📑 Daftar Isi

Ilustrasi drone Phantom Twist yang hampir tidak terlihat saat terbang dengan efek motion blur

Drone Invisible Buatan AS Berputar 25 Kali Per Detik, Sulit Terdeteksi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Drone Phantom Twist buatan Northwestern University hampir tidak terlihat oleh mata manusia dengan berputar 25 kali per detik
  • Teknologi ini memanfaatkan efek motion blur pada penglihatan manusia, bukan kamuflase tradisional
  • Proses desain menggunakan AI untuk menghasilkan 20.000 konfigurasi dan memilih yang paling tidak terlihat
  • Drone ini sepuluh kali lebih sulit dideteksi secara visual dibandingkan drone quadcopter konvensional
  • Kelemahan utama adalah kebisingan yang tinggi, perlu dikurangi untuk aplikasi observasi satwa liar
  • Dipresentasikan di konferensi Robotics: Science and Systems 2026 di Sydney, masih dalam tahap peer review

Telset.id – Tim peneliti dari Northwestern University berhasil menciptakan drone yang hampir tidak terlihat oleh mata manusia. Drone bernama Phantom Twist ini memanfaatkan efek motion blur pada penglihatan manusia dengan berputar hingga 25 kali per detik, membuatnya tampak seperti bayangan tipis yang menyatu dengan latar belakang.

Inovasi ini mengubah pendekatan tradisional dalam merancang kendaraan udara nirawak. Alih-alih menggunakan kamuflase atau cat khusus, Phantom Twist justru dirancang berdasarkan cara manusia memproses gambar bergerak. Konsep ini disebut-sebut sebagai terobosan yang belum banyak dieksplorasi oleh komunitas riset robotika global.

Menurut laporan yang diterima Telset.id, teknologi ini dipresentasikan dalam konferensi Robotics: Science and Systems 2026 di Sydney bulan ini. Meski masih dalam tahap peer review, hasil awal menunjukkan drone ini sepuluh kali lebih sulit dideteksi secara visual dibandingkan drone quadcopter konvensional.

Proses Desain Berbasis AI

Untuk menciptakan Phantom Twist, para peneliti menggunakan model komputasi yang menghasilkan sekitar 20.000 desain drone berbeda. Setiap konfigurasi komponen utama—seperti motor dan baling-baling—diatur ulang secara berulang menggunakan algoritma optimasi dan kecerdasan buatan.

“Proses desain sepenuhnya otomatis,” ujar Michael Rubenstein, profesor asosiasi ilmu komputer dan teknik mesin di Northwestern yang memimpin riset ini. “Ketika kami yakin sebuah drone memenuhi semua kriteria, barulah kami membangunnya.”

Tim kemudian menyaring konfigurasi terbaik dengan model simulasi persepsi manusia untuk mengukur seberapa terlihat setiap desain. Hanya desain dengan visibilitas paling rendah yang dipilih untuk iterasi berikutnya, hingga akhirnya ditemukan kandidat paling buram.

Hasilnya, jarak antar komponen utama Phantom Twist diatur sedemikian rupa sehingga tidak pernah membentuk pola yang jelas saat dilihat dari sudut mana pun ketika berputar. Semua itu tetap memungkinkan drone melakukan penerbangan yang stabil.

Inovasi ini mengingatkan pada perkembangan lain di dunia penerbangan otonom. Sebelumnya, Drone Tempur AS juga telah berhasil melakukan uji coba menembak rudal secara otonom, menunjukkan semakin luasnya aplikasi teknologi drone di berbagai sektor.

Potensi dan Keterbatasan

Para peneliti menyebutkan bahwa teknologi ini suatu hari nanti bisa digunakan untuk tujuan damai, seperti mengamati satwa liar. Namun, ada satu kelemahan signifikan: drone ini sangat bising. Jika ingin benar-benar digunakan untuk observasi alam, tingkat kebisingan harus dikurangi secara drastis.

“Sebagian besar upaya menyembunyikan drone berfokus pada membuatnya terlihat seperti lingkungan sekitar,” jelas Rubenstein dalam pernyataan resmi. “Sebaliknya, kami bertanya apakah kami bisa mendesain drone itu sendiri berdasarkan cara manusia mempersepsikan gerakan.”

Meskipun Phantom Twist bukan drone berputar pertama di dunia, ia adalah yang pertama dioptimalkan agar efektif tidak terlihat oleh mata manusia. Rekaman uji coba menunjukkan bahwa setelah mencapai kecepatan penuh, drone ini tampak seperti hantu UFO mini yang nyaris transparan.

Konsep desain yang revolusioner ini membuka diskusi tentang potensi penyalahgunaan teknologi serupa. Jika drone semacam ini digunakan untuk keperluan pengintaian atau bahkan pengawasan tanpa izin, dampaknya bisa sangat serius. Hal ini sejalan dengan kekhawatiran yang muncul di industri, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Kekhawatiran Investor terkait dengan teknologi mutakhir yang berpotensi disalahgunakan.

Ke depannya, pengembangan drone ini akan terus berlanjut. Tim peneliti berencana untuk mengurangi kebisingan dan meningkatkan stabilitas penerbangan. Selama itu belum tercapai, setidaknya manusia masih bisa mendengar kedatangan drone ini sebelum benar-benar melihatnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.