Rendering komputer misi Swift Boost menunjukkan robot LINK mendock dengan observatorium Swift di luar angkasa

Misi NASA Selamatkan Teleskop Swift dari Kejatuhan Berhasil Diluncurkan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Misi Swift Boost NASA berhasil diluncurkan pada 3 Juli 2026 dari Marshall Islands
  • Robot LINK dari Katalyst Space akan mendock dan mendorong Swift ke orbit 370 mil
  • Proses pendorongan diperkirakan memakan waktu 10-12 minggu
  • Tanpa bantuan LINK, Swift akan jatuh dari orbit akhir tahun ini
  • Swift telah mempelajari semburan sinar gamma selama lebih dari 20 tahun
  • Data Swift mengonfirmasi elemen berat seperti emas dan platinum terbentuk di sistem semburan sinar gamma
  • Misi ini membuka jalan untuk servis dan perbaikan satelit di orbit

Telset.id – Misi penyelamatan teleskop luar angkasa Swift dari kejatuhan akhirnya resmi bergulir. NASA berhasil meluncurkan misi Swift Boost pada 3 Juli 2026, mengirimkan robot pesawat ruang angkasa bernama LINK untuk mendock dan mendorong Neil Gehrels Swift Observatory kembali ke orbit yang lebih tinggi.

Peluncuran dilakukan dari Marshall Islands pukul 4:36 AM waktu Eastern setelah mengalami beberapa kali penundaan. Misi ini menjadi krusial karena observatorium yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade itu mengalami peluruhan orbit yang lebih cepat dari perkiraan akibat aktivitas matahari terkini.

Tim darat misi Swift Boost sudah berhasil menjalin komunikasi dengan LINK, robot yang dirancang oleh perusahaan Arizona, Katalyst Space. LINK akan bertugas mendock dengan observatorium menggunakan tiga lengan robotiknya, lalu menariknya ke orbit yang lebih tinggi.

Proses peluncuran terbilang tidak biasa. LINK dipasang pada roket Northrop Grumman Pegasus XL yang menempel di perut pesawat bernama Stargazer. Pesawat lepas landas dari Kwajalein Atoll, Marshall Islands, kemudian melepaskan roket Pegasus XL di ketinggian sekitar 40.000 kaki. Setelah jatuh bebas beberapa detik, mesin roket menyala untuk mengantarkan LINK ke luar angkasa.

NASA menyatakan bahwa menjalin kontak dengan LINK merupakan tujuan pertama misi ini dan telah berhasil dicapai. LINK kini sudah menyala dan akan menjalani pemeriksaan kesehatan oleh Katalyst selama beberapa pekan ke depan untuk menilai sistem propulsi, sensor, dan navigasinya.

Setelah pemeriksaan selesai, LINK akan bergerak menuju Swift Observatory untuk melakukan survei. Selanjutnya, LINK akan menangkap Swift, mendock menggunakan tiga lengan robotiknya, lalu menariknya ke atas hingga mencapai orbit dengan ketinggian sekitar 370 mil. Proses ini diperkirakan akan memperpanjang usia operasional Swift hingga satu dekade lebih.

Pengiriman observatorium ke orbit yang lebih tinggi diperkirakan memakan waktu 10 hingga 12 pekan. Tanpa bantuan LINK, teleskop Swift akan jatuh dari orbit pada akhir tahun ini.

Neil Gehrels Swift Observatory telah mempelajari semburan sinar gamma (gamma ray bursts) selama lebih dari dua dekade. Brad Cenko, peneliti utama Swift, menggambarkan semburan sinar gamma sebagai “kilatan cahaya berenergi tinggi yang berumur pendek, melepaskan lebih banyak energi dalam beberapa detik daripada yang akan dilepaskan matahari sepanjang hidupnya.” Semburan ini diperkirakan berasal dari ledakan dan tabrakan bintang.

Data dari Swift mengonfirmasi bahwa “elemen terberat dalam tabel periodik, termasuk emas dan platinum dalam perhiasan kita, ditempa dalam sistem ini,” kata Cenko. Saat ini, para ilmuwan juga menggunakan Swift sebagai “dispatcher” atau “responden pertama” untuk mengumpulkan informasi kritis ketika terjadi peristiwa kosmik mendadak.

Misi Swift Boost menjadi salah satu contoh nyata bagaimana teknologi luar angkasa terus berkembang untuk memperpanjang masa pakai instrumen ilmiah berharga. Keberhasilan misi ini akan menjadi preseden penting bagi upaya servis dan perbaikan satelit di orbit pada masa depan.

Misi robotik berisiko tinggi ini juga menunjukkan komitmen eksplorasi luar angkasa untuk mempertahankan aset ilmiah yang masih produktif. Dengan pendekatan inovatif seperti ini, NASA berharap dapat memperpanjang misi-misi sains yang sudah berjalan tanpa harus meluncurkan teleskop pengganti yang jauh lebih mahal.

Keberhasilan LINK dalam mendock dan mendorong Swift ke orbit yang lebih tinggi akan menjadi tonggak sejarah dalam teknologi servis luar angkasa. Jika berhasil, metode serupa dapat diterapkan pada satelit dan teleskop lain yang mengalami peluruhan orbit serupa.

Misi ini juga menjadi bukti bahwa kerja sama antara badan antariksa dan perusahaan swasta seperti Katalyst Space mampu menghasilkan solusi inovatif untuk masalah yang mengancam keberlangsungan misi ilmiah penting.

Rendering komputer misi Swift Boost menunjukkan robot LINK mendock dengan observatorium Swift

Dengan segala persiapan yang matang, tim misi Swift Boost optimistis bahwa LINK akan berhasil menyelesaikan tugasnya. Proses docking dan pendorongan Swift ke orbit yang lebih tinggi akan menjadi puncak dari misi yang telah direncanakan dengan cermat ini.

Keberhasilan misi ini tidak hanya akan menyelamatkan Swift Observatory, tetapi juga membuka jalan bagi pengisian bahan bakar di orbit dan servis satelit di masa depan, memperpanjang umur aset-aset antariksa yang bernilai miliaran dolar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.