📑 Daftar Isi

Netflix menambahkan konten video dari berbagai publisher untuk melawan dominasi TikTok dan YouTube

Netflix Tambah Video Publisher untuk Lawan TikTok dan YouTube

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Netflix mulai uji coba konten video dari publisher besar seperti BuzzFeed Studios, Condé Nast, Hearst Magazines, People Inc., Tastemade, dan Penske Media PMX
  • Konten akan tersedia mulai 3 Agustus 2025 di AS, Kanada, Inggris, Irlandia, Australia, dan Selandia Baru
  • Durasi video bervariasi dari 2-3 menit hingga lebih dari 20 menit, mencakup format berita, lifestyle, tutorial, dan video pendek
  • Langkah ini respons terhadap laporan Bloomberg tentang kesulitan Netflix mempertahankan penggemar antar musim
  • Netflix bersaing dengan TikTok dan YouTube yang mengubah kebiasaan menonton pengguna
  • Sebelumnya Netflix sudah luncurkan fitur "Clips" bergaya TikTok untuk cuplikan pendek
  • John Derderian, VP Netflix, menyatakan kemitraan ini untuk memperdalam fandom dan memberi lebih banyak cara menikmati konten

Telset.id – Netflix mulai menguji format konten baru dengan menghadirkan video dari berbagai publisher besar seperti BuzzFeed Studios, Condé Nast, Hearst Magazines, dan Penske Media PMX. Langkah ini menjadi respons terhadap perubahan kebiasaan menonton pengguna yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di platform seperti TikTok dan YouTube.

Mulai 3 Agustus 2025, Netflix akan menawarkan konten video dari para mitra publisher tersebut kepada pelanggan di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Irlandia, Australia, dan Selandia Baru. Informasi ini dikonfirmasi langsung oleh Netflix melalui pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa lalu.

Konten yang akan hadir sangat bervariasi, mulai dari video berdurasi dua hingga tiga menit hingga yang mencapai lebih dari 20 menit. Format ini mencakup berita, gaya hidup, tutorial, dan video pendek khas web yang selama ini menjadi ciri khas platform digital.

Strategi Netflix Hadapi Perubahan Kebiasaan Menonton

Langkah ini diambil setelah laporan Bloomberg pekan ini mengungkapkan bahwa Netflix kesulitan mempertahankan penggemar di antara musim pertama dan kedua dari acara unggulan mereka. Tren ini dikhawatirkan oleh para eksekutif, meskipun penyebab utamanya sudah diketahui: tingkat pembatalan tinggi, jeda antar musim yang panjang, dan kualitas yang tidak konsisten.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa Netflix kini menghadapi pergeseran kebiasaan menonton konsumen. Platform streaming ini sekarang harus bersaing dengan YouTube dan TikTok, sama ketatnya dengan persaingan melawan jaringan TV tradisional.

Sebelumnya, Netflix sudah memperkenalkan fitur “Clips” bergaya TikTok yang memungkinkan pengguna men-scroll cuplikan pendek dari perpustakaan konten mereka. Namun, fitur Clips dirancang untuk mengarahkan penonton ke acara dan film yang lebih panjang. Sementara itu, kesepakatan dengan publisher kali ini justru membawa konten pendek sebagai entitas mandiri di platform.

Menurut Netflix, langkah ini merupakan cara berisiko rendah untuk menguji apakah penonton mereka memiliki selera terhadap konten yang biasanya asli di web. Jika berhasil, Netflix bisa membangun konten serupa secara internal di masa depan, meskipun perusahaan belum menyatakan itu sebagai rencana resmi.

Daftar Konten dan Mitra Publisher

Lineup konten yang akan hadir mencakup serial berlisensi arsip maupun seri baru dari berbagai brand ternama. Beberapa di antaranya termasuk BuzzFeed Celeb’s “30 Questions” dan “Tasty”, Vanity Fair’s “Lie Detector Test” dan “How Well Do They Know Each Other?”, AD’s “Walking Tour”, Elle’s “Where Is the Lie?”, Harper’s Bazaar’s “Burning Questions”, Billboard’s “24 Hours”, People’s “My Life in Pictures”, Travel + Leisure’s “Travel Unfiltered”, serta Tastemade’s “Struggle Meals”.

Netflix menyatakan bahwa publisher lain akan ditambahkan seiring waktu. Kesepakatan ini mencakup berbagai brand dari Penske Media PMX seperti Variety, THR, Billboard, Eater, Rolling Stone, dan IndieWire.

John Derderian, VP of Animation Series + Kids & Family TV Netflix yang mengawasi proyek ini, menyatakan, “Anggota tidak hanya ingin menonton acara atau film dan melanjutkannya — mereka ingin terus menjelajahi cerita dan kepribadian yang mereka cintai lama setelah kredit akhir bergulir. Kemitraan ini membantu kami memperdalam fandom dan menciptakan lebih banyak cara bagi anggota untuk membawa cerita-cerita itu bersama mereka sepanjang hari.”

Pernyataan Derderian ini menegaskan bahwa Netflix tidak lagi hanya mengandalkan model binge-watching yang dulu menjadi ciri khas mereka. Perusahaan kini lebih fokus pada pengalaman menonton yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari pengguna.

Langkah Netflix menghadirkan konten dari publisher ini juga menunjukkan bahwa platform streaming tersebut mulai mengadopsi strategi yang mirip dengan platform berbagi video. Dengan menghadirkan konten pendek dari brand-brand besar, Netflix berharap dapat mempertahankan pengguna yang sebelumnya mungkin beralih ke TikTok dan YouTube untuk konten cepat dan ringan.

Keputusan ini juga relevan dengan tren industri yang menunjukkan bahwa konsumen semakin menginginkan fleksibilitas dalam konsumsi konten. Mereka tidak lagi terikat pada format panjang yang membutuhkan komitmen waktu besar, melainkan lebih memilih konten yang bisa dinikmati dalam waktu singkat namun tetap informatif dan menghibur.

Meskipun Netflix belum mengungkapkan rencana ekspansi ke negara lain selain enam negara yang disebutkan, langkah awal ini akan menjadi indikator penting apakah strategi baru ini layak diterapkan secara global. Jika respons positif, bukan tidak mungkin konten dari publisher akan hadir di pasar Asia termasuk Indonesia dalam waktu dekat.

Bagi para kreator konten dan publisher, kesepakatan ini membuka peluang baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas melalui platform streaming terbesar di dunia. Sementara bagi Netflix, ini adalah eksperimen penting untuk tetap relevan di tengah persaingan ketat dengan platform digital lainnya.

Perubahan kebiasaan menonton yang didorong oleh TikTok dan YouTube memang model binge Netflix dipertanyakan. Dengan langkah terbaru ini, Netflix menunjukkan bahwa mereka siap beradaptasi dan tidak terjebak pada satu format konten saja.

Yang menarik, Netflix juga sebelumnya telah bereksperimen dengan berbagai jenis konten lain seperti konten langsung, video game, dan video podcast. Penambahan konten dari publisher ini menjadi langkah terbaru dalam diversifikasi format yang ditawarkan platform streaming tersebut.

Dengan pendekatan ini, Netflix tidak hanya bersaing dalam hal kuantitas konten, tetapi juga dalam variasi format yang bisa dinikmati pengguna kapan saja dan di mana saja. Ini sejalan dengan visi Derderian tentang menciptakan cara bagi anggota untuk membawa cerita favorit mereka sepanjang hari.

Ke depannya, keberhasilan inisiatif ini akan sangat bergantung pada bagaimana pengguna merespons konten-konten pendek dari publisher di platform yang selama ini identik dengan serial dan film panjang. Apakah pengguna Netflix akan menerima format baru ini atau justru lebih memilih konten orisinal khas Netflix, waktu yang akan menjawab.

Yang jelas, langkah ini menandai babak baru dalam evolusi Netflix sebagai platform hiburan. Dari sekadar penyedia serial dan film, Netflix kini bertransformasi menjadi ekosistem konten yang lebih beragam dan adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen.

Dengan persaingan yang semakin ketat di industri streaming, keputusan untuk menghadirkan konten dari publisher ini bisa menjadi strategi kunci untuk mempertahankan pangsa pasar dan menarik pengguna baru yang sebelumnya mungkin kurang tertarik dengan format konten tradisional Netflix.

Netflix tampaknya memahami bahwa masa depan streaming tidak hanya tentang siapa yang memiliki konten orisinal terbanyak, tetapi juga siapa yang paling mampu memahami dan mengakomodasi kebiasaan menonton pengguna yang terus berubah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.