Penjahat Siber Lebih Proaktif Serang Objek-objek Vital

Penjahat siber

Telset.id, Jakarta – Pakar keamanan menilai jika para penjahat siber telah selangkah di depan dalam hal melakukan kejahatan. Menurut CEO Q6 Cyber, Eli Dominitz para penjahat siber jauh lebih proaktif dan kerap melakukan serangkaian aksi yang menyerang objek-objek vital.

“Orang-orang ini berada selangkah di depan Anda. Apa yang kami coba lakukan adalah mengejar orang jahat, mencari tahu siapa mereka. Apa jenis alat yang mereka gunakan? Apa jenis taktik yang mereka miliki? Siapa yang mereka targetkan? Mengapa mereka menargetkan Anda?,” kata Eli, seperti dikutip dari CBNC, Senin (24/09/2018).

“Lihatlah, Cina, Korea Utara, Iran, Rusia, mereka mengejar kita semua baik perusahaan, individu dan pemerintah,” jelasnya.

Baca Juga : Kejahatan Siber Meningkat, Orangtua Diminta Awasi Anak  

Perusahaan asal Florida, Amerika Serikat (AS) ini juga menyayangkan sikap AS dalam menangani serangan dari para penjahat siber. Mereka menilai, AS cenderung selalu dalam posisi menunggu, daripada membangun strategi keamanan siber yang proaktif.

“Untuk waktu yang lama Amerika menunggu. Mereka tidak proaktif, dan memilih bertahan. Sedangkan orang-orang ini (penjahat siber) pintar, mereka canggih, mereka menginvestasikan banyak waktu dan uang untuk mengejar kami dan kami harus bangun. Kami harus jauh lebih proaktif,” tegas Eli.

Ironisnya menurut Q6 Cyber, strategi bertahan yang dilakukan Amerika Serikat juga banyak dilakukan oleh organisasi keamanan siber yang terkenal. Rata-rata dari mereka hanya mencoba mendeteksi adanya serangan tanpa mengejar pelakunya.

Baca Juga : Perangkat Jaringan Jadi Celah Pelaku Kejahatan Siber 

“Hal yang banyak dilakukan oleh organisasi keamanan siber saat ini adalah memasang pagar tinggi (kamera dan sensor) dan mencoba mendeteksi serangan. Masalahnya ini terlalu lambat,” ucapnya

Bagi Eli, perusahaan maupun organisasi keamanan siber seharusnya proaktif. Sebagai contoh, ketika Q6 Cyber mendeteksi adanya malware Rusia yang menyerang sebuah bank di Amerika Serikat. Mereka lantas menghubungi bank terkait untuk membantunya membuat sistem keamanan.

“Anda harus pergi ke sana, Anda harus melibatkan orang-orang ini lebih awal dan memiliki kecerdasan di depan berarti Anda harus siap terlibat lebih awal,” ucap Eli.

Baca Juga : 10 Langkah Mudah Menghadapi Kejahatan Siber 

Saat ini, Q6 Cyber juga sedang memantau terkait pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat yang bakal digelar pada bulan November mendatang. Perusahaan ini membuka kesempatan bagi pemerintah untuk bekerjasama dalam hal keamanan siber.

“Pemerintah melakukan banyak hal. Kami benar-benar berkolaborasi, kami menyarankan dan kami bekerja dengan mereka, tetapi itu tidak cukup,” pungkasnya. (NM/FHP)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here