📑 Daftar Isi

Ilustrasi sistem Passive Heart Rate Monitoring Google menggunakan kamera selfie untuk mendeteksi detak jantung melalui video wajah 8 detik.

Google Uji Kamera Smartphone Detak Jantung

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google uji sistem Passive Heart Rate Monitoring (PHRM) menggunakan kamera selfie
  • Sistem analisis video wajah 8 detik dengan deep learning untuk estimasi detak jantung
  • Dilatih dengan 350.000+ klip video dari hampir 700 peserta dengan latar belakang beragam
  • Akurasi mendekati EKG dan perangkat wearable seperti Fitbit
  • Tantangan: kesalahan saat subjek berbicara atau menggerakkan kepala
  • Potensi menjangkau 5 miliar pengguna smartphone di seluruh dunia

Telset.id – Google tengah menguji sistem bernama Passive Heart Rate Monitoring (PHRM) yang memanfaatkan kamera depan smartphone untuk memantau detak jantung pengguna secara pasif. Sistem ini menggunakan video wajah berdurasi delapan detik yang dianalisis dengan deep learning untuk memperkirakan detak jantung istirahat (resting heart rate/RHR).

Dalam laporan yang dipublikasikan pada Sabtu (06/06/2026), Google menyebut bahwa RHR merupakan prediktor utama kesehatan kardiovaskular dan risiko kesehatan jangka panjang. Peningkatan RHR dikaitkan dengan kejadian kardiovaskular buruk dan mortalitas semua penyebab.

“Smartphone menghadirkan peluang unik untuk memperluas akses ke pelacakan kesehatan — saat ini, sekitar lima miliar orang sudah memiliki perangkat dengan sensor canggih yang mampu memantau kesehatan mereka,” tulis Google dalam laporannya.

Sistem PHRM bekerja dengan menganalisis perubahan pada kulit saat darah bergerak melalui tubuh. Perubahan ini tidak terlihat dengan mata telanjang, tetapi video yang diambil dalam beberapa detik pertama setelah aktivitas buka kunci wajah dapat mendeteksinya. Video wajah berdurasi delapan detik kemudian diproses melalui jaringan saraf tiruan (neural network) untuk memperkirakan detak jantung.

Ilustrasi sistem yang menggunakan video wajah 8 detik dan deep learning untuk memperkirakan detak jantung.

Google melatih sistem ini menggunakan lebih dari 350.000 klip video yang diambil oleh hampir 700 peserta uji coba. Untuk mengatasi tantangan pembacaan aliran darah berbasis kamera pada kulit yang lebih gelap, Google menggunakan kelompok subjek uji yang beragam.

Berbeda dengan metode sebelumnya yang mengharuskan pengguna menempatkan jari di kamera, pendekatan Google tidak memerlukan inisiasi dari pengguna. Sistem dapat menggunakan kamera selfie selama penggunaan ponsel normal untuk memperkirakan RHR dari waktu ke waktu.

Uji Coba di Dunia Nyata

Untuk menguji sistem ini di luar lingkungan laboratorium, Google meminta peserta menggunakan ponsel mereka sendiri selama seminggu sambil mengenakan peralatan EKG dan pelacak Fitbit. Hasilnya, sistem PHRM dilaporkan terus bekerja dengan baik.

Namun, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Meskipun sistem tetap memberikan pembacaan yang akurat untuk mereka yang memiliki warna kulit gelap, pengumpulan pembacaan ini masih sulit. Kesalahan dalam pembacaan juga ditemukan terjadi saat subjek sedang berbicara atau menggerakkan kepala.

Google sebelumnya pada tahun 2022 telah menunjukkan bagaimana pemilik ponsel dapat menempatkan satu jari di kamera perangkat mereka untuk pengukuran detak jantung sesuai permintaan. Sistem PHRM ini merupakan langkah lebih lanjut yang memungkinkan pemantauan pasif tanpa interaksi pengguna.

Dengan lebih banyak orang menggunakan smartphone dibandingkan smartwatch, sistem Google berpotensi membantu lebih banyak orang mendapatkan data kesehatan dari ponsel mereka. Google menyebut privasi dapat dijamin dengan penggunaan biometrik pengenalan wajah.

Setelah Google menyelesaikan berbagai kendala teknis, smartphone berpotensi menjadi alat kesehatan yang digunakan secara luas. Fitur Terbaru dari Google ini menunjukkan bagaimana perangkat yang sudah dimiliki miliaran orang dapat dimanfaatkan untuk pemantauan kesehatan yang lebih baik.

Tampilan depan perangkat Pixel termasuk kamera selfie.

Metode non-teknologi untuk mengukur detak jantung adalah dengan meletakkan ujung jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan. Hitung denyut selama 15 detik dan kalikan dengan empat untuk mendapatkan denyut per menit. Detak jantung istirahat yang baik adalah 60 hingga 100 denyut per menit (BPM), meskipun detak jantung dalam kisaran 50 BPM hingga 70 BPM menunjukkan kebugaran kardiovaskular yang lebih baik.

Dengan sistem PHRM, detak jantung dan RHR dapat dihitung di latar belakang selama penggunaan smartphone normal. Spesifikasi Lengkap dari sistem ini menunjukkan potensi besar untuk adopsi massal di masa depan.

Google melaporkan bahwa pembacaan dari sistem PHRM mendekati angka yang diperoleh dari EKG dan perangkat yang dapat dikenakan. Prediksi ini dikumpulkan sepanjang hari untuk memberikan gambaran yang akurat tentang detak jantung istirahat pengguna.

Implikasinya jelas: jika Google berhasil mengatasi tantangan teknis yang ada, miliaran pengguna smartphone di seluruh dunia bisa mendapatkan akses ke pemantauan detak jantung yang akurat tanpa perlu membeli perangkat tambahan. Ini bisa menjadi langkah besar dalam demokratisasi akses ke data kesehatan penting. Harga Terbaru dari teknologi ini belum diungkap, tetapi potensinya untuk menyelamatkan jiwa sangat besar.

Komentar

Belum ada komentar.