Makin Populer, Layanan Streaming Kuasai Pendapatan Industri Musik

Industri musik
Foto: Thomas Trutschel/Photothek via Getty Images

Telset.id, Jakarta – Selama bertahun-tahun, industri musik masyarakat telah berubah. Dulu, orang-orang mendengarkan musik di vinyl, kemudian pindah ke kaset, dan lalu pindah ke CD, sampai akhirnya dengar musik via layanan streaming macam Spotify, Apple Music, dan lainnya.

Baru-baru ini, laporan statistik terbaru diterbitkan Asosiasi Industri Rekaman Amerika Serikat. Dalam laporannya, asosiasi tersebut mengatakan bahwa layanan streaming musik disukai banyak orang, bahkan kalau dibandingkan dengan jumlah pengguna yang suka mengunduh musik dari situs internet.

Menurut statistik terbaru Asosiasi Industri Rekaman Amerika, layanan streaming kini menguasai 79 persen pendapatan industri musik. Performa tersebut sangat jauh berbeda dibanding sekitar satu dekade lalu.

{Baca juga: Lagu “Superblood Wolfmoon” dari Pearl Jam Bisa Diputar via AR}

Menurut Ubergizmo, seperti dikutip Telset.id, Kamis (27/02/2020), pada 2009 layanan streaming hanya menyumbang lima persen pendapatan di industri musik. Sementara untuk media fisik mendominasi dengan 59 persen.

Kontradiktif, saat ini media fisik hanya menyumbang 10 persen pendapatan. Unduhan digital juga merosot tajam dengan persentase pendapatan delapan persen ketimbang 34 persen pada sepuluh tahun silam.

{Baca juga: Punya 271 Juta Pengguna, Spotify Masih Rugi Rp 1,1 Triliun}

Menurut Ketua dan CEO RIAA, Mitch Glazier, industri musik tidak beralih ke digital. Ia tahu betul perkembangannya lantaran menjadi sosok yang kali pertama menekuni bisnis musik secara digital di dunia.

Laporan ini mencerminkan prospek masa depan. Tapi, intinya adalah bagaimana semua musik dihargai dan pencipta dikompensasi secara adil. “Publik belum menyadari nilai musik di layanan digital,” ujarnya. (SN/MF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here