📑 Daftar Isi

Tampilan Google Maps di ponsel menunjukkan perubahan nama Lake Ontario menjadi Lake America

Lake Ontario Resmi Berganti Nama Jadi Lake America di Google Maps

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Google Maps mengubah nama Lake Ontario menjadi Lake America untuk pengguna di AS berdasarkan executive order Presiden Trump
  • Pengguna di Kanada tetap melihat Lake Ontario, sementara pengguna di luar AS-Kanada melihat kedua nama
  • Perubahan nama terkait ketegangan tarif perdagangan antara AS dan Kanada
  • Pemerintah Kanada memasang papan tanda "Lake Ontario. Now and Always" sebagai respons
  • Gubernur New York Kathy Hochul menyatakan tidak akan menggunakan nama baru tersebut
  • Google menyatakan wajib mengikuti kebijakan resmi pemerintah dan US Board on Geographic Names
  • Apple Maps belum menerapkan perubahan serupa namun diperkirakan akan mengikuti kebijakan pemerintah

Telset.id – Google Maps kini menampilkan perubahan nama baru yang kontroversial: Lake Ontario, danau besar di perbatasan AS-Kanada, secara resmi berganti nama menjadi Lake America bagi pengguna di Amerika Serikat. Perubahan ini merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif (executive order) yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump, menyusul kontroversi serupa terkait penggantian nama Teluk Meksiko sekitar 18 bulan lalu.

Menariknya, perubahan nama ini tidak berlaku global. Pengguna Google Maps di luar wilayah AS masih akan melihat nama asli Lake Ontario seperti yang telah digunakan sejak abad ke-17. Sementara itu, pengguna di Kanada tetap melihat nama Ontario, dan pengguna di luar kedua negara tersebut akan melihat kedua nama sekaligus. Kebijakan ini memicu beragam reaksi, mulai dari kritik tajam hingga dukungan terhadap kepatuhan Google pada kebijakan resmi pemerintah.

Nama “Ontario” sendiri kemungkinan besar berasal dari kata Iroquoian Kaniatarí:io atau Oniatarí:io yang berarti “danau air bersinar” atau “danau yang indah”. Pergantian nama ini terjadi di tengah ketegangan antara Presiden Trump dan Kanada terkait tarif perdagangan. Sebagai respons, otoritas Kanada telah memasang papan tanda baru di lokasi danau tersebut dengan tulisan “Lake Ontario. Now and Always” (Lake Ontario. Sekarang dan Selalu), sebagaimana dilaporkan oleh BBC.

Google Maps on a phone being held in someone's hand

Reaksi publik di media sosial, khususnya Reddit, sebagian besar mengecam keputusan ini dengan menyebutnya “benar-benar konyol” dan “braindead”. Namun, sebagian komentator lain menunjukkan bahwa Google sebenarnya wajib mengikuti arahan dari US Board on Geographic Names yang merupakan bagian dari United States Geological Survey. Google sendiri telah memberikan pernyataan resmi mengenai kebijakan ini.

Kebijakan Resmi Google Terkait Nama Tempat

Google menegaskan bahwa pihaknya harus mengikuti “sumber resmi pemerintah” dalam hal penamaan tempat. Dalam pernyataannya, Google menjelaskan bahwa “pembaruan ini mengikuti kebijakan jangka panjang kami untuk badan air dengan nama yang berbeda-beda antar negara, dan mulai diterapkan sekarang”. Pernyataan ini dirilis melalui blog resmi Google Maps sebagai bentuk transparansi atas perubahan yang dilakukan.

Menurut blog resmi Google Maps, “Orang yang menggunakan Maps di AS akan melihat ‘Lake America’, mereka yang berada di Kanada akan terus melihat ‘Lake Ontario’, dan mereka yang berada di luar AS dan Kanada akan melihat kedua nama tersebut.” Kebijakan ini dirancang untuk mengakomodasi perbedaan penamaan resmi di masing-masing negara, meskipun menimbulkan kebingungan bagi sebagian pengguna.

Meskipun Google telah mengambil sikap untuk mengikuti kebijakan pemerintah, tidak semua pihak sepakat dengan perubahan ini. Gubernur Negara Bagian New York, Kathy Hochul, melalui media sosial menyatakan bahwa “New York tidak akan menyebutnya [Lake America]”. Pernyataan ini menunjukkan adanya resistensi dari tingkat negara bagian terhadap kebijakan federal yang diimplementasikan melalui platform digital seperti Google Maps.

Apple Maps on an iPhone

Dampak pada Platform Lain

Hingga saat ini, perubahan nama tersebut belum diterapkan di Apple Maps. Namun, banyak pihak memperkirakan bahwa platform milik Apple tersebut pada akhirnya juga harus mengikuti kebijakan pemerintah resmi dan mulai mengganti nama Lake Ontario tergantung pada lokasi pengguna saat melihat peta. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan penamaan geografis dapat berdampak luas pada berbagai platform digital.

Kontroversi penamaan ini menambah daftar panjang perdebatan terkait kebijakan geografis yang dipengaruhi oleh keputusan politik. Sebelumnya, penggantian nama Teluk Meksiko juga menuai kontroversi serupa dan menjadi sorotan media internasional. Kini, Lake Ontario menjadi contoh terbaru bagaimana keputusan politik dapat memengaruhi tampilan peta digital yang digunakan jutaan orang setiap hari.

Kebijakan Google untuk mengikuti arahan pemerintah dalam penamaan tempat sebenarnya bukan hal baru. Perusahaan teknologi ini memiliki kebijakan jangka panjang yang mengharuskan kepatuhan terhadap sumber resmi pemerintah dalam hal penamaan geografis. Kebijakan ini berlaku untuk berbagai badan air dan fitur geografis lainnya yang memiliki nama berbeda-beda antar negara, termasuk danau, sungai, dan gunung yang melintasi batas wilayah.

Bagi pengguna di Indonesia, perubahan nama ini mungkin tidak berdampak langsung pada penggunaan Google Maps sehari-hari. Namun, kebijakan ini menunjukkan bagaimana platform digital global harus menavigasi perbedaan kebijakan antar negara. Pengguna di Indonesia yang membuka Google Maps untuk melihat wilayah Danau Ontario akan melihat kedua nama tersebut, yaitu “Lake America” dan “Lake Ontario”, sesuai dengan kebijakan yang berlaku untuk pengguna di luar AS dan Kanada.

Keputusan ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana platform digital lainnya akan merespons kebijakan serupa di masa depan. Dengan semakin banyaknya keputusan politik yang memengaruhi penamaan geografis, platform seperti Google Maps dan Apple Maps perlu memiliki strategi yang jelas untuk mengakomodasi perbedaan kebijakan antar negara tanpa mengorbankan akurasi informasi bagi penggunanya.

Reaksi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah negara bagian, menunjukkan bahwa perubahan nama ini tidak akan berjalan mulus tanpa adanya resistensi. Gubernur New York Kathy Hochul menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menolak perubahan ini, dengan menyatakan bahwa negara bagiannya tidak akan menggunakan nama baru tersebut. Sikap ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan federal di tingkat lokal tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Dari perspektif teknologi, perubahan ini juga menunjukkan bagaimana platform digital harus beradaptasi dengan cepat terhadap kebijakan pemerintah. Google Maps, sebagai salah satu platform peta paling populer di dunia, harus mampu memperbarui data geografisnya secara real-time sesuai dengan kebijakan terbaru. Hal ini menuntut sistem yang fleksibel dan responsif terhadap perubahan kebijakan di berbagai negara.

Meskipun kontroversial, keputusan Google untuk mengikuti kebijakan pemerintah AS dalam penamaan Lake Ontario dapat dipahami sebagai upaya untuk mematuhi regulasi yang berlaku. Sebagai perusahaan yang beroperasi di berbagai negara, Google harus menyeimbangkan antara kepatuhan terhadap kebijakan lokal dengan kebutuhan untuk menyediakan informasi yang akurat dan konsisten bagi pengguna di seluruh dunia.

Ke depannya, perubahan nama ini mungkin akan menjadi preseden bagi kebijakan penamaan geografis lainnya di platform digital. Baik Google Maps maupun platform lainnya perlu mempertimbangkan dampak dari setiap perubahan nama terhadap pengalaman pengguna, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah yang nama geografisnya diubah. Transparansi dan komunikasi yang jelas dari pihak platform menjadi kunci untuk mengurangi kebingungan di kalangan pengguna.

Bagi pengguna yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang perubahan ini, Google telah menyediakan penjelasan melalui blog resmi Google Maps. Sementara itu, perkembangan terbaru mengenai kebijakan ini dapat dipantau melalui berbagai sumber berita teknologi dan media internasional yang melaporkan secara berkelanjutan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.