📑 Daftar Isi

Ilustrasi gedung kantor Microsoft dan program voluntary exit offer bagi 60.000 karyawan

Microsoft Tawarkan Buyout ke 60.000 Karyawan, Ini Alasannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Microsoft menawarkan voluntary exit offer atau buyout sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan
  • Karyawan di AS, Kanada, India, dan Inggris pada level VP ke bawah memenuhi syarat
  • Tim data center, penjualan, dan pemasaran dikecualikan dari program
  • Penawaran tidak didasarkan pada usia, masa kerja, atau performa
  • Berbeda dari program pensiun sukarela sebelumnya yang hanya untuk 9.000 karyawan
  • Datang setelah PHK 4.800 karyawan yang berdampak pada Xbox dan penjualan komersial

Telset.id – Microsoft menawarkan program voluntary exit offer atau buyout sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan di Amerika Serikat, Kanada, India, dan Inggris. Langkah ini menjadi cara perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja tanpa menempuh pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, sekaligus upaya merombak komposisi karyawan untuk kebutuhan AI.

Penawaran ini disampaikan langsung oleh Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, melalui memo kepada karyawan pada Senin. Menurut laporan Business Insider dan Bloomberg, karyawan pada level vice president ke bawah di tim terpilih memenuhi syarat untuk mengikuti program ini. Beberapa kelompok karyawan, termasuk yang bekerja di data center, penjualan, dan pemasaran, dikecualikan dari penawaran tersebut.

Kepada The Verge, sumber yang memahami situasi menyebut karyawan di berbagai tim Microsoft memenuhi syarat untuk menerima tawaran keluar sukarela. Tim tersebut mencakup AI experiences, Copilot, CoreAI, Windows + Devices, Xbox, keuangan, dan sumber daya manusia. Sementara itu, tim cloud + AI, MicrosoftAI, serta corporate, external, and legal affairs hanya berpartisipasi sebagian. Adapun karyawan di tim marketing, commercial business, discovery and quantum, dan security tidak ikut berpartisipasi.

Isi Penawaran dan Alasan Microsoft

Dalam memonya, Amy Coleman menyatakan bahwa program ini memberi karyawan “kesempatan untuk meninggalkan Microsoft dengan dukungan finansial dan sumber daya perencanaan karier.” Ia juga menegaskan bahwa voluntary exit offer merupakan pendekatan baru bagi Microsoft.

“The Voluntary Exit Offer is new for us. Kami akan belajar dari ini. Pada saat yang sama, kami akan terus membantu orang-orang fokus pada pekerjaan yang paling penting, membangun keterampilan baru, dan, jika masuk akal, menemukan peluang baru di seluruh Microsoft. Tidak ada pendekatan one-size-fits-all untuk setiap tim atau setiap karyawan,” tulis Coleman dalam memo tersebut.

Dalam catatan yang diposting di situs HR internal Microsoft dan dilihat The Verge, perusahaan menyatakan bahwa penawaran hari ini tidak didasarkan pada usia, masa kerja, atau performa. Microsoft juga menyebut mungkin akan mempertimbangkan voluntary exit offer di masa depan “di mana ada kebutuhan bisnis dan tenaga kerja.”

Karyawan yang memilih menerima penawaran ini akan menerima benefit serupa dengan paket pesangon standar. TechCrunch melaporkan bahwa Microsoft tidak segera merespons permintaan komentar terkait program buyout ini.

Beda dengan Program Buyout Sebelumnya

Penawaran ini berbeda dari program pensiun sukarela yang Microsoft tawarkan kepada karyawan senior pada awal tahun ini. Program sebelumnya hanya tersedia bagi sekitar 9.000 karyawan, khusus untuk karyawan AS pada level tertentu yang total masa kerja ditambah usia mencapai 70 tahun atau lebih. Menurut laporan, lebih dari 30% dari sekitar 8.750 pekerja yang memenuhi syarat menerima tawaran tersebut.

Langkah buyout ini juga datang beberapa bulan setelah Microsoft melakukan PHK terhadap 4.800 karyawan, yang terutama berdampak pada tim Xbox dan penjualan komersial. Menurut laporan Fortune, CEO Xbox Asha Sharma juga merencanakan putaran PHK baru. Penawaran keluar sukarela ini tidak menyasar tim penjualan komersial Microsoft.

Di sisi lain, Microsoft terus memperluas langkahnya di sektor keamanan dan AI. Perusahaan baru-baru ini membongkar jaringan phishing global yang membuat 1 miliar pesan malicious dihentikan. Microsoft juga membekukan YAM Store dalam operasi terhadap jaringan phishing yang merugikan 150 negara, sebagaimana diberitakan dalam laporan YAM Store dibekukan. Sementara di ranah perangkat lunak, Denmark sempat menghentikan uji coba Collabora sebagai alternatif Microsoft Office, seperti diulas dalam artikel uji coba Collabora.

Dengan sekitar 60.000 karyawan yang memenuhi syarat, program voluntary exit offer menjadi salah satu langkah restrukturisasi tenaga kerja terbesar Microsoft dalam upaya menekan biaya sekaligus menyiapkan organisasi untuk kebutuhan AI. Perusahaan menegaskan bahwa penawaran ini bersifat sukarela dan tidak menargetkan karyawan berdasarkan kriteria usia, masa kerja, atau performa.

[ META_DESCRIPTION]
Microsoft menawarkan voluntary exit offer atau buyout sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan di AS, Kanada, India, dan Inggris untuk efisiensi tenaga kerja.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.