📑 Daftar Isi

Monumen Stonehenge di Inggris selatan dengan latar langit senja

Batu Altar Stonehenge 6 Ton Pindah 700 Km, Kok Bisa?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Batu Altar Stonehenge dipercaya berasal dari Skotlandia timur laut, 700 km dari lokasi Stonehenge di Inggris selatan
  • Penelitian 2024 menemukan kemiripan kimia dengan Batu Pasir Merah Tua dari Cekungan Orcadian
  • Gletser membantu memindahkan batu sejauh 300 km ke Doggerland, sisanya 400 km oleh manusia
  • Anthony Clarke dari Curtin University memimpin penelitian yang dipublikasikan di Journal of Quaternary Science
  • Batu dipindahkan secara bertahap menggunakan kombinasi transportasi darat dan sungai/pantai
  • Tidak ada bukti otoritas terpusat pada saat itu, menunjukkan operasi logistik yang teliti

Telset.id – Stonehenge ada di Inggris selatan, tapi Batu Altar pusatnya dipercaya berasal dari Skotlandia timur laut, sekitar 700 km jauhnya. Kok bisa sih, padahal saat itu belum ada moda transportasi modern? Sebuah studi terbaru dari Curtin University di Australia akhirnya mengungkap mekanisme di balik perpindahan batu seberat 6 ton ini.

Pada tahun 2024, tim ilmuwan bumi menemukan bahwa Batu Altar Stonehenge tidak ditambang dari geologi lokal, maupun dari Perbukitan Preseli di Wales barat daya. Analisis kimia menunjukkan kemiripan mencolok dengan Batu Pasir Merah Tua dari Cekungan Orcadian di timur laut Skotlandia. Temuan ini langsung memicu pertanyaan besar: bagaimana batu seberat itu bisa berpindah sejauh 700 kilometer ribuan tahun lalu?

Tim peneliti pertama mengeksplorasi kemungkinan batuan tersebut dipindahkan oleh gletser. Namun, berdasarkan perhitungan mereka, skenario ini tidak masuk akal. Hampir semua gletser selama 1 juta tahun terakhir bergerak ke utara, arah yang berlawanan dengan pergerakan batuan tersebut.

Sekarang, tim lain dari Curtin University di Australia telah meneliti teka-teki ini. Dengan menggunakan penanggalan butiran mineral dan pemodelan lapisan es, mereka sepakat bahwa gletser bukanlah satu-satunya mekanisme untuk seluruh perjalanan batu tersebut.

Peran Gletser dan Manusia

Model yang dikembangkan tim peneliti menunjukkan pergerakan gletser mungkin telah membantu memindahkan bebatuan dari Skotlandia ke Doggerland. Hal itu akan mempersingkat perjalanan sekitar 300 kilometer, tetapi masih menyisakan 400 kilometer yang belum terjelaskan. Nah, hanya manusia yang dapat menjelaskan sisanya, menurut tim peneliti.

“Pemodelan kami menunjukkan gletser mungkin telah mengangkut bebatuan sebagian jalan selama Zaman Es terakhir — berpotensi sejauh Dogger Bank di Laut Utara — tetapi tidak sampai ke Inggris selatan, yang berarti batu tersebut masih perlu dipindahkan ratusan kilometer oleh manusia,” ujar Anthony Clarke dari Curtin University dalam sebuah pernyataan.

“Alih-alih dibawa secara alami oleh es, bukti menunjukkan pergerakan yang disengaja dan direncanakan dengan cermat melintasi lanskap yang menantang dan beragam,” lanjutnya.

Yang membuat temuan ini semakin luar biasa adalah tidak ada bukti adanya otoritas terpusat dan terorganisir di Inggris pada saat itu, apalagi peta dan mesin. Kemungkinan besar, ini merupakan operasi yang perlu dilakukan secara teliti dan bertahap. Sebagian besarnya berpotensi menggunakan sungai dan garis pantai untuk transportasi air, kendati demikian sebagian besar harus dilakukan melalui darat.

Implikasi Penelitian

“Mengangkut batu sebesar ini dalam jarak yang begitu jauh membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan pemahaman mendalam tentang lanskap, belum lagi tekad yang luar biasa,” tutur Clarke. “Ini menunjukkan bahwa batu tersebut kemungkinan dipindahkan secara bertahap, berpotensi menggabungkan pengangkutan darat dengan transportasi sungai atau pantai jika memungkinkan,” imbuhnya.

Studi baru ini dipublikasikan di Journal of Quaternary Science. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang kemampuan manusia prasejarah dalam hal logistik dan perencanaan, sebuah aspek yang seringkali sulit diukur dari artefak arkeologi biasa.

Penelitian ini juga membuka diskusi tentang bagaimana peradaban kuno menyelesaikan proyek-proyek monumental tanpa bantuan teknologi modern. Fungsi Port USB TV mungkin tidak relevan di sini, tapi prinsip dasarnya sama: memanfaatkan alat dan sumber daya yang ada secara maksimal.

Batu Altar Stonehenge adalah pengingat bahwa manusia prasejarah bukanlah sekadar pemburu-pengumpul sederhana, melainkan masyarakat yang mampu merencanakan dan melaksanakan proyek logistik kompleks dalam skala besar. Fakta bahwa batu tersebut dipindahkan secara bertahap menunjukkan pemahaman mendalam tentang geografi dan sumber daya alam.

Penemuan ini juga mengubah perspektif tentang hubungan antara berbagai komunitas di Inggris kuno. Jika batu dari Skotlandia bisa mencapai Inggris selatan, pasti ada jaringan pertukaran dan kerja sama yang lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.

Kesimpulannya, misteri perpindahan Batu Altar Stonehenge terjawab: kombinasi antara kekuatan alam (gletser) dan kecerdasan manusia. Ini adalah bukti bahwa inovasi dan perencanaan bukanlah monopoli peradaban modern. GTA 6 mungkin tidak bisa dimainkan sebagian gamer, tapi manusia prasejarah justru berhasil memainkan “permainan” logistik yang jauh lebih rumit tanpa bantuan komputer.

Penelitian dari Curtin University ini tidak hanya menjawab pertanyaan lama, tetapi juga membuka jalan bagi investigasi lebih lanjut tentang bagaimana masyarakat prasejarah berinteraksi dengan lingkungan mereka. Google Buka spesifikasi Fitbit Air mungkin memudahkan pembuatan band kustom, tapi inovasi manusia prasejarah dalam memindahkan batu 6 ton sejauh 700 km tetap tak tertandingi dalam hal ambisi dan eksekusi.

Dengan demikian, Stonehenge bukan hanya monumen astronomi kuno, tetapi juga monumen kecerdasan logistik manusia purba. Batu Altar yang kini berdiri di tengah lingkaran batu itu adalah bukti bisu dari perjalanan epik yang menggabungkan kekuatan alam dan tekad manusia.

Komentar

Belum ada komentar.