📑 Daftar Isi

CEO Nvidia Jensen Huang tersenyum optimis saat mengumumkan CPU Vera

Nvidia Resmi Garap Pasar CPU dengan Chip Vera

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Nvidia resmi memasuki pasar CPU melalui lini produk Vera
  • Jensen Huang klaim pasar potensial senilai USD 200 miliar
  • CPU Vera adalah chip pertama di dunia khusus untuk agentic AI
  • Nvidia telah menjual CPU Vera senilai USD 20 miliar di tahun 2026
  • CPU Vera dijual mandiri atau dibundel dengan GPU Rubin
  • Persaingan ketat dengan Intel, AMD, dan chip internal AWS
  • Nvidia hadapi tantangan geopolitik di China

Telset.id – CEO Nvidia Jensen Huang mengumumkan ekspansi besar-besaran perusahaannya ke pasar prosesor komputer (CPU) melalui lini produk terbaru bernama Vera. Langkah ini menjadi sumber pemasukan baru bagi Nvidia yang selama ini dikenal sebagai penguasa GPU (Graphics Processing Unit). Huang mengklaim telah menemukan pasar potensial senilai USD 200 miliar yang sebelumnya belum pernah tersentuh oleh Nvidia.

Pengumuman ini muncul setelah Nvidia kembali mencetak rekor pendapatan kuartalan sebesar USD 81,6 miliar dan memproyeksikan angka USD 91 miliar untuk kuartal berikutnya. Dengan modal tersebut, Huang kini membidik target raksasa baru di luar bisnis inti GPU yang selama ini menjadi andalan perusahaan.

Selama ini, pasar CPU secara historis selalu didominasi oleh perusahaan seperti Intel dan AMD. Hal ini kerap memicu kekhawatiran di kalangan analis Wall Street terkait siapa yang kelak bisa menjatuhkan dominasi Nvidia di industri semikonduktor. Persaingan di sektor chip AI memang makin memanas. Bulan lalu, Amazon Web Services (AWS) mengumumkan kontrak raksasa dengan Meta untuk pengadaan jutaan CPU AI buatan internal Amazon. CEO Amazon, Andy Jassy, dengan terang-terangan menyatakan bahwa AWS mampu membuat chip AI, baik GPU maupun CPU, yang kualitasnya setara atau bahkan lebih baik dari buatan Nvidia.

Fokus pada AI Agentic

Untuk menangkis persaingan tersebut, Nvidia menghadirkan CPU Vera yang diperkenalkan pada Maret lalu. Chip ini dijual secara mandiri maupun dibundel bersama GPU teranyar mereka, Rubin. Huang sangat yakin Vera akan menjadi motor pertumbuhan utama yang baru bagi Nvidia, karena chip ini merupakan CPU pertama di dunia yang dibuat khusus untuk agentic AI (AI agen).

“Vera membuka TAM baru senilai USD 200 miliar bagi Nvidia, sebuah pasar yang belum pernah kami garap sebelumnya, dan setiap hyperscaler serta pembuat sistem utama kini bermitra dengan kami untuk menerapkannya,” tegas Huang dalam laporan pendapatan Nvidia.

Menurutnya, perbedaan mendasar peran GPU dan CPU di era kecerdasan buatan saat ini adalah GPU berfungsi sebagai “otak” untuk memproses pemikiran atau melatih model AI, sementara CPU berfungsi sebagai “pekerja” atau agen yang mengeksekusi tugas-tugas tersebut. CPU Vera dirancang khusus untuk memproses token AI secepat mungkin. Ini sangat bertolak belakang dengan arsitektur CPU cloud klasik yang biasanya didesain dengan sistem banyak inti (cores) untuk menjalankan beberapa instansi aplikasi secepat mungkin.

Langkah Nvidia memasuki pasar CPU ini juga menarik perhatian karena sebelumnya perusahaan telah menjalin kemitraan dengan Arm dan Microsoft untuk menghadirkan era baru PC dengan chip Arm. Meskipun fokus Vera adalah untuk AI agentik, ekspansi ini menunjukkan ambisi Nvidia yang lebih luas di pasar prosesor.

Masa Depan Miliaran Agen AI

Apa yang membuat Huang begitu yakin Nvidia akan memenangkan pasar CPU khusus ini di tengah gempuran pembuat chip internal dan startup? Jawabannya ada pada pencapaian awal mereka. Huang mengklaim Nvidia telah berhasil menjual CPU Vera mandiri senilai USD 20 miliar tahun ini, dan angka tersebut baru sekadar permulaan.

“Dunia saat ini memiliki miliaran pengguna manusia. Firasat saya mengatakan bahwa kelak dunia akan memiliki miliaran agen (AI). Miliaran agen itu semuanya akan menggunakan alat, layaknya kita manusia menggunakan PC hari ini,” papar Huang.

Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa ke depannya industri teknologi akan membutuhkan jauh lebih banyak CPU untuk menopang kinerja para agen digital tersebut, demikian dikutip detikINET dari Techcrunch, Senin (1/6/2026).

Meskipun optimisme Huang sangat tinggi, tantangan tetap ada. Beberapa waktu lalu, China memblokir penjualan Nvidia RTX 5090D V2 yang membuat posisi perusahaan di pasar tersebut makin terjepit. Bahkan, pangsa pasar Nvidia di China dikabarkan anjlok ke nol persen. Namun, dengan pasar CPU senilai USD 200 miliar yang baru digarap, Nvidia tampaknya memiliki diversifikasi bisnis yang kuat untuk menghadapi tekanan geopolitik.

CEO Nvidia juga sebelumnya dikenal kerap mengkritik kebijakan PHK akibat AI yang dinilainya tidak masuk akal. Kini, dengan kehadiran CPU Vera, ia justru membuka peluang baru bagi industri untuk menciptakan lebih banyak agen AI yang pada akhirnya akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja manusia untuk mengelolanya.

Dengan pendapatan awal USD 20 miliar dari penjualan CPU Vera, Nvidia menunjukkan bahwa ekspansi ke pasar CPU bukanlah sekadar gimmick belaka. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Nvidia akan menjadi pemain utama di pasar CPU, menggeser dominasi Intel dan AMD yang sudah bertahan puluhan tahun.

Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah para hyperscaler dan perusahaan teknologi akan beralih ke CPU Vera atau tetap setia pada solusi internal mereka sendiri. Jawabannya akan terlihat dalam beberapa kuartal ke depan ketika persaingan di pasar chip AI semakin memanas.

Komentar

Belum ada komentar.