Telset.id – Kesehatan tenaga kerja yang buruk berpotensi membuat ekonomi Inggris kehilangan £241 miliar per tahun, atau setara sekitar 8% dari Produk Domestik Bruto (GDP) negara tersebut. Angka kerugian itu berarti sekitar £7.000 per pekerja, berdasarkan riset terbaru Vitality Global Health Index 2026 yang menyoroti dampak finansial dari masalah kesehatan di dunia kerja Inggris.
Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan tenaga kerja yang buruk tidak hanya membebani perusahaan, tetapi juga ekonomi secara lebih luas. Beban tersebut justru diperparah oleh karyawan yang tetap masuk kerja saat sakit, meski tidak mampu bekerja dengan kapasitas penuh. Alih-alih menyelesaikan persoalan, kehadiran dalam kondisi tidak sehat menambah kerugian yang harus ditanggung.
Penelitian yang dilakukan untuk Vitality Global Health Index 2026 ini menggambarkan tenaga kerja yang kehilangan fokus. Dampaknya terlihat pada ekonomi yang kehilangan sekitar 8% dari GDP, atau setara £7.000 per pekerja. Riset tersebut juga menyoroti tantangan yang muncul dari karyawan dengan risiko kesejahteraan kesehatan mental tinggi, yang menurunkan produktivitas karena kurang fokus saat bekerja.
Tekanan Kesehatan Mental dan Produktivitas
Meski riset ini tidak merinci kekhawatiran soal AI, bukan hal mengejutkan jika kompetisi yang ditimbulkan teknologi tersebut terhadap peran berbasis produktivitas turut berdampak. Persoalan ini menjadi bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap produktivitas tenaga kerja Inggris, sejalan dengan isu lain seperti klaim asuransi yang turut terdampak oleh adopsi AI.
Baca Juga:
Pada kelompok Gen Z, temuan riset ini menunjukkan apa yang disebut sebagai tekanan psikologis serius pada 80% responden yang disurvei. Yang mengkhawatirkan, sekitar 33% perempuan muda menunjukkan gejala depresi. Kesehatan mental yang buruk secara keseluruhan disebut menyebabkan hilangnya sekitar 30 hari waktu produktivitas per orang per tahun.
Neville Koopowitz, Global CEO Vitality, menilai bahwa pertumbuhan Inggris dapat terbantu jika lebih banyak perhatian diberikan pada salah satu persoalan produktivitas terbesar negara itu. Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar orang yang absen karena sakit, melainkan orang-orang yang tetap bekerja namun berjuang dengan kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Koopowitz menyoroti bahwa kondisi tersebut paling mungkin terjadi di organisasi yang tidak mengukur tantangan kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas yang memengaruhi tenaga kerja mereka. Ia menyebut bahwa perhatian terhadap isu ini bisa menjadi sebuah investasi. Namun, hanya perusahaan yang meluangkan waktu untuk memahami kesehatan karyawan dan tantangan terkait, lalu menanganinya, yang melihat hasil nyata.
Kesenjangan Dukungan Kesehatan di Tempat Kerja
Vitality menemukan bahwa kurang dari sepertiga perusahaan di Inggris menyediakan layanan konseling atau dukungan kesehatan mental. Menurut Koopowitz, kesenjangan antara organisasi yang menangani isu ini dengan baik dan yang tidak akan semakin terlihat. Ia menegaskan bahwa biaya dari ketidakpedulian hari ini sudah mencapai £241 miliar per tahun.
Dengan sekitar 1 juta anak muda di Inggris yang masuk kategori not in education, employment or training (NEET), dukungan kesehatan mental dan konseling yang sesuai di tempat kerja dinilai dapat membantu perusahaan menciptakan lingkungan kerja awal karier yang lebih ramah dan positif. Mengingat tantangan yang ditambahkan AI ke dalam persoalan ini, ketidakpedulian bukanlah pilihan.
Isu kesehatan tenaga kerja ini juga relevan dengan meningkatnya risiko di sektor lain, termasuk serangan siber yang dapat mengganggu operasional perusahaan. Sebagai gambaran, insiden yang menimpa data karyawan bocor menunjukkan bagaimana gangguan terhadap institusi dapat berdampak langsung pada tenaga kerja dan keberlangsungan layanan.
Data Vitality Global Health Index 2026 menempatkan kesehatan tenaga kerja sebagai persoalan ekonomi, bukan sekadar isu kesejahteraan individu. Kerugian £241 miliar per tahun dan £7.000 per pekerja menjadi ukuran konkret dari dampak yang ditimbulkan. Perusahaan yang tidak mengukur maupun menangani tantangan kesehatan dan produktivitas tenaga kerjanya berisiko menanggung beban yang terus berlanjut.
Bagi pasar Indonesia, temuan ini menjadi cermin bahwa investasi pada kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja bukan sekadar biaya, melainkan bagian dari strategi menjaga produktivitas. Seiring teknologi seperti AI terus masuk ke lingkungan kerja, kemampuan organisasi memahami kondisi karyawannya akan menentukan seberapa besar nilai yang bisa dipertahankan.





Komentar
Belum ada komentar.