Teori Baru Tentang Misteri Planet Ekstrasurya Menghilang

Telset.id, Jakarta  – Planet menghilang bukan hanya terjadi di Star Wars. Pada 2004, teleskop Hubble melihat sebuah planet ekstrasurya besar bernama Fomalhaut b. Namun, dalam gambar susulan, planet Ekstrasurya itu seolah menghilang ke udara.

Sekarang, para peneliti berpikir bahwa kejadian itu tidak pernah ada. Sebaliknya, planet ekstrasurya yang sebelumnya dikenal sebagai Fomalhaut b kemungkinan adalah awan debu yang menyebar, yang dihasilkan oleh tabrakan besar.

{Baca juga: Objek Diduga Alien, Ternyata Sisa dari Planet Lain}

Menurut studi baru yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (21/4/2020), tabrakan besar-besaran tersebut melibatkan dua planetesimal atau butiran debu kosmik.

Dengan kata lain, peristiwa itu hanyalah sampah ruang. Para peneliti menggambarkan apa yang dibayangkan terjadi terhadap planet yang telah lama hilang. Bertahun-tahun, planet tersebut muncul dalam gambar sebagai massa samar.

Planet itu, masih menurut para peneliti, mengorbit sekitar bintang 25 tahun jauhnya dari Bima Sakti. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, gambar memudar. Pada 2014, tidak lagi ada penampakan planet di teleskop Hubble.

Mereka percaya apa yang sebenarnya diamati dalam gambar Hubble adalah dua benda dingin bertabrakan, meninggalkan massa debu yang mengesankan yang terlihat mirip dengan sebuah planet. Para astronom melihat sisi baiknya.

“Planet ekstrasurya sepertinya memang tidak pernah ada sejak awal.  Tabrakan seperti itu sangat jarang,” terang Andras Gaspar, asisten astronom di Universitas Steward Observatory, Arizona, mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi.

Sebelumnya, ilmuwan NASA menggunakan data yang dianalisis ulang dari teleskop luar angkasa Kepler untuk menemukan planet baru ekstrasurya seukuran Bumi yang mengorbit di zona layak huni.

{Baca juga: NASA Temukan Planet Baru Layak Huni, Mirip Bumi}

Untuk keperluan misi badan antariksa, zona layak huni berarti area di sekitar bintang di mana sebuah planet dapat mendukung air. Kawasan tersebut berpotensi untuk mendukung bentuk kehidupan lainnya.

Menurut laporan New York Post, seperti dikutip Telset.id, Minggu (19/4/2020), ilustrasi NASA menunjukkan seperti apa tampilan Kepler-1649c dari permukaan. Gambar yang dihasilkan ternyata lumayan menakjubkan.

Planet baru itu ditemukan ketika para ilmuwan memeriksa pengamatan yang lebih tua dari Kepler, yang pensiun pada 2018. Pasalnya, pencarian sebelumnya menggunakan algoritma komputer salah mengidentifikasinya. [SN/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here