📑 Daftar Isi

Sudarshan Kamath founder dan CEO Smallest.ai berbicara tentang pengembangan model suara real-time

Smallest.ai Kumpulkan Dana Rp200 M untuk Voice AI Real-Time

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️7 menit membaca
Bagikan:
  • Smallest.ai mengumumkan pendanaan Seri A senilai US$13 juta dipimpin Seligman Ventures
  • Total pendanaan startup mencapai lebih dari US$21 juta sejak didirikan akhir 2024
  • Perusahaan mengembangkan model suara kecil yang meniru cara manusia berpikir dan berbicara simultan
  • Model berfungsi sebagai lapisan kecerdasan real-time untuk percakapan pelanggan tanpa jeda respons
  • Smallest.ai mengalihkan pertanyaan di luar pengetahuannya ke LLM besar dengan mode tunggu singkat
  • Pelanggan saat ini termasuk RingCentral dan Truecaller
  • Perusahaan bersaing dengan ElevenLabs, Cartesia, dan Sarvam di pasar voice AI
  • Fokus utama perusahaan adalah agen suara percakapan real-time untuk enterprise

Telset.id – Startup voice AI asal India, Smallest.ai, berhasil mengumpulkan dana segar senilai US$13 juta atau sekitar Rp200 miliar dalam pendanaan Seri A. Putaran ini dipimpin oleh Seligman Ventures dengan partisipasi dari Sierra Ventures dan 3one4 Capital. Dana tersebut menjadi modal penting bagi perusahaan untuk mengembangkan model suara kecil yang dirancang mampu meniru cara manusia berpikir dan berbicara secara bersamaan.

Pendanaan ini membawa total dana yang dikumpulkan Smallest.ai menjadi lebih dari US$21 juta sejak didirikan pada akhir tahun 2024. Fokus utama perusahaan adalah menciptakan agen suara yang tidak bisa dibedakan dari percakapan manusia asli. Ambisi ini dituangkan langsung oleh Sudarshan Kamath, founder sekaligus CEO Smallest.ai, yang menyatakan bahwa perusahaan ingin modelnya mampu “menembus Turing test”.

“Kami ingin model kami menembus Turing test. Anda harus berbicara dengan model kami dan tidak tahu apakah itu AI atau manusia. Itulah satu-satunya fokus perusahaan ini,” ujar Kamath kepada TechCrunch.

Pendekatan Berbeda dari LLM Konvensional

Smallest.ai mengambil pendekatan yang berbeda dari kebanyakan perusahaan AI yang mengandalkan large language model (LLM) berukuran besar. Kamath menjelaskan bahwa cara kerja LLM saat ini adalah dengan memberikan seluruh prompt, lalu model mulai berpikir. Meskipun latensi ini masih dapat diterima dalam percakapan teks, dalam percakapan suara, jeda sesaat pun terasa tidak alami.

“Jika Anda pikirkan bagaimana kita berbicara, saya tidak memberikan Anda potongan audio yang besar, lalu Anda mulai berpikir,” jelas Kamath. Pendekatan inilah yang menjadi dasar pengembangan model suara kecil yang dirancang untuk mendengarkan, berpikir, dan berbicara secara simultan, layaknya cara manusia berkomunikasi.

Model ini berfungsi sebagai lapisan kecerdasan real-time yang memungkinkan percakapan pelanggan berlangsung alami dengan topik-topik spesifik, tanpa jeda respons yang terasa. Namun, jika model menemui topik di luar basis pengetahuannya, Smallest.ai akan mengalihkan pertanyaan ke model fundamental besar dan menempatkan pelanggan dalam mode tunggu singkat untuk “meneliti” masalah tersebut — persis seperti yang dilakukan manusia.

Kamath percaya bahwa semua agen AI akan segera bergantung pada dua model: model suara kecil untuk interaksi real-time, dan LLM “offline” yang dipanggil sesuai kebutuhan untuk memecahkan masalah kompleks. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk fokus pada nuansa spesifik suara, seperti menangani beragam aksen, mendukung puluhan bahasa, dan beroperasi di lingkungan yang bising.

Berbeda dengan model fundamental besar yang bersifat generalis, Smallest.ai memilih fokus ketat pada agen suara percakapan real-time untuk pelanggan enterprise. Pilihan ini membedakan perusahaan dari kompetitor yang menerapkan voice AI untuk kasus penggunaan seperti dubbing audio dan podcasting.

Pelanggan dan Posisi Kompetitif

Smallest.ai telah memiliki pelanggan dari perusahaan-perusahaan di bidang voice, termasuk RingCentral dan Truecaller. Kamath menyebut bahwa perusahaan layanan pelanggan mana pun, termasuk pendatang baru seperti Sierra dan Decagon, adalah calon pelanggan potensial untuk startup ini.

Ketika ditanya mengapa perusahaan layanan pelanggan yang didanai besar tidak membangun model suaranya sendiri, Kamath berargumen bahwa bagi startup layanan pelanggan, menjadi “sangat baik dalam menangani suara adalah gangguan dari bisnis inti mereka”. Pernyataan ini menegaskan posisi Smallest.ai sebagai penyedia infrastruktur voice AI khusus.

Dalam persaingan pasar, Smallest.ai bersaing dengan pemimpin voice AI ElevenLabs, serta Cartesia dan pemain regional seperti Sarvam yang fokus pada bahasa lokal. Dengan pendanaan baru ini, perusahaan siap memperkuat posisinya di segmen agen suara percakapan real-time untuk kebutuhan enterprise.

Pendekatan Smallest.ai yang meniru cara kerja otak manusia dalam memproses informasi — mendengarkan sambil berpikir — menjadi pembeda utama di tengah maraknya pengembangan AI generatif. Kemampuan untuk berinteraksi tanpa jeda yang terasa menjadi nilai jual utama bagi perusahaan yang membutuhkan layanan pelanggan berbasis suara berkualitas tinggi.

Dengan hadirnya pemain seperti Smallest.ai, industri voice AI semakin menunjukkan bahwa masa depan agen percakapan tidak hanya ditentukan oleh ukuran model, tetapi juga oleh kemampuan model untuk berperilaku seperti manusia. Fokus pada nuansa percakapan, bukan sekadar kecepatan pemrosesan, menjadi arah pengembangan yang dipilih perusahaan untuk memenangkan pasar.

Para pelanggan enterprise yang membutuhkan solusi layanan pelanggan berbasis suara kini memiliki opsi untuk menggunakan model yang dirancang khusus meniru cara manusia berkomunikasi. Smallest.ai menawarkan pendekatan yang berbeda dari sekadar mengandalkan LLM besar yang memiliki jeda respons signifikan dalam percakapan suara.

Investasi dari Seligman Ventures, Sierra Ventures, dan 3one4 Capital menunjukkan kepercayaan investor terhadap visi Smallest.ai. Total pendanaan lebih dari US$21 juta menjadi modal yang cukup bagi startup ini untuk terus mengembangkan teknologi voice AI yang berfokus pada pengalaman percakapan alami.

Ke depan, persaingan di pasar voice AI diprediksi akan semakin ketat dengan hadirnya pemain-pemain baru yang menawarkan pendekatan berbeda. Smallest.ai telah memilih jalurnya: menjadi spesialis dalam menciptakan agen suara yang tidak bisa dibedakan dari manusia, dengan target utama perusahaan layanan pelanggan di berbagai sektor.

Keputusan Smallest.ai untuk tidak membangun model besar sendiri, melainkan mengombinasikan model suara kecil dengan LLM yang dipanggil sesuai kebutuhan, menjadi strategi yang efisien. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk tetap fokus pada keunggulan intinya tanpa harus bersaing dalam pengembangan model fundamental yang membutuhkan sumber daya besar.

Bagi industri teknologi, langkah Smallest.ai menjadi contoh bagaimana startup dapat bersaing dengan pemain besar dengan memilih ceruk pasar yang spesifik. Fokus pada voice-specific nuances seperti aksen, bahasa, dan lingkungan bising membuktikan bahwa spesialisasi tetap relevan di era AI yang serba generalis.

Dengan kemampuan menangani puluhan bahasa dan beragam aksen, Smallest.ai memiliki potensi untuk melayani pasar global, termasuk Indonesia yang memiliki keragaman bahasa dan aksen yang luas. Teknologi yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi percakapan menjadi kebutuhan utama di pasar berkembang.

Pengembangan model suara yang mampu berpikir sambil berbicara membuka peluang baru dalam interaksi manusia-mesin. Teknologi ini dapat diterapkan tidak hanya untuk layanan pelanggan, tetapi juga untuk berbagai skenario yang membutuhkan percakapan natural seperti asisten virtual, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Keberhasilan Smallest.ai dalam mengumpulkan pendanaan Seri A juga menjadi indikator bahwa investor melihat potensi besar dalam teknologi voice AI yang berfokus pada pengalaman pengguna. Tren ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan interaksi yang lebih manusiawi dengan teknologi di berbagai sektor industri.

Dengan total pendanaan lebih dari US$21 juta, Smallest.ai memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkan teknologi, merekrut talenta, dan memperluas basis pelanggannya. Perusahaan menargetkan pertumbuhan di segmen enterprise dengan menawarkan solusi voice AI yang tidak hanya cepat, tetapi juga terasa alami bagi pengguna akhir.

Pernyataan Kamath bahwa semua agen AI akan segera bergantung pada dua model — model suara kecil dan LLM offline — menjadi visi yang jelas tentang arah industri. Jika visi ini terbukti benar, Smallest.ai akan berada di posisi yang menguntungkan sebagai salah satu pemain pertama yang membangun model suara khusus untuk percakapan real-time.

Bagi perusahaan layanan pelanggan yang ingin meningkatkan kualitas interaksi dengan pelanggan tanpa harus membangun teknologi sendiri, Smallest.ai menawarkan solusi yang siap pakai. Pendekatan yang berfokus pada nuansa suara dan perilaku percakapan manusia menjadi nilai tambah yang sulit ditiru oleh model LLM umum.

Pendanaan terbaru ini juga menunjukkan bahwa ekosistem startup AI di India semakin matang, dengan hadirnya pemain-pemain yang berani mengambil pendekatan berbeda dari arus utama. Smallest.ai menjadi contoh bagaimana inovasi di bidang AI tidak selalu harus datang dari model yang lebih besar, tetapi bisa berasal dari model yang lebih cerdas dan lebih fokus.

Ke depan, tekanan untuk menciptakan interaksi AI yang tidak bisa dibedakan dari manusia akan semakin meningkat seiring dengan semakin luasnya adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari. Smallest.ai telah memposisikan dirinya untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan teknologi yang dikembangkan khusus untuk percakapan suara.

Dengan dukungan investor dan fokus yang jelas, Smallest.ai siap untuk terus mengembangkan teknologi voice AI-nya. Target untuk “menembus Turing test” mungkin masih jauh, tetapi langkah yang diambil perusahaan menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan ambisi tersebut.

Keputusan untuk berfokus pada real-time conversational voice agents, bukan kasus penggunaan lain seperti dubbing atau podcasting, menunjukkan disiplin strategis perusahaan. Fokus yang ketat ini memungkinkan Smallest.ai untuk mengembangkan keahlian mendalam di bidang yang menjadi keunggulan kompetitifnya.

Bagi pasar Indonesia, kehadiran teknologi seperti yang dikembangkan Smallest.ai dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan di berbagai industri. Kemampuan model untuk menangani beragam aksen dan bahasa menjadi relevan dengan kondisi pasar lokal yang beragam.

Dengan pendanaan baru ini, Smallest.ai memiliki modal untuk mempercepat pengembangan produk dan memperluas jangkauan pasar. Persaingan di industri voice AI dipastikan akan semakin menarik dengan hadirnya pemain yang menawarkan pendekatan berbeda seperti Smallest.ai.

Keberhasilan Smallest.ai dalam mengumpulkan dana di tengah persaingan ketat industri AI menunjukkan bahwa investor masih melihat peluang besar dalam teknologi voice. Fokus pada pengalaman percakapan yang alami menjadi pembeda yang dihargai pasar.

Perusahaan kini berada di posisi yang kuat untuk mengeksekusi visinya dalam menciptakan agen suara yang tidak bisa dibedakan dari manusia. Dengan dukungan investor dan teknologi yang sedang dikembangkan, Smallest.ai siap menjadi pemain kunci di industri voice AI global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.