Telset.id – European Space Agency (ESA) resmi menggandeng OVHcloud dan CGI untuk membangun ESA Earth Observation Information System atau Digital EO, sebuah proyek cloud terdesentralisasi yang ditargetkan menampung 500PB data Earth Observation pada 2035. Proyek ini menjadi langkah besar bagi Eropa dalam mengelola data observasi Bumi dari satelit dan perangkat pemantauan lainnya untuk kebutuhan ilmuwan, peneliti, pelaku bisnis, hingga warga di seluruh Eropa dan Inggris.
Dalam proyek ini, OVHcloud berperan menyediakan penyimpanan dan pemrosesan cloud, sementara CGI menangani manajemen proyek melalui anak usahanya, France Défense et Spatial. Digital EO dirancang sebagai sistem terdesentralisasi yang mampu menampung pertumbuhan volume data dari satelit dan perangkat keras observasi lainnya, sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi penggunanya. Langkah ini sejalan dengan tren penguasaan infrastruktur strategis di kawasan Eropa, seperti yang terlihat pada pasar mobil Eropa yang juga bergerak menuju kemandirian teknologi.
Deployment awal Digital EO akan dilakukan di Italia, Prancis, dan Jerman. Setelah itu, sistem ini dapat diperluas ke negara-negara Eropa lainnya, termasuk Kanada. Meski telah keluar dari Uni Eropa, Inggris tetap menjadi anggota European Space Agency sehingga memiliki akses ke Digital EO. Cakupan ini menunjukkan bahwa proyek tidak hanya menyasar negara anggota Uni Eropa, tetapi juga mitra strategis ESA di kawasan lain.
Digital EO Jadi Tulang Punggung Data Observasi Bumi
Nicolaus Hanowski, Head of EO Mission Management and Ground Segment Department ESA, menyatakan bahwa Digital EO harus memungkinkan ESA mengambil langkah baru dalam cara data Earth Observation dikelola dan digunakan. Menurutnya, bersama CGI dan OVHcloud, ESA akan membangun serta mengoperasikan sistem Eropa yang inovatif dan sovereign, yang mampu mendukung ambisi tersebut sekaligus memberikan dukungan jangka panjang bagi program ESA dan European Commission seperti Copernicus dan DestinE.
OVHcloud juga akan mendukung evolusi ESA Earth Observation Information System, yang berpotensi berlanjut melampaui proyek awal berdurasi 30 bulan. Tujuannya adalah memastikan performa sistem tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan para pengguna Digital EO. Nilai proyek ini disebut OVHcloud mencapai “multi-million” Euro, menegaskan skala investasi yang dialokasikan untuk infrastruktur data strategis Eropa.
Baca Juga:
Octave Klaba, CEO dan Founder OVHcloud, menegaskan bahwa Eropa harus memiliki kendali atas infrastruktur yang menjalankan program-program paling strategisnya. Melalui Digital EO, OVHcloud menempatkan keahlian sovereign cloud-nya di bawah layanan ESA agar lembaga tersebut dapat membangun solusi inovatif untuk memproses, menyimpan, dan memaksimalkan volume data Earth Observation yang terus tumbuh, demi kepentingan komunitas riset, industri, dan pengguna operasional. Klaba menambahkan bahwa OVHcloud menargetkan performa, ketahanan, dan keamanan, dengan ambisi membangun Digital EO Eropa yang tangguh dan sovereign, yang mampu berkembang seiring kebutuhan dan ambisi ESA.
Langkah ESA ini juga mencerminkan pola yang lebih luas di Eropa, di mana kedaulatan data dan infrastruktur digital menjadi perhatian utama. Regulasi dan kebijakan di kawasan tersebut terus berkembang, termasuk upaya menekan praktik data yang merugikan pengguna, seperti terlihat pada RUU ACPA di AS yang mengatur ulang batas-batas layanan digital lintas negara.
Mengapa Digital EO Penting bagi Ekosistem Riset dan Industri
Digital EO diposisikan sebagai backbone bagi pengelolaan data observasi Bumi di Eropa. Dengan kapasitas yang ditargetkan mencapai 500PB pada 2035, sistem ini akan menjadi salah satu repositori data lingkungan terbesar di dunia. Data tersebut berasal dari satelit dan perangkat observasi lain yang terus menghasilkan informasi tentang kondisi planet, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk studi, riset, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Pendekatan terdesentralisasi yang diusung Digital EO bertujuan memastikan sistem tetap skalabel dan tangguh. ESA menilai pertumbuhan pengumpulan data dari satelit serta perangkat dan perangkat keras lainnya menuntut manajemen yang lebih baik dan akses yang lebih luas. Karena itu, proyek ini tidak hanya berfokus pada penyimpanan, tetapi juga pada kemampuan pemrosesan yang dapat melayani berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, peneliti, pelaku bisnis, hingga warga di Eropa dan Inggris.
Dukungan terhadap program seperti Copernicus dan DestinE menunjukkan bahwa Digital EO akan terhubung dengan inisiatif observasi Bumi yang sudah berjalan. Hal ini memperkuat posisi ESA sebagai lembaga yang mengandalkan perusahaan dan teknologi dari benua Eropa, alih-alih membeli solusi dari Amerika Serikat, China, Korea Selatan, atau Jepang. Pendekatan ini konsisten dengan semangat kedaulatan teknologi yang juga muncul di sektor lain, misalnya dalam diskusi seputar konten AI di sektor antariksa yang menyoroti pentingnya kredibilitas dan kendali atas informasi.
Dengan durasi proyek awal 30 bulan dan opsi perpanjangan, OVHcloud memposisikan diri sebagai mitra jangka panjang ESA. Fokus pada performa, ketahanan, dan keamanan menunjukkan bahwa Digital EO dirancang untuk beroperasi dalam skala besar dan berkelanjutan. Sistem ini diharapkan mampu beradaptasi dengan kebutuhan ESA yang terus berkembang, seiring bertambahnya volume data dan meluasnya cakupan pengguna di berbagai negara.
Bagi ekosistem riset dan industri di Eropa, kehadiran Digital EO membuka akses yang lebih luas terhadap data observasi Bumi. Peneliti dapat memanfaatkan data tersebut untuk studi lingkungan dan iklim, sementara pelaku bisnis dapat mengembangkan layanan berbasis data. Warga juga berpotensi merasakan manfaat tidak langsung melalui program-program yang didukung ESA dan European Commission. Dengan struktur yang terdesentralisasi dan sovereign, Digital EO menjadi fondasi penting bagi pengelolaan data Earth Observation di kawasan tersebut hingga 2035.





Komentar
Belum ada komentar.