📑 Daftar Isi

Ilustrasi wahana Fermi Explorer meluncur menuju Alpha Centauri dalam perjalanan 80.000 tahun

Misi 80.000 Tahun ke Alpha Centauri Siap Diluncurkan 2029

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Fermi Explorer adalah misi nirlaba yang diluncurkan oleh pendiri Starcloud untuk mengirim wahana ke Alpha Centauri
  • Perjalanan diperkirakan memakan waktu 80.000 tahun dengan target peluncuran pada 2029
  • Anggaran misi sekitar 15 juta dolar AS dengan muatan 10 cm persegi seberat 1 kilogram
  • Misi menggunakan teknologi propulsi listrik yang sudah terbukti, bukan teknologi baru
  • Wahana akan aktif selama 12 tahun sebelum memasuki fase pelayaran akhir
  • Pendekatan berbeda dari Breakthrough Starshot yang gagal pada 2025 karena membutuhkan miliaran dolar
  • Tim terdiri dari Philip Johnston, Adi Oltean, Ezra Feilden, dan Garret Jameson
  • Misi bertujuan menguji paradoks Fermi dan mencapai pencapaian bersejarah

Telset.id – Sebuah misi antariksa ambisius bernama Fermi Explorer resmi diperkenalkan ke publik dengan target meluncurkan pesawat luar angkasa kecil menuju Alpha Centauri, bintang terdekat dari tata surya kita. Misi yang digagas oleh para pendiri Starcloud ini dirancang untuk menempuh perjalanan selama 80.000 tahun dan menjadi objek buatan manusia pertama yang secara eksplisit diarahkan ke bintang lain.

Organisasi nirlaba di balik misi ini muncul hari ini untuk mencari mitra, donasi, dan masukan dari berbagai pihak. Tim awal yang terdiri dari pendiri Starcloud, Philip Johnston, Adi Oltean, Ezra Feilden, serta manajer program Garret Jameson, telah menyusun rencana menggunakan teknologi antariksa yang sudah terbukti untuk mengirim wahana dengan muatan berukuran 10 cm persegi dan berat 1 kilogram ke ruang antar bintang.

Para pendiri menyatakan misi ini diluncurkan dalam semangat eksplorasi manusia, untuk mencapai pencapaian bersejarah, dan untuk menguji batas paradoks Fermi. Paradoks ini mencoba menjelaskan mengapa kita belum menemukan kehidupan cerdas lain di alam semesta, dan menjadi asal usul nama misi tersebut.

Misi dengan Anggaran Terjangkau dan Jadwal Padat

Misi Fermi Explorer diperkirakan membutuhkan biaya sekitar 15 juta dolar AS dan ditargetkan meluncur pada 2029. Organisasi nirlaba ini sedang mencari vendor untuk membangun wahana, pendanaan untuk membayar mereka, serta muatan ilmiah dan artistik yang akan dikirim. Konsep ini mirip dengan sensor dan Golden Record yang dibawa oleh wahana Voyager milik NASA, pesawat antariksa manusia pertama yang meninggalkan tata surya.

Mayoritas rencana eksplorasi antar bintang biasanya gagal ketika berhadapan dengan jarak yang sangat jauh dan metode perjalanan yang relatif lambat. Voyager yang diluncurkan pada 1977 kini berada sekitar 26 miliar km dari Bumi, sementara Alpha Centauri berjarak 41 triliun km dari tata surya kita.

Terakhir kali Silicon Valley menangani tantangan ini, sebuah organisasi nirlaba bernama Breakthrough Starshot yang didirikan pada 2016 oleh Yuri Milner dan didukung Mark Zuckerberg, membayangkan upaya miliaran dolar menggunakan sistem propulsi berbasis laser untuk mencapai Alpha Centauri dalam dua puluh hingga tiga puluh tahun. Upaya tersebut runtuh pada 2025, namun mimpi itu tampaknya tetap hidup.

Fermi Explorer mengambil pendekatan yang berlawanan. Alih-alih mendorong batas teknologi, tujuannya adalah menggunakan teknologi yang sudah ada untuk melakukan sesuatu yang nyata.

Strategi Berbeda dari Misi Antar Bintang Lainnya

Johnston mengungkapkan kekecewaannya terhadap kegagalan Starshot. “Saya juga sempat bersemangat dan kemudian kecewa!” ujarnya. “Itulah alasan kami menjalankan misi ini. Kami bertekad untuk benar-benar meluncurkan sesuatu dalam tiga tahun. Perbedaan besar dengan kebanyakan misi antar bintang lainnya adalah mereka semua mencoba melakukannya dalam satu masa hidup manusia, yang berarti program penelitian dan pengembangan propulsi senilai miliaran dolar. Kami dengan sengaja memilih 80.000 tahun sebagai misi minimum yang layak.”

Rencananya, wahana ini akan diluncurkan melalui roket rideshare, kemudian menggunakan propulsi listrik yang efisien namun bertenaga rendah untuk melontarkan kendaraan ke serangkaian orbit yang pada akhirnya akan membawanya menuju Alpha Centauri. Wahana ini dirancang untuk aktif selama sekitar 12 tahun sebelum memasuki fase pelayaran akhir menuju sistem bintang lain.

Johnston juga menanggapi kekhawatiran tentang daya tahan wahana dalam perjalanan panjang tersebut. “Jika tulang dinosaurus bisa bertahan 200 juta tahun, maka kotak logam dapat dengan mudah bertahan di lingkungan radiasi yang kami perkirakan selama 50.000 tahun,” jelasnya. “Kami tidak berencana menyalakan wahana di akhir 80.000 tahun tersebut. Kami berharap peradaban manusia di masa depan akan mencegatnya.”

Konsep misi ini menunjukkan pendekatan yang pragmatis terhadap eksplorasi antar bintang. Dengan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia dan menghindari kebutuhan akan terobosan propulsi revolusioner, Fermi Explorer menawarkan jalur yang lebih realistis untuk mencapai pencapaian bersejarah dalam eksplorasi ruang angkasa.

Keberadaan misi ini juga membuka peluang bagi berbagai pihak untuk berkontribusi, baik melalui pendanaan, penyediaan teknologi, maupun pengiriman muatan ilmiah dan artistik. Pendekatan kolaboratif ini sejalan dengan semangat eksplorasi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Ketertarikan pada eksplorasi luar angkasa memang sedang meningkat, termasuk dari perusahaan-perusahaan teknologi besar. Beberapa perusahaan seperti SpaceX terus mengembangkan infrastruktur antariksa mereka. Bahkan, ada kabar tentang akuisisi yang melibatkan SpaceX yang menarik perhatian industri.

Misi Fermi Explorer menjadi tonggak baru dalam upaya manusia menjelajahi alam semesta. Dengan target peluncuran yang relatif dekat dan anggaran yang jauh lebih terjangkau dibandingkan proyek sejenis, misi ini berpotensi menjadi katalis bagi eksplorasi antar bintang di masa depan.

Keberhasilan misi ini akan membuktikan bahwa eksplorasi antar bintang bukan hanya mimpi yang membutuhkan teknologi futuristik, tetapi bisa dicapai dengan tekad, perencanaan matang, dan pemanfaatan teknologi yang sudah ada. Ini adalah pesan yang kuat bagi komunitas ilmiah dan industri antariksa global.

Bagi publik, misi ini menawarkan narasi yang menarik tentang keberanian manusia dalam mengeksplorasi hal yang tidak diketahui. Meskipun hasil akhir perjalanan 80.000 tahun tidak akan diketahui oleh generasi saat ini, nilai dari upaya itu sendiri sudah menjadi pencapaian yang layak diapresiasi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.