Telset.id – Pengiriman notebook global berpotensi turun pada 2027. Lembaga riset pasar TrendForce memproyeksikan penurunan sebesar low single-digit persen, dengan risiko yang bisa melebar ke high-single-digit jika kenaikan biaya komponen dibebankan ke konsumen. Pemicu utamanya bukan lagi ketersediaan komponen, melainkan melemahnya permintaan konsumen di tengah mahalnya harga CPU, DRAM, dan SSD.
Dalam laporan industri terbarunya, TrendForce menyebut produsen laptop diperkirakan meninjau ulang strategi produksi mereka. Pasalnya, biaya yang meningkat membuat produksi di luar China jadi kurang menarik secara ekonomi. Pangsa produksi notebook global di luar China diproyeksikan turun dari 24% pada 2025 menjadi 21% pada 2026, dan berpotensi di bawah 20% pada 2027.
Perubahan ini menandai pergeseran fokus masalah. Jika sebelumnya industri disibukkan oleh ketersediaan komponen, kini perhatian beralih ke melemahnya permintaan konsumen. Tren ini sejalan dengan dinamika pasar memori yang tengah bergejolak, termasuk naiknya harga DRAM cetak rekor yang menekan struktur biaya perangkat.
TrendForce menambahkan, jika harga komponen terus bertahan di level tinggi, merek berpotensi membebankan sebagian besar biaya tersebut kepada konsumen. Kondisi ini menciptakan dilema bagi produsen yang harus menyeimbangkan harga jual, spesifikasi, dan margin keuntungan secara bersamaan.
Beban Biaya CPU, DRAM, dan SSD
Pengiriman notebook sebenarnya diperkirakan masih mendapat dorongan dari perbaikan ketersediaan CPU serta langkah produsen yang menumpuk stok komponen pada 2026. Namun, TrendForce memperingatkan bahwa kondisi tersebut tidak otomatis berarti permintaan yang sehat.
Sebagian konsumen justru mempercepat pembelian perangkat lebih awal dari rencana, sebagai antisipasi terhadap kenaikan harga. Artinya, jumlah orang yang berencana membeli laptop baru pada 2027 diperkirakan lebih sedikit.
Tekanan biaya kian terasa ketika inventaris yang dibeli pada harga lebih rendah perlahan habis. Setelah itu, produsen menghadapi pilihan sulit: menyerap kenaikan biaya komponen atau membebankannya ke konsumen. Menaikkan harga ritel bisa semakin melemahkan permintaan, sementara menyerap biaya tambahan akan menekan margin keuntungan.
Produsen juga bisa mengubah spesifikasi, termasuk kapasitas memori, untuk mengendalikan biaya produksi. Langkah ini berisiko membuat produk mereka kurang kompetitif di pasar. Situasi kelangkaan memori yang memanjang turut memperkuat tekanan ini, seperti yang tergambar dalam prediksi kelangkaan memori 3 tahun yang disampaikan sejumlah pelaku industri.
Baca Juga:
TrendForce memperkirakan CPU, DRAM, dan SSD menyumbang sekitar 68% dari bill of materials (BOM) untuk notebook mainstream dengan harga manufacturer’s suggested retail price sebesar US$900 pada kuartal ketiga 2026. Angka ini menunjukkan betapa dominan peran ketiga komponen tersebut dalam menentukan struktur biaya sebuah laptop.
Karena itu, TrendForce menilai produsen tidak mungkin mempertahankan harga, spesifikasi, dan profitabilitas secara bersamaan pada 2027. Setidaknya satu dari tiga aspek tersebut harus dikorbankan.
Tekanan pada DRAM dan NAND Flash
Kenaikan biaya komponen diperkirakan terus menekan produsen. Pasokan DRAM kemungkinan tetap ketat akibat permintaan dari sektor AI. Di sisi lain, ketersediaan NAND flash berpotensi membaik pada paruh kedua 2027.
TrendForce menyebut tantangan utama terletak pada apakah konsumen mampu menyerap harga laptop yang lebih tinggi. Jika produsen berhasil menekan kenaikan harga dengan menyesuaikan spesifikasi dan menyerap sebagian biaya, pengiriman notebook bisa turun hanya sebesar persentase kecil pada 2027.
Namun, jika biaya yang lebih tinggi dibebankan sepenuhnya ke konsumen, penurunan pengiriman bisa mencapai kisaran high-single-digit. Proyeksi ini memperlihatkan bahwa keputusan produsen dalam mengelola biaya akan sangat menentukan arah pasar notebook tahun depan.
Dinamika pasar memori global juga menjadi latar penting. Konsolidasi pemain besar di sektor modul DRAM, seperti yang terlihat dari dominasi 62% pasar modul DRAM, menggambarkan betapa terpusatnya pasokan di tangan sejumlah pemain utama.
Selain itu, krisis memori yang dipicu kebutuhan AI turut merembet ke segmen lain, termasuk lonjakan harga chip NOR Flash dan SLC NAND. Efek berantai ini memperkuat gambaran bahwa tekanan biaya tidak hanya terbatas pada satu jenis komponen.

Bagi konsumen, implikasi dari proyeksi ini cukup jelas. Periode ketika laptop baru hadir dengan harga bersaing dan spesifikasi meningkat setiap tahun kemungkinan menghadapi ujian pada 2027. Produsen berada di posisi yang tidak nyaman, harus memilih antara menjaga harga tetap terjangkau, mempertahankan spesifikasi, atau melindungi margin keuntungan.
Keputusan yang diambil produsen sepanjang 2026 dan 2027 akan menentukan seperti apa lanskap pasar notebook dalam beberapa tahun ke depan. Yang pasti, menurut TrendForce, kombinasi harga, spesifikasi, dan profitabilitas yang selama ini dinikmati industri tidak lagi bisa dipertahankan sekaligus.





Komentar
Belum ada komentar.