Telset.id ā China dan Rusia secara rahasia telah menyusun rencana tiga tingkat untuk menghancurkan jaringan satelit Starlink milik Elon Musk. Rencana ini terungkap dalam dokumen bocoran hasil investigasi bersama jurnalis Insider, Der Spiegel, dan Le Monde.
Dokumen tersebut menunjukkan rencana yang disusun China dan dipresentasikan kepada perwira Rusia dalam forum rahasia pada 2023 di Guangzhou. Rencana ini mencakup tekanan diplomatik, pengacakan sinyal, serangan siber, hingga penghancuran fisik satelit Starlink di orbit.
Starlink saat ini merupakan konstelasi satelit terbesar di dunia dengan sekitar 10.400 satelit di orbit rendah Bumi per Juni 2026. Jaringan ini mencakup hampir 160 negara dan wilayah, memberikan komunikasi latensi rendah 20-40 milidetik yang seringkali lebih unggul dari sistem GEO.
Potensi penggunaan militer Starlink sempat diremehkan banyak pihak, namun jaringan ini telah menjadi tulang punggung komunikasi Ukraina dalam perang melawan Rusia. Hal ini memicu kemarahan pemerintah Rusia dan perhatian serius dari China yang telah mulai mempersiapkan skenario untuk menonaktifkan jaringan tersebut.
Rencana Tiga Tingkat China dan Rusia
Investigasi selama setahun menunjukkan bahwa kerja sama militer China-Rusia telah meluas jauh melampaui yang terlihat sebelumnya. China menegaskan kemitraan ātanpa batasā dengan Rusia masih berlaku sejak 2025.
Dalam pertemuan November 2023, pejabat militer dan insinyur China bertemu dengan perwira Rusia di Guangzhou untuk mempresentasikan rencana tiga langkah: tekanan diplomatik, pengacakan sinyal dan serangan siber, serta penghancuran fisik.
Kedua negara akan memanfaatkan pengaruh besar mereka di forum diplomatik untuk menghambat pertumbuhan Starlink melalui tekanan regulasi. Mereka juga akan berinvestasi dalam infrastruktur pengacakan elektromagnetik untuk membuat satelit yang ada tidak berguna di wilayah geografis tertentu.

Yang lebih mengkhawatirkan bagi Elon Musk dan SpaceX adalah komponen perang siber dan fisik. Rencana tersebut mencakup āspoofing akses, infeksi virus, dan eksploitasi kerentananā serta rencana untuk āmengeliminasiā satelit yang sudah ada di orbit.
Senjata Gelombang Mikro dan Protokol Moskow
Peneliti China di Northwest Institute of Nuclear Technology di Xiāan dilaporkan telah membangun senjata gelombang mikro berbasis darat yang mampu menargetkan satelit orbit rendah, menurut media lokal.
Selain itu, China dan Rusia juga menyetujui protokol terpisah yang ditandatangani pada Juni 2023 di Moskow. Protokol ini berkomitmen untuk bersama-sama membangun sistem pertahanan rudal hipersonik berdasarkan teknologi yang sebelumnya tidak pernah dibagi Rusia, bahkan dengan sekutunya.
Protokol kerja ini diperkirakan akan melampaui kemampuan yang ada, termasuk sistem S-500 milik Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa China secara aktif mendukung Rusia dalam upaya militernya.

Situasi ini menjadi rumit bagi Elon Musk dan pemerintahan AS yang mendukungnya. Musk telah mengambil sikap konsiliatif terhadap China karena Tesla sangat bergantung pada pasar China untuk penjualan, memiliki pabrik terbesar dan paling efisien di sana, serta mendapatkan persyaratan sewa dan pinjaman yang menguntungkan dari pemerintah China.
Pemerintah AS mungkin akan mengambil sikap berdasarkan kekhawatiran ākeamanan nasionalā yang bisa menimbulkan situasi tidak nyaman, mirip dengan yang terjadi pada Nvidia setelah Beijing melakukan intervensi.
Starlink mungkin merupakan bagian penting bagi pemerintah AS dan Elon Musk, namun respons keduanya terhadap rencana China untuk layanan tersebut mungkin akan sangat berbeda, mengingat apa yang dipertaruhkan bagi kedua entitas.





Komentar
Belum ada komentar.