Telset.id β Peluncuran roket Space Launch System (SLS) NASA dalam misi Artemis II pada April 2026 tidak hanya mencetak rekor perjalanan manusia terjauh dari Bumi, tetapi juga meninggalkan dampak yang tidak terduga di atmosfer. Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters mengungkap bahwa peluncuran tersebut mampu merobek lubang besar di lapisan atas atmosfer Bumi, tepatnya di ionosfer, dengan gangguan yang cukup kuat untuk mengacaukan sinyal GPS.
Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa aktivitas peluncuran antariksa dapat menciptakan gangguan atmosfer berskala besar yang sebelumnya tidak terduga. Tim peneliti dari National Cheng Kung University di Taiwan menganalisis data dari penerima GPS berbasis darat untuk merekonstruksi bagaimana roket SLS mengubah konsentrasi elektron bebas di atmosfer Bumi. Hasilnya, peluncuran tersebut memicu gelombang kejut dan gangguan skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Amerika Utara.
Bagaimana Peluncuran Roket Bisa Mengganggu Ionosfer?
Dalam makalahnya, tim peneliti mencatat bahwa observasi total konten elektron selama misi Artemis II mengungkap gangguan ionosfer yang langka dan berulang pada tiga kesempatan berbeda. Gangguan ini muncul karena roket SLS, yang disebut sebagai salah satu roket paling kuat yang pernah dibuat, melakukan tiga manuver utama, yaitu peluncuran awal, pembakaran apogee boost, dan injeksi trans-lunar. Ketiga manuver tersebut terlokalisasi di wilayah yang sama, sehingga memicu gangguan ionosfer yang signifikan.
Menurut Charles Lin, profesor ilmu bumi di National Cheng Kung University sekaligus salah satu penulis studi, dampak dari gangguan ini bisa sangat serius di permukaan Bumi. Ia menjelaskan bahwa kesalahan posisi hanya beberapa meter sudah cukup untuk membuat mobil otonom berpindah jalur. βKesalahan posisi beberapa meter sudah cukup untuk menyebabkan mobil otonom berganti jalur,β ujar Lin kepada Space.com. βIni bisa berdampak kuat tidak hanya pada mobil self-driving tetapi juga pada positioning drone.β
Fenomena ini mirip dengan efek yang ditimbulkan oleh badai matahari kuat, meskipun dalam rentang waktu yang jauh lebih singkat. Sebagai perbandingan, pada November tahun lalu, lonjakan aktivitas matahari melepaskan partikel bermuatan yang cukup untuk menyebabkan kesalahan posisi signifikan lebih dari 33 kaki, yang cukup besar untuk mengganggu industri pertanian presisi dan transportasi otonom di Amerika Serikat. Peluncuran SLS ternyata mampu meniru efek badai matahari besar tersebut dalam waktu yang lebih singkat.
Baca Juga:
Ancaman Baru bagi Navigasi Global
Para peneliti menyimpulkan bahwa temuan ini menetapkan manuver pembakaran orbital yang dilakukan di dalam ionosfer sebagai sumber cuaca antariksa antropogenik yang berbeda dan dapat berulang, di luar gangguan tahap peluncuran yang sudah mapan. Dengan kata lain, aktivitas manusia di antariksa kini menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam memahami dinamika ionosfer Bumi.
Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut, para peneliti menyarankan agar studi mendalam dilakukan sebelum peluncuran berikutnya. Mereka menekankan pentingnya mempelajari efek gangguan ini terhadap kesehatan ionosfer secara keseluruhan, serta dampaknya pada sistem navigasi global dan komunikasi frekuensi tinggi. Hal ini menjadi krusial mengingat semakin banyaknya misi antariksa yang melibatkan roket kuat seperti SLS.
Dampak pada sistem navigasi global ini juga sejalan dengan kekhawatiran yang muncul di sektor lain. Misalnya, bank besar AS tengah berlomba membendung risiko AI agent di rekening nasabah, yang juga bergantung pada akurasi sistem digital dan navigasi. Gangguan pada GPS dapat memperbesar risiko tersebut, terutama dalam operasi yang membutuhkan presisi tinggi.
Selain itu, misi Artemis II sendiri merupakan bagian dari rangkaian persiapan NASA untuk kembali mendaratkan astronot di permukaan Bulan setelah lebih dari setengah abad. Keberhasilan misi ini, meskipun sempat diwarnai masalah pada toilet antariksa, disebut sebagai kesuksesan besar. Namun, temuan tentang gangguan ionosfer ini menambah dimensi baru dalam perencanaan misi antariksa ke depan, termasuk upaya pengembangan robot medis untuk misi luar angkasa yang membutuhkan komunikasi dan navigasi andal.

Studi ini menjadi pengingat bahwa setiap peluncuran roket besar tidak hanya membawa misi ke antariksa, tetapi juga meninggalkan jejak di atmosfer Bumi. Gangguan ionosfer yang disebabkan oleh manuver orbital di dalam lapisan ini menandai babak baru dalam pemahaman manusia tentang interaksi antara teknologi antariksa dan lingkungan Bumi. Seiring dengan semakin intensifnya eksplorasi luar angkasa, termasuk misi simulasi seperti Misi Simulasi Mars NASA CHAPEA 2, pemantauan dampak lingkungan antariksa menjadi semakin relevan.
Bagi masyarakat umum, temuan ini memiliki implikasi langsung pada keandalan layanan berbasis GPS yang digunakan sehari-hari, mulai dari navigasi kendaraan hingga aplikasi peta di ponsel. Sementara itu, bagi industri transportasi otonom dan pertanian presisi, hasil studi ini menjadi peringatan akan pentingnya sistem cadangan dan mitigasi gangguan sinyal. NASA dan lembaga antariksa lain kini dihadapkan pada tantangan untuk memastikan bahwa kemajuan eksplorasi tidak mengorbankan stabilitas infrastruktur navigasi di Bumi.





Komentar
Belum ada komentar.