Kesepakatan ByteDance-Oracle Soal TikTok Dijegal FBI

Telset.id, Jakarta  – Kesepakatan antara ByteDance dan Oracle soal akuisisi operasional TikTok di Amerika Serikat (AS) ternyata menghadapi rintangan. Mereka harus meyakinkan FBI agar kesepakatan tak gagal.

Perusahaan perangkat lunak Oracle akan menjadi “penyedia teknologi tepercaya” untuk ByteDance, raksasa teknologi China di balik aplikasi populer TikTok. Oracle akan menjadi “pereda” kemarahan pemerintahan Trump.

{Baca juga: ByteDance Pilih Oracle Jadi Mitra TikTok di AS}

Sayang, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (15/9/2020), TikTok maupun Oracle tidak mengungkap rincian substantif mengenai kesepakatan pembelian operasional sekaligus aset TikTok di Negeri Paman Sam.

Oracle diharapkan mengelola data pengguna TikTok di AS dan mengambil saham operasional tanpa menjadi pemilik langsung. Kesepakatan itu juga menyerukan pembentukan sebuah perusahaan baru yang berbasis di AS.

“Perusahaan tersebut kabarnya bernama TikTok Global dengan 20.000 pekerjaan baru,” tegas Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin. Ia menambahkan bahwa FBI akan meninjau proposal mereka pada minggu ini.

“Mereka telah memilih Oracle. Kami akan meninjaunya dengan tim teknis mereka. Tujuannya untuk melihat apakah mereka dapat membuat representasi yang kami butuhkan,” kata Mnuchin setelah ByteDance menolak Microsoft.

{Baca juga: Trump Perintahkan ByteDance Jual Semua Aset TikTok di AS}

Mnuchin mengatakan, FBI memiliki “banyak kepercayaan” kepada Oracle. Perusahaan telah membuat “banyak pernyataan” akan mengatasi masalah keamanan nasional, termasuk kekhawatiran data pengguna.

Sebelumnya dikabarkan ByteDance akan menggandeng Oracle sebagai mitra TikTok. Tetapi dalam kemitraan itu tidak termasuk kode sumber TikTok. Informasi tersebut disampaikan oleh media lokal South China Morning Post.

Satu alasan kenapa perusahaan mengakuisisi perusahaan lain adalah teknologinya. Namun, tampaknya, siapa pun yang membeli TikTok mungkin benar-benar tidak akan mendapatkan keuntungan.

ByteDance saat ini terjebak di antara “batu dan tempat yang keras”. Jika berharap TikTok tetap eksi dan beroperasi, perusahaan harus menjualnya sebelum 15 September 2020 ke perusahaan asal Amerika Serikat (AS).

Akan tetapi, China telah memberlakukan aturan baru yang akan mencegah ekspor teknologi domestik, kecuali diberikan izin eksplisit oleh pemerintah. Hal itu akan menjadi kompromi dengan calon pembeli TikTok.

{Baca juga: ByteDance Jual TikTok, Tapi Tidak Termasuk Kode Sumber}

Menurut Ubergizmo, operasional TikTok akan diserahkan ke perusahaan AS, tetapi kode sumbernya tidak. Tim TikTok di AS akan bebas untuk melanjutkan algoritma.

Kalau informasi itu benar, siapa pun yang tertarik untuk mengakuisisi TikTok tentu akan kurang senang. Sebab, mereka hanya akan mendapatkan karyawan tambahan, tetapi tidak dengan teknologi utamanya. [SN/HBS]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here