Matahari Lagi “Lockdown”, Siap-siap Cuaca Beku dan Gempa

Matahari lockdown

Telset.id, Jakarta  – Menurut para ilmuwan, matahari kita telah terkunci, memasuki periode “lockdown”, yang dapat mengakibatkan cuaca beku, gempa bumi, dan kelaparan.

Seperti dilansir New York Post, para ilmuwan menyebut matahari saat ini berada dalam periode lockdown atau fase “minimum”, yang berarti aktivitas di permukaannya telah turun secara dramatis.

Para ahli percaya bahwa kita akan memasuki periode terdalam dari “resesi” sinar matahari. Astronom Dr Tony Phillips mengatakan, solar minimum sedang berlangsung dalam.

{Baca juga: Matahari Ternyata Tak Seaktif Bintang, Baguskah Buat Bumi?}

“Hitungan Sunspot menunjukkan satu yang terdalam pada abad ini. Medan magnet matahari menjadi lemah, memungkinkan sinar kosmik ekstra ke tata surya,” ujarnya.”

Kelebihan sinar kosmik menimbulkan bahaya kesehatan bagi para astronot dan perubahan udara kutub, memengaruhi elektro-kimia atmosfer atas Bumi dan membantu memicu petir.

Dalton Minimum

Ilmuwan NASA khawatir hal itu bisa menjadi pengulangan Dalton Minimum, yang terjadi antara 1790 dan 1830, yang mengarah ke periode dingin yang ekstrim, gagal panen yang mengakibatkan bencana kelaparan.

Seperti dikutip Telset.id, Minggu (17/5/2020), saat itu suhu merosot hingga 2 derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit) selama 20 tahun, menghancurkan produksi pangan dunia.

{Baca juga: Bukan Lagi Misteri, Ternyata Begini Rupa Permukaan Matahari}

Pada 10 April 1815, letusan gunung berapi terbesar kedua dalam 2.000 tahun terjadi di Tambora di Indonesia. Bencana alam yang menewaskan sedikitnya 71.000 orang itu dianggap sebagai bagian dari efek Dalton Minimum saat itu.

Hal itu juga mengakibatkan apa yang disebut Tahun Tanpa Musim Panas pada 1816. Hal tersebut juga dijuluki “delapan ratus ratus mati sampai mati” ketika ada salju di bulan Juli.

Bintik Matahari

Menurut data yang dirilis Spaceweather.com, bahwa di tahun 2020 sudah ada 100 hari yang memperlihatkan nol bintik matahari. Disebutkan di tahun ini, matahari telah mengalami kekosongan tanpa bintik sebesar 76 persen.

Sementara pada tahun 2019 lalu, matahari sempat mengalami kekosongan sebesar 77 persen. Dua tahun berturut-turut terjadi sedikit bintik matahari bisa mengakibatkan minimum matahari semakin parah.

{Baca juga: Foto Matahari Beresolusi Tinggi Dirilis NASA, Hasilnya Bikin Takjub}

Sebagai informasi, bintik matahari atau sunspot adalah area aktivitas magnet di permukaan matahari. Sunspot muncul sebagai area gelap yang menjadi indikasi aktifitas matahari, melahirkan semburan matahari dan coronal mass ejections atau lontaran massa korona matahari.

Meski terlihat bintik matahari seperti hanya kecil, akan tetapi sebenarnya bintik tersebut berukuran sangat besar. Para ilmuwan telah menghitung bintik matahari sejak tahun 1838, sebagai acuan membaca siklus matahari dengan melihat aktifitas permukaannya. [SN/HBS]

 

SOURCENew York Post
Previous articleBeli Giphy, Facebook Bakal Bikin Instagram Lebih Seru
Next articleChrome akan Lindungi Pengguna dari “Iklan Sedot Kuota”

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here