šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi gugatan New York terhadap platform prediksi pasar Kalshi atas tuduhan operasi judi ilegal

New York Gugat Kalshi atas Operasi Judi Ilegal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • New York menggugat Kalshi atas tuduhan menjalankan operasi perjudian ilegal tanpa lisensi negara bagian
  • Jaksa Agung New York Letitia James menuntut pemblokiran operasi Kalshi dan restitusi untuk pelanggan
  • Investigasi OAG menemukan Kalshi mengekspos warga New York pada risiko serius termasuk mereka di bawah usia 21 tahun
  • New York bergabung dengan Nevada, New Mexico, Arizona, dan Washington dalam menggugat Kalshi
  • CFTC mengklaim yurisdiksi eksklusif atas pasar prediksi, namun banyak negara bagian membantah
  • Kalshi menyebut gugatan sebagai "teater politik" yang justru merugikan warga New York
  • Kasus ini juga menyoroti kekhawatiran insider trading setelah operator teleprompter Trump meraup $100.000

Telset.id – New York resmi menggugat platform prediksi pasar Kalshi atas tuduhan menjalankan ā€œoperasi perjudian ilegalā€ yang melanggar hukum negara bagian. Gugatan yang diajukan Jaksa Agung New York Letitia James ini menuntut penghentian operasi Kalshi di negara bagian tersebut serta pembayaran restitusi kepada pelanggan yang telah memasang taruhan di platform tersebut.

Dalam gugatannya, Letitia James menuduh Kalshi melanggar hukum negara bagian dengan menerima taruhan tanpa lisensi dari komisi perjudian negara. Investigasi dari Kantor Jaksa Agung (OAG) menemukan bahwa Kalshi mengekspos warga New York ā€œpada risiko pribadi dan finansial yang serius,ā€ termasuk orang-orang di bawah usia legal berjudi yaitu 21 tahun, sebagaimana tercantum dalam tuntutan hukum tersebut.

Kalshi, yang berkantor pusat di New York, kini menghadapi tuntutan untuk diblokir dari beroperasi di negara bagian tersebut. Negara bagian juga meminta pengadilan untuk memerintahkan Kalshi membayar restitusi kepada pelanggan yang telah memasang taruhan di platform mereka. Langkah New York ini menambah daftar panjang negara bagian yang menggugat Kalshi, termasuk Nevada, New Mexico, Arizona, dan Washington.

Konflik Yurisdiksi Federal dan Negara Bagian

Sengketa ini menyoroti ketegangan antara otoritas federal dan negara bagian dalam mengatur platform prediksi pasar. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menyatakan memiliki ā€œyurisdiksi eksklusifā€ atas pasar prediksi, namun banyak negara bagian berpendapat bahwa otoritas ini tidak berlaku untuk taruhan olahraga.

Beberapa negara bagian seperti Wisconsin, Illinois, dan Rhode Island telah berupaya memperkenalkan undang-undang yang mengatur Kalshi dan platform prediksi pasar lainnya seperti Polymarket. Namun, upaya ini menghadapi penolakan dari pemerintah federal.

Menanggapi gugatan tersebut, Elisabeth Diana, kepala komunikasi Kalshi, menyatakan dalam pernyataan email kepada The Verge: ā€œSangat menyedihkan melihat jenis teater politik ini dari kepemimpinan di negara bagian kami sendiri. Ini juga akan merugikan warga New York, yang akan terdorong ke luar negeri.ā€

Di luar masalah hukum perjudian negara bagian, Kalshi juga memicu kekhawatiran tentang perdagangan orang dalam. Awal bulan ini, ABC News melaporkan bahwa operator teleprompter Presiden Donald Trump menghasilkan $100.000 dengan memasang taruhan di Kalshi terkait pidato-pidato Trump.

Dampak terhadap Pengguna dan Industri Prediksi Pasar

Gugatan New York ini berpotensi menciptakan preseden bagi negara bagian lain untuk mengambil tindakan serupa terhadap platform prediksi pasar. Jika Kalshi diblokir dari beroperasi di New York, pengguna di negara bagian tersebut akan kehilangan akses ke platform tersebut dan harus mencari alternatif lain.

Kalshi beroperasi di New York dengan kantor pusat di negara bagian tersebut, sehingga gugatan ini memiliki implikasi langsung terhadap operasional perusahaan. Keputusan pengadilan nantinya akan menentukan apakah platform prediksi pasar seperti Kalshi harus mematuhi regulasi perjudian negara bagian atau berada di bawah yurisdiksi eksklusif CFTC.

Perkembangan hukum ini juga relevan dengan lanskap regulasi teknologi yang lebih luas di New York. Negara bagian tersebut baru-baru ini memberlakukan moratorium data center AI selama setahun, dan juga melarang penggunaan smart glasses di seluruh pengadilan negeri bagian. Langkah-langkah regulasi ini menunjukkan pendekatan aktif New York dalam mengawasi teknologi baru.

Di sisi lain, keputusan ini juga dapat memengaruhi bagaimana perusahaan teknologi lainnya memandang New York sebagai pasar. Jika regulasi dianggap terlalu ketat, perusahaan mungkin akan berpikir dua kali sebelum beroperasi di negara bagian tersebut.

Gugatan ini masih dalam proses hukum dan belum ada keputusan final dari pengadilan. Namun, langkah New York ini menunjukkan bahwa platform prediksi pasar akan menghadapi pengawasan ketat dari regulator negara bagian, terlepas dari klaim yurisdiksi eksklusif CFTC.

Bagi pengguna platform prediksi pasar di New York, gugatan ini berarti ketidakpastian mengenai masa depan layanan tersebut di negara bagian mereka. Sementara itu, bagi industri secara keseluruhan, kasus ini akan menjadi ujian penting bagi kerangka regulasi yang mengatur platform prediksi pasar di Amerika Serikat.

Kalshi sendiri telah membantah tuduhan tersebut dan menyebut gugatan ini sebagai ā€œteater politikā€ yang justru akan merugikan warga New York dengan mendorong mereka menggunakan platform di luar negeri. Perusahaan menegaskan bahwa tindakan ini tidak akan melindungi konsumen, melainkan hanya memindahkan aktivitas ke pasar yang tidak diatur.

Perkembangan selanjutnya dari kasus ini akan menentukan bagaimana platform prediksi pasar beroperasi di masa depan, khususnya di negara bagian yang memiliki regulasi perjudian ketat seperti New York. Keputusan pengadilan juga akan memberikan kejelasan mengenai pembagian wewenang antara regulator federal dan negara bagian dalam mengawasi industri yang berkembang pesat ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.