Telset.id – Science Corporation resmi mengumumkan bahwa chip pemulih penglihatan mereka, PRIMA, telah ditanamkan ke pasien pertama dengan Stargardt disease. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Science Corporation, Max Hodak, di atas panggung TechCrunch Disrupt. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan yang didirikan Hodak pada 2021 setelah ia meninggalkan Neuralink, karena untuk pertama kalinya teknologi pemulih penglihatan mereka menunjukkan hasil nyata pada pasien dengan penyakit genetik yang selama ini dianggap tidak dapat disembuhkan.
Stargardt disease adalah penyakit mata turunan yang secara bertahap menghancurkan penglihatan sentral penderitanya. Penyakit ini menyerang outer retina, menyebabkan kematian bertahap sel-sel pengindera cahaya mata, sementara inner retina yang bertugas meneruskan sinyal visual ke otak berpotensi tetap utuh. Dampaknya, penderita mengalami titik buta sentral yang perlahan membesar seiring waktu. Menurut data yang disampaikan Hodak, sekitar 150.000 orang di seluruh dunia telah kehilangan penglihatan akibat penyakit ini. Angka tersebut menjelaskan mengapa keberhasilan implan PRIMA pada pasien Stargardt pertama menjadi kabar yang signifikan bagi komunitas medis dan pasien di seluruh dunia.
Pasien pertama dengan Stargardt disease tersebut menerima implan PRIMA pada Mei 2026 sebagai bagian dari uji coba yang sedang berlangsung di Sydney Eye Hospital, Australia. Pada sesi rehabilitasi pertama, pasien tersebut dapat melihat sebuah huruf. Pada sesi kedua, ia mampu membaca sebuah kata. Pencapaian ini menjadi bukti awal bahwa pendekatan Science Corporation terhadap teknologi antarmuka otak-komputer atau brain-computer interface (BCI) dapat diterapkan pada penyakit yang sebelumnya dianggap tidak dapat disembuhkan.
Cara Kerja Chip PRIMA dan Prosedur Pemasangannya
Untuk menggunakan perangkat ini, pasien harus menjalani prosedur selama satu jam yang melibatkan penanaman chip kecil di bagian belakang mata, tepat di area di mana fotoreseptor telah mengalami degenerasi. Setelah implan terpasang, pasien mengenakan kacamata yang dilengkapi kamera untuk mengirimkan pandangan dunia ke chip tersebut. Implan ini pada dasarnya bekerja seperti fotoreseptor buatan yang menggantikan fungsi sel-sel pengindera cahaya yang rusak.
Hodak menjelaskan secara rinci tentang kemampuan perangkat yang dimiliki pasien saat ini. “Perangkat yang dimiliki pasien ini adalah implan berukuran dua milimeter kali dua milimeter yang ditempatkan di bagian belakang mata, jadi rasanya seperti melihat melalui sedotan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa perangkat ini bukanlah penglihatan warna dengan bidang pandang yang luas. Sebaliknya, ini merupakan tambalan pada penglihatan sentral pasien yang menampilkan gambar hitam putih, namun tajam dan berkontras tinggi, sehingga pasien dapat melihat beberapa huruf sekaligus.
Meski hasil awal ini menjanjikan, Hodak mengakui bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan. Langkah selanjutnya adalah memperbesar bidang pandang dengan membuat implan yang lebih besar. Namun, hal ini menimbulkan tantangan teknis karena harus mempertimbangkan kelengkungan mata. Selain itu, perusahaan juga perlu membuat elektroda yang lebih kecil agar dapat mendekati tingkat detail penglihatan alami. “Saya pikir kami memiliki jalur yang jelas. Ada generasi berikutnya yang sedang dikerjakan dan akan diuji pada manusia dalam setahun ke depan, dan selama lima tahun ke depan, saya pikir kami akan bisa mendekati ketajaman penglihatan alami,” kata Hodak.

Baca Juga:
Visi Besar Science Corporation di Bidang Brain-Computer Interface
Dalam presentasinya, Hodak menempatkan PRIMA sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembangkan jenis antarmuka otak-komputer yang baru. Menurutnya, retina adalah bagian dari sistem saraf pusat. “Kami menganggap implan koklea, prostesis retina, prostesis motorik, semua ini adalah jenis BCI yang berbeda,” ujar Hodak di atas panggung. Ia menggambarkan visi di mana BCI berkembang ke berbagai aplikasi teknologi medis, bukan sekadar cara untuk mengendalikan komputer.
Pendekatan Science Corporation terhadap BCI berbeda dari perusahaan lain seperti Neuralink. Science Corporation sebelumnya menyatakan bahwa sensor mereka akan ditanamkan di dalam tengkorak dan bersandar di atas otak, berbeda dengan perangkat Neuralink yang dimasukkan langsung ke dalam jaringan otak. Perusahaan meyakini perangkat ini dapat membantu mengatasi kondisi neurologis, seperti memantau aktivitas neurologis pada pasien dengan tumor otak. Langkah ini sejalan dengan tren inovasi kesehatan yang juga terlihat pada pengembangan teknologi lain seperti headset antidepresi yang baru-baru ini masuk ke pasar Amerika Serikat.
Untuk jangka pendek, Science Corporation akan menerapkan indikasi klinis pertama mereka yang belum diumumkan secara publik, yaitu penyakit neurodegeneratif yang sudah banyak diketahui orang. Perusahaan juga sedang menjajaki penanganan stroke. Hodak menjelaskan bahwa jika seseorang kehilangan sebagian otak karena stroke, dengan menghubungkan area otak dalam di dua lokasi berbeda, maka secara teoritis dapat menambahkan area kortikal baru, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan elektroda konvensional. Namun, misi jangka panjang perusahaan ini adalah memahami bagaimana otak menciptakan pikiran dan belajar membangun otak yang direkayasa.
Hodak juga menyoroti keyakinan Science Corporation bahwa banyak orang pada akhirnya akan menggunakan semacam BCI. Meskipun perusahaan tidak merancang perangkat untuk “orang sehat berusia 40 tahun”, ia meyakini bahwa orang pada akhirnya akan membutuhkan semacam BCI pada usia 60 atau 70 tahun. “Kami ingin mencari tahu bagaimana memperpanjang bukan hanya rentang hidup, tetapi juga rentang kesehatan,” tutup Hodak. Visi ini menunjukkan bahwa Science Corporation tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup jangka panjang melalui teknologi saraf. Inovasi di bidang bioteknologi dan kesehatan ini juga menjadi bagian dari gelombang riset yang lebih luas, termasuk yang dilakukan oleh perusahaan seperti Outer Biosciences yang mengombinasikan kecerdasan buatan dengan riset biologi.
Keberhasilan implan PRIMA pada pasien Stargardt pertama ini memperkuat posisi Science Corporation sebagai pemain serius di industri BCI. Dengan perangkat yang sudah tersedia secara komersial di Eropa untuk pasien yang kehilangan penglihatan akibat geographic atrophy, bentuk lanjutan dari age-related macular degeneration, perusahaan membuktikan bahwa pendekatan mereka dapat diterapkan pada berbagai penyakit mata. Stargardt disease yang saat ini dianggap tidak dapat disembuhkan menjadi bukti berikutnya bahwa teknologi BCI memiliki potensi aplikasi yang jauh lebih luas dari yang mungkin dibayangkan banyak orang.

Bagi industri teknologi medis, langkah Science Corporation ini menunjukkan bagaimana batas antara perangkat medis dan komputer semakin tipis. Chip PRIMA bukan sekadar implan pasif, melainkan sistem yang melibatkan kamera, pemrosesan sinyal, dan stimulasi saraf secara real-time. Pendekatan ini membuka jalan bagi generasi perangkat medis berikutnya yang tidak hanya menggantikan fungsi tubuh yang hilang, tetapi juga berpotensi meningkatkan kemampuan manusia secara fundamental. Dengan uji coba yang masih berlangsung dan generasi berikutnya yang akan diuji pada manusia dalam setahun ke depan, Science Corporation berada di garis depan dalam mendefinisikan ulang apa yang mungkin dilakukan oleh teknologi antarmuka otak-komputer.





Komentar
Belum ada komentar.