📑 Daftar Isi

Ilustrasi pendaratan Apollo 11 di Bulan pada 20 Juli 1969

Alasan Manusia Butuh Waktu Lama Kembali ke Bulan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Manusia terakhir menginjakkan kaki di Bulan pada Desember 1972 melalui misi Apollo 17 NASA
  • NASA baru mengumumkan kru Artemis III pada Juni 2026 dengan rencana pendaratan di Bulan pada 2027
  • Kendala utama adalah kurangnya kendaraan pendarat yang sesuai, karena Orion hanya bisa mengorbit bukan mendarat
  • SpaceX mengembangkan HLS Starship sebagai kendaraan pendarat yang akan berlabuh dengan Orion di orbit Bulan
  • Tantangan teknis termasuk pengisian bahan bakar di luar angkasa dengan 11 kapal tanker yang belum pernah dilakukan
  • NASA khawatir teknologi transfer propelan kriogenik belum matang untuk pendaratan tahun 2028
  • Administrator NASA Jared Isaacman optimis ini adalah awal masa depan eksplorasi antariksa

Telset.id – Sudah sejak Desember 1972, manusia belum kembali menginjakkan kaki di Bulan. Misi terakhir dilakukan pada misi Apollo 17 dari NASA. Hingga pada Juni 2026, NASA baru mengumumkan kru Artemis III yang direncanakan terbang ke Bulan dan menginjakkan kaki ke permukaan pada 2027. Lantas, apa yang membuat manusia butuh waktu lama untuk kembali ke Bulan?

Pada dasarnya, NASA hanya ingin memastikan keselamatan astronaut ketika tiba saatnya untuk mendarat di permukaan bulan. Tetapi bagian yang lebih besar dari masalah ini adalah kurangnya kendaraan untuk membawa manusia ke Bulan. Faktor inilah yang menjadi hambatan utama dalam program eksplorasi luar angkasa modern.

Kendala Kendaraan dan Teknologi

Melansir IFLScience, Kamis (11/6/2026), Orion membawa awak Artemis II mengelilingi Bulan, tetapi tidak pernah dirancang untuk mendarat di sana. Rencana saat ini adalah memiliki kendaraan terpisah (yang dirancang dan dibuat oleh perusahaan Elon Musk, SpaceX) yang menunggu kedatangan awak di sekitar Bulan.

“Orion akan berlabuh dengan Sistem Pendaratan Manusia (HLS) Starship milik SpaceX yang akan menunggu pesawat ruang angkasa di orbit yang membawanya relatif dekat ke Bulan setiap enam setengah hari,” jelas Badan Antariksa Eropa (ESA). Modul Layanan Eropa ESA sekali lagi akan berperan penting dalam mendukung Orion, menunjukkan peran abadi Eropa di jantung program Artemis.

“Orbit bulan baru ini disebut Orbit Halo Hampir Lurus (Near Rectilinear Halo Orbit) yang membawa wahana antariksa mendekat ke permukaan Bulan dan kemudian terbang dalam elips memanjang menjauh dari Bulan,” sambung ESA.

Ini rencana yang keren, tetapi tidak ada artinya jika tidak dapat diwujudkan. Dalam pembaruan pada bulan Maret, inspektur jenderal NASA mengatakan bahwa telah terjadi penundaan pengembangan sekitar dua tahun untuk wahana tersebut, menurut Reuters. Di antara masalahnya adalah wahana tersebut perlu diisi bahan bakar di luar angkasa oleh sekitar 11 kapal pengisian bahan bakar, yang kemudian harus berlabuh dengan HLS, dalam operasi yang belum pernah dilakukan dalam skala sebesar itu sebelumnya.

NASA saat ini khawatir bahwa teknologi untuk mentransfer propelan kriogenik ‘tidak akan cukup matang’ menjelang pendaratan tahun 2028. Masalah teknis ini menjadi salah satu alasan utama mengapa manusia butuh waktu lama untuk kembali ke Bulan.

Langkah Kecil Menuju Masa Depan

Meskipun demikian, dengan Artemis III, NASA mengambil langkah kecil lainnya menuju pendaratan di Bulan sekali lagi. Program ini menjadi momentum penting dalam sejarah eksplorasi antariksa setelah jeda lebih dari lima dekade.

“Bayangkan berapa banyak pesawat ruang angkasa, yang semuanya pada akhirnya akan membawa manusia, akan berada di orbit pada waktu yang bersamaan, dari Dragon, Shenzhou, Soyuz, mungkin Starliner, Starship, dan wahana pendarat Blue Origin,” ujar Administrator NASA Jared Isaacman.

“Ini tampak seperti awal dari masa depan yang kita bayangkan saat masih kecil. Ini tampak seperti awal mula Starfleet pertama Bumi bagi saya,” tandasnya. Pernyataan ini menggambarkan optimisme di tengah tantangan teknis yang masih membayangi misi ambisius tersebut.

Kompleksitas misi pendaratan di Bulan tidak hanya soal teknologi roket, tetapi juga logistik luar angkasa yang belum pernah diuji coba sebelumnya. Setiap elemen harus bekerja sempurna untuk menjamin keselamatan astronaut.

Dengan segala tantangan yang ada, publik masih harus menunggu hingga 2027 untuk melihat kembali jejak kaki manusia di permukaan Bulan. Sementara itu, para ilmuwan dan insinyur terus bekerja memecahkan berbagai masalah teknis yang menghambat kemajuan program Artemis.

Fakta bahwa manusia belum kembali ke Bulan selama lebih dari 50 tahun menunjukkan betapa besarnya tantangan yang harus dihadapi. Bukan hanya soal keinginan, tetapi juga kemampuan teknologi, pendanaan, dan komitmen politik yang harus selaras untuk mewujudkan misi bersejarah ini.

Komentar

Belum ada komentar.