Minyak Mahal, Renault-Nissan Serius Garap Baterai Mobil Listrik

FILE PHOTO: Carlos Ghosn, Chairman and CEO of the Renault-Nissan Alliance, smiles before an interview during the 87th International Motor Show at Palexpo in Geneva, Switzerland, March 7, 2017. REUTERS/Denis Balibouse/File Photo

Telset.id, Jakarta – Renault-Nissan dan Daimler berencana memperluas kerja sama dalam pengembangan teknologi baterai dan mobil otonom alias tanpa pengemudi. Kedua perusahaan juga bersinergi mengembangkan layanan mobilitas lain.

“Industri sedang dalam masa transformasi. Kami fokus mengembangkan mobil otonom dan layanan terhubung,” kata Chief Executive Renault-Nissan, Carlos Ghosn, saat menggelar konferensi pers, Rabu (3/10/2018) waktu setempat, dilansir Reuters.

Chief Executive Daimler, Dieter Zetche, menilai, kerja sama pengembangan baterai dan mobil otonom akan menjadi keuntungan bagi perusahaan untuk mengejar inovasi sekaligus menerapkan temuan yang digagas oleh tim peneliti kedua perusahaan.

Ia menyebut, industri kini tengah mencari baterai yang lebih baik untuk keperluan mobil listrik. Selain itu, industri otomotif sedang mengalami peningkatan permintaan untuk mobil listrik sebagai kendaraan solutif bagi publik pada masa mendatang.

Baca juga: Nissan dan Honda Bakal Buat Mobil Listrik di Thailand

“Harga minyak kian tinggi. Semakin banyak konsumen yang ingin memiliki mobil listrik. Namun, suplai baterai untuk kendaraan listrik masih terbatas. Jadi, kami sepakat untuk bermitra mengembangkan baterai yang andal,” tambah Dieter Zetche.

Akhir-akhir ini, produsen kendaraan memang sedang berlomba memproduksi mobil listrik untuk keperluan masa depan. Mercy, VW, Suzuki, Nissan, dan Honda bakal telah memulai proyek kendaraan listrik dengan menerapkan teknologi termutakhir.

Baca juga: Keren! Mobil Listrik BMW Bisa Isi Daya Tanpa Kabel

Nissan dan Honda bahkan memastikan akan membuat mobil listrik di Thailand. Mereka sudah mendapat restu dari pemerintah Negeri Gajah Putih untuk rencana investasi senilai total 29,63 miliar baht atau USD 888,2 juta atau mencapai Rp 12,8 triliun.

Sumber: Reuters

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here