Telset.id – Microsoft menolak membagikan data mentah di balik klaim terobosan komputasi kuantumnya, sebuah keputusan yang memicu kritik tajam dari para ilmuwan. Zulfi Alam, corporate vice president of quantum Microsoft, menegaskan pihaknya tidak akan mempublikasikan data granular yang diminta para akademisi dengan alasan kerahasiaan komersial.
Perdebatan ini bermula dari klaim tim Alam tahun lalu yang menyatakan berhasil membelah elektron menjadi quasipartikel Majorana. Klaim tersebut menjadi fondasi ambisi Microsoft untuk menciptakan komputer kuantum yang berguna secara komersial. Namun, banyak ilmuwan meragukan hasil tersebut karena data yang dianggap tidak konklusif dan minimnya analisis peer-review.
Microsoft sendiri merupakan salah satu raksasa teknologi yang berlomba membangun komputer kuantum komersial. Perusahaan-perusahaan ini menargetkan komputer yang mampu memecahkan masalah mustahil di bidang pengembangan obat hingga pertahanan dengan memanfaatkan mekanika kuantum untuk memproses unit informasi secara fundamental berbeda dari mesin klasik.
Pendekatan Microsoft menggunakan partikel Majorana, yang pertama kali dihipotesiskan hampir 90 tahun lalu, dianggap menjanjikan secara teori. Namun, partikel ini terbukti sulit dibuktikan keberadaannya. Proyek riset terlama Microsoft ini juga tidak lepas dari kontroversi berulang.
Pengumuman terobosan tahun lalu disambut skeptisisme besar. Para ilmuwan tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa fenomena fisika lain yang mendorong sinyal yang digunakan Microsoft untuk menarik kesimpulannya. Ini bukan pertama kalinya Microsoft menghadapi keraguan serupa.
Pada 2021, Microsoft menarik makalah komputasi kuantum dari jurnal Nature yang mengklaim menemukan bukti partikel Majorana. Penarikan tersebut dilakukan setelah fisikawan independen menunjukkan masalah dalam analisis data. Meski demikian, pada Juni lalu, Microsoft mengumumkan telah memproduksi qubit yang 1.000 kali lebih andal dari pendahulunya menggunakan agen AI penemuan ilmiah Microsoft.
Para ilmuwan masih mempertanyakan pekerjaan Majorana yang mendasari terobosan tersebut. Pasalnya, Microsoft menolak berbagi data mentah di balik hasilnya. “Kenapa harus saya?” tanya Alam secara retoris. Ia menunjukkan sensitivitas komersial pekerjaannya yang membuat timnya tidak bisa mempublikasikan data granular yang diminta para ilmuwan.
Alam juga mengeluhkan proses publikasi yang terlalu lambat. Ia mencontohkan makalah yang diterbitkan di Nature pada Juni lalu sebenarnya berdasarkan pekerjaan yang dilakukan dua tahun sebelumnya. “Dunia telah berubah dalam dua tahun, jadi gagasan tentang peer review dan publikasi tidak berfungsi di dunia yang bergerak cepat ini,” ujar Alam.
Ia menambahkan bahwa ia percaya tidak ada cukup ahli untuk mempercepat proses tersebut. “Itulah mengapa urusan makalah ini agak membosankan sekarang,” katanya.
Para ilmuwan tidak puas dengan penjelasan tersebut. Trevor Lanting, fisikawan dan chief development officer di D-Wave Quantum, menyatakan bidang ini berkembang dengan banyak ahli di luar perusahaan yang mampu menilai klaim dan karya ilmiah secara andal. D-Wave sendiri juga pernah menghadapi tuduhan melebih-lebihkan klaim.
Menurut Lanting, evaluasi klaim oleh sains merupakan bagian dari proses sehat untuk membangun fondasi ilmiah dan teknis teknologi. “Jadi ketika perusahaan atau kelompok mengatakan mereka tidak punya waktu, saya membaca itu sebagai ‘hasil kami tidak cukup kuat untuk menghadapi pengawasan itu’,” tegasnya.
Alam tetap pada pendiriannya bahwa ia tidak perlu membuktikan pekerjaannya kepada siapa pun. Ia berencana memenangkan hati akademisi dengan mesin yang bekerja. Microsoft telah menyatakan akan mampu menciptakan komputer kuantum yang berguna pada 2029.
Baca Juga:
Alam mengaku bahwa umpan balik dari komunitas ilmiah justru memotivasinya untuk bekerja lebih cepat. “Karena misi kami hitam-putih: Bangun mesin ini dan biarkan mesin itu bekerja,” pungkasnya.
Sikap Microsoft ini menyoroti ketegangan yang lebih luas antara kecepatan inovasi industri dan kebutuhan verifikasi ilmiah. Di satu sisi, perusahaan ingin melindungi keunggulan kompetitif dan mempercepat pengembangan. Di sisi lain, komunitas ilmiah menekankan pentingnya transparansi untuk membangun kepercayaan dan validitas teknologi.
Dengan target 2029 untuk komputer kuantum yang berguna, tekanan pada Microsoft semakin besar. Keputusan perusahaan untuk tidak berbagi data dapat terus menjadi sumber perdebatan di tahun-tahun mendatang, terutama jika klaim terobosannya kembali dipertanyakan.
Sementara itu, persaingan di bidang komputasi kuantum semakin ketat. Berbagai perusahaan mengambil pendekatan berbeda untuk membangun qubit, termasuk menggunakan atom netral, atom bermuatan, dan cahaya. Keberhasilan salah satu pendekatan dapat mengubah peta persaingan industri ini secara signifikan.
Bagi pengamat industri, perkembangan ini menarik untuk diikuti karena akan menentukan arah komputasi kuantum global. Keputusan Microsoft di bidang kuantum juga menunjukkan prioritas strategis perusahaan di tengah berbagai transformasi bisnisnya.
Kritik terhadap Microsoft juga mengingatkan bahwa klaim ilmiah besar membutuhkan bukti yang dapat diverifikasi. Dalam sejarah sains, banyak terobosan yang awalnya diragukan akhirnya terbukti benar melalui replikasi dan verifikasi independen. Namun, proses tersebut membutuhkan keterbukaan data yang justru ditolak Microsoft.
Di sisi lain, kekhawatiran tentang komputer kuantum juga muncul dari potensi penggunaannya untuk memecahkan enkripsi. Hal ini menambah urgensi pengembangan teknologi tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan keamanan baru.
Dengan segala kontroversi yang ada, target Microsoft untuk menciptakan komputer kuantum yang berguna pada 2029 akan menjadi ujian nyata. Jika berhasil, kritik terhadap kurangnya transparansi mungkin akan mereda. Namun jika gagal, keputusan untuk menahan data akan semakin dipertanyakan.
Para ilmuwan seperti Lanting menekankan bahwa evaluasi ilmiah adalah bagian penting dari pengembangan teknologi. “Ini bagian dari proses sehat untuk benar-benar membangun sains dan fondasi teknis untuk teknologi tersebut,” katanya.
Sementara itu, Alam tampak percaya diri dengan pendekatannya. Ia bahkan menggambar diagram di buku catatan pewawancara untuk menjelaskan pekerjaannya. Namun, keyakinan pribadi tidak menggantikan verifikasi ilmiah yang dapat diandalkan.
Perdebatan antara Microsoft dan komunitas ilmiah ini kemungkinan akan terus berlanjut seiring perkembangan proyek komputasi kuantum perusahaan. Langkah Microsoft dalam berbagai bidang teknologinya akan terus dipantau, termasuk keputusan strategis di komputasi kuantum.
Bagi industri teknologi secara keseluruhan, kasus ini menjadi pelajaran tentang keseimbangan antara inovasi cepat dan integritas ilmiah. Teknologi yang dibangun di atas klaim yang tidak terverifikasi berisiko menghadapi masalah kredibilitas di masa depan.
Komputasi kuantum sendiri menjanjikan lompatan besar dalam kemampuan komputasi. Namun, jalan menuju komputer kuantum yang berguna masih panjang dan penuh tantangan, baik secara teknis maupun ilmiah.
Keputusan Microsoft untuk menolak berbagi data dapat menjadi preseden yang mempengaruhi bagaimana perusahaan teknologi lain menangani klaim ilmiah mereka. Ini juga dapat mempengaruhi kepercayaan publik dan investor terhadap klaim terobosan di bidang teknologi tinggi.
Dengan target 2029 yang sudah ditetapkan, Microsoft memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk membuktikan klaimnya dengan mesin yang bekerja. Sampai saat itu tiba, perdebatan tentang transparansi data kemungkinan akan terus berlanjut.
Para pengamat akan mencermati apakah Microsoft akhirnya mengubah pendiriannya atau tetap pada keputusan untuk tidak membagikan data. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan kredibilitas klaim komputasi kuantum perusahaan di mata komunitas ilmiah dan publik.





Komentar
Belum ada komentar.