut Marvel, masih berusaha “menyulap gagasan inspirasi.” Memang, gambar Bumi dari Bulan yang dibawa pulang Artemis 2 mungkin akan menginspirasi generasi anak-anak untuk melihat dunia dari atas. Namun, inspirasi tanpa pemahaman adalah kosong. “Tanpa sains, gambar-gambar menakjubkan Bumi dari luar angkasa hanyalah gambar-gambar cantik,” argumen Marvel. “Kita semua layak mendapatkan lebih dari itu.”

Apa artinya ini bagi masa depan? NASA terjebak dalam dilema. Di satu sisi, agensi didorong untuk mencapai lompatan besar dalam eksplorasi—kembali ke Bulan, lalu ke Mars. Di sisi lain, alat yang paling penting untuk memahami planet asal yang memungkinkan perjalanan tersebut sedang dibongkar. Bagaimana kita bisa berambisi menjajah dunia lain jika kita gagal merawat dan memahami dunia kita sendiri? Ini adalah bentuk sabotase diri yang halus namun fatal: menolak untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang planet dan iklimnya.

Krisis di NASA adalah mikrokosmos dari perang yang lebih besar atas kebenaran dan sains. Ketika lembaga yang namanya identik dengan penemuan dan eksplorasi harus berjuang untuk mempertahankan misi dasarnya dalam mempelajari Bumi, itu adalah tanda peringatan bagi semua orang. Pemotongan anggaran dan tekanan politik tidak hanya mengancam pekerjaan beberapa ilmuwan; mereka mengancam kemampuan umat manusia untuk membuat keputusan yang tepat berdasarkan data untuk menghadapi tantangan eksistensial terbesar kita.

Gambar Bumi yang rapuh dari kejauhan seharusnya menyatukan kita dalam misi untuk melindunginya. Namun, di tanah, pertempuran untuk mempertahankan alat yang kita butuhkan untuk melakukannya justru semakin sengit. Misi Artemis 2 mungkin telah sukses mencapai Bulan, tetapi pertanyaan sesungguhnya adalah: akankah sains yang memberi makna pada perjalanan itu selamat untuk menyambut mereka pulang?