Ilustrasi komik pencuri bertopeng dengan linggis di dalam ruang server pusat data

Pencurian Kabel Data Center Meningkat, Kerugian Capai Miliaran

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pencurian kargo pusat data AI meningkat drastis, dengan kerugian mencapai miliaran dolar.
  • Dua trailer berisi perlengkapan pusat data senilai USD 1,3 juta dicuri, termasuk kabel tembaga senilai USD 300.000.
  • Insiden terpisah mencatat hampir USD 5 juta tembaga dan elektronik lenyap dalam perjalanan.
  • US Department of Homeland Security mencatat kerugian tahunan akibat pencurian kargo mencapai USD 35 miliar.
  • Kejahatan rantai pasokan di AS dan Kanada melonjak 60 persen menjadi hampir USD 725 juta.
  • Pencurian kini lebih terkoordinasi dan menargetkan komponen bernilai tinggi seperti server, RAM, dan tembaga.

Telset.id – Gelombang pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang masif di Amerika Serikat telah memicu efek samping yang tidak terduga: lonjakan pencurian kargo bernilai tinggi. Kabel tembaga dan komponen elektronik mahal menjadi sasaran empuk para penjahat, menyebabkan kerugian yang mencapai miliaran dolar.

Laporan dari Business Insider mengungkapkan bahwa para penyelidik sedang memburu pencuri kargo yang mencuri dua trailer berisi perlengkapan pusat data senilai total USD 1,3 juta. Salah satu trailer tersebut membawa gulungan kabel tembaga senilai USD 300.000. Barang bukti berhasil ditemukan oleh aparat penegak hukum di wilayah Chicago pekan lalu, setelah trailer pertama dilaporkan hilang di Alabama. Sementara itu, trailer kedua yang membawa perlengkapan infrastruktur pusat data senilai sekitar USD 1 juta secara misterius hilang di Jacksonville, Florida. Kejadian ini mengindikasikan adanya upaya terkoordinasi untuk membawa kedua barang curian tersebut ke Illinois.

Dalam insiden terpisah yang dilaporkan oleh Canadian Press, hampir USD 5 juta senilai tembaga dan barang elektronik lenyap saat dalam perjalanan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kriminalitas terorganisir mulai menargetkan rantai pasokan industri teknologi yang sedang berkembang pesat.

Menurut laporan dari US Department of Homeland Security, pencurian kargo secara total menyebabkan kerugian sekitar USD 35 miliar per tahun. Lonjakan pembangunan pusat data AI telah menjadi berkah bagi para pencuri kargo, yang kini makin pintar mengintersepsi produk dan material berharga yang sedang dalam perjalanan. Harga komponen elektronik yang melonjak turut mendorong tren kriminal ini.

Pencurian kargo di era AI telah berubah menjadi operasi yang canggih dan terkoordinasi. Kepala operasi Verisk CargoNet, Keith Lewis, dalam pernyataannya kepada Canadian Press, mengakui bahwa para pelaku kejahatan kini sangat paham strategi. “The bad guys are good at marketing,” ujarnya. “It’s so much more strategic now, so much more targeted. They know what’s hot and they know what’s selling.”

Data dari CargoNet menunjukkan bahwa kejahatan rantai pasokan melonjak 60 persen tahun lalu di Kanada dan AS, mencapai hampir USD 725 juta. Lewis menambahkan, “With the emergence of AI data centres, you have a lot of components for those AI data centres being stolen: server racks, RAM, copper. The price goes up because the demand goes up.”

Ilustrasi komik pencuri bertopeng dengan linggis di dalam pusat data.

Sementara itu, gelombang protes publik terhadap pembangunan pusat data di berbagai wilayah AS telah menjadi isu bipartisan yang dapat memengaruhi pemilihan umum paruh waktu mendatang. Di sisi lain, para penjahat justru menyambut baik masuknya barang-barang berharga yang diangkut dalam jumlah besar.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya perkembangan teknologi AI, terdapat sisi gelap yang mengancam stabilitas rantai pasok global. Kebutuhan mendesak akan komponen seperti chip AI dan kabel tembaga telah menciptakan pasar gelap yang sangat menguntungkan, mendorong para penjahat untuk mengambil risiko besar. Ke depannya, keamanan logistik akan menjadi prioritas utama bagi perusahaan teknologi yang membangun infrastruktur AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.