Parah! TikTok Sensor Video Orang Bermuka Jelek?

Telset.id, Jakarta  – Aplikasi berbagi video TikTok menginstruksikan moderator untuk membatasi unggahan yang berisi tentang konten video orang bermuka jelek, berpostur obesitas, serta mengalami cacat.

Menurut laporan New York Post, dikutip Telset.id, Rabu (18/3/2020), instruksi tersebut tertuang dalam sebuah dokumen dan bocor ke The Intercept, publikasi online yang terkenal dengan investigasi dan analisis.

{Baca juga: Dikritik AS soal Privasi, TikTok Hadirkan Pusat Transparansi}

Selama ini, video yang dilaporkan terkena sensor oleh TikTok menampilkan subjek serius seperti gerakan militer, bencana alam, pegawai negeri sipil yang difitnah, dan materi yang mengancam keamanan nasional.

Namun, sekarang video yang menampilkan gambar yang lebih tidak berbahaya juga kena sensor TikTok. Video itu memvisualisasikan orang gemuk, orang cacat, rumah kumuh, kemiskinan di pedesaan, dan lain-lain.

Kontrol TikTok konon dilakukan untuk memastikan pertumbuhan cepat perusahaan. TikTok membantah bahwa kebijakan yang diklaim kedaluwarsa tersebut sama sekali tidak pernah digunakan secara resmi.

Akan tetapi, pedoman itu diikuti dalam beberapa bentuk hingga paling lambat akhir 2019. Dokumen kebijakan berbahasa China dan Inggris tersebut dikuatkan oleh percakapan dengan berbagai sumber internal sensor TikTok.

Moderator juga diminta untuk menyensor pidato politik secara streaming di TikTok. Sayang, TikTok tidak menjelaskan secara terang kenapa melarang video orang berwajah jelek, mengalami cacat, dan punya banyak kerutan wajah.

{Baca juga: TikTok “Dibully” Gara-gara Batasi Akses Penyandang Cacat}

Sebelumnya pada akhir tahun 2019 lali, TikTok juga mendapat kecaman karena membatasi video penyandang cacat, LGBTQ, dan penderita kelebihan berat badan. Padahal pembatasan itu dilakukan dengan niat yang baik, yakni meminimalisasi potensi intimidasi bagi para penyandang disabilitas.

Mengutip dokumen yang bocor, situs hak digital Jerman Netzpolitik.org melaporkan bahwa moderator TikTok diperintahkan untuk menandai semua video dan membatasi jangkauan para penyandang cacat atau disabilitas.

Netzpolitik.org melaporkan bahwa video LGBTQ dan orang dengan kelebihan berat badan juga ditempatkan dalam daftar “pengguna khusus”. Sama dengan penyandang cacat, jangkauan mereka pun turut dibatasi.

Menurut New York Post, seperti dikutip Telset.id, Minggu (8/12/2019), TikTok mengatakan kepada Fox News bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara. Aplikasi ini mengaku sudah melakukan perubahan kebijakan.

“Awalnya, sebagai tanggapan terhadap peningkatan intimidasi kepada aplikasi, kami menerapkan kebijakan sementara. Kami ingin membantu mengelola tren yang dinilai meresahkan,” demikian pernyataan TikTok.

Aplikasi ini banyak dikritik karena dianggap melakukan penindasan. “TikTok menerapkan kebijakan salah arah meski bertujuan melindungi penyandang cacat dari penindasan,” kata Alice Wong, pendiri Disability Visibility Project.

TikTok memang terus menjadi sorotan banyak pihak. Oktober 2019, dua senator Amerika Serikat, Chuck Schumer dan Tom Cotton, menyerukan penyelidikan ke perusahaan dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional.

{Baca juga: Anak-anak Kecanduan Main TikTok? Begini Cara Mencegahnya}

Angkatan Darat Amerika Serikat melarang tentara menggunakan TikTok karena khawatir masalah keamanan. Aplikasi yang dimiliki oleh startup teknologi ByteDance tersebut memang panen kritik lantaran membuat pengguna rentan peretasan. [SN/HBS]

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -