Telset.id – Rekor dunia untuk drone tercepat kembali pecah. Duet Ben Biggs dan Aidan Kelly dari tim Drone Pro Hub berhasil memacu drone rakitan bernama Blackbird hingga kecepatan puncak 730 km/jam (453 mph), mengalahkan rekor resmi sebelumnya. Pencapaian ini terjadi pada pengujian hari kedua, saat drone melaju searah dengan hembusan angin.
Meski demikian, rekor ini masih berstatus “tidak resmi” karena belum disertifikasi oleh Guinness World Records. Rekor resmi sebelumnya dipegang oleh tim ayah dan anak, Luke dan Mike Bell, dengan kecepatan 657,59 km/jam. Jika tim Drone Pro Hub berhasil mengulang pencapaiannya di bawah pengawasan langsung, takhta juara dunia dipastikan akan berpindah tangan.
Spesifikasi dan Teknologi Blackbird
Salah satu kunci utama kesuksesan Blackbird adalah penggunaan baling-baling (propeller) serat karbon buatan tangan. Baling-baling ini memiliki bilah (pitch) yang lebih tinggi, meski angka pastinya masih dirahasiakan. Desain tepi depan berbentuk gigi gergaji (sawtooth) juga diterapkan untuk menjaga aliran udara tetap lurus melintasi bilah, meningkatkan efisiensi aerodinamis secara signifikan.
Pada kecepatan di atas 640 km/jam, modifikasi aerodinamis sekecil apa pun memberikan perbedaan besar. Kecepatan rata-rata dua arah Blackbird tercatat di angka 685 km/jam (425,6 mph). Saat putar balik menantang arah angin, kecepatannya masih menyentuh 640 km/jam.
Baca Juga:
Uji Coba Ekstrem Penuh Risiko
Proses pengujian pemecahan rekor ini tidak berjalan mulus. Pada hari pertama, Blackbird sempat mencapai kecepatan 630 km/jam sebelum Biggs kehilangan akses umpan video (video feed). Tim menduga ada kombinasi masalah geometri antena, pergeseran Doppler, dan kelebihan beban sinyal. Drone pertama jatuh dan hancur berantakan.
Pada hari kedua, tim menggunakan unit Blackbird terakhir yang tersisa. Pengujian dilakukan di tengah embusan angin kencang mencapai 60 km/jam dan cuaca mendung. Saat berhasil menembus batas 700 km/jam, suhu baterai memuncak hingga 80 derajat Celcius. Pelindung kabel menyusut dan mulai meleleh karena sistem menarik arus sekitar 400 ampere selama 10 detik penuh.
Drone mendarat dalam kondisi mengeluarkan asap pekat. Beruntung, unitnya masih utuh dan selamat dari uji coba ekstrem tersebut. Persaingan memperebutkan gelar drone tercepat di dunia berlangsung sangat sengit. Untuk konteks lebih lanjut, teknologi Drone Hobi juga terus berkembang pesat.
Sementara itu, insiden baterai yang nyaris meledak ini mengingatkan pada risiko serius yang pernah terjadi di industri, seperti yang diulas dalam Tragedi Terra Drone. Kejadian ini menunjukkan betapa ekstremnya kondisi operasional yang harus dihadapi untuk mencapai rekor kecepatan.
Jika tim Drone Pro Hub nantinya berhasil mengulang pencapaian ini di bawah pengawasan langsung pihak Guinness, maka takhta juara dunia dipastikan akan kembali berpindah tangan, demikian dikutip detikINET dari TechSpot, Kamis (28/5/2026).





Komentar
Belum ada komentar.