Telset.id – Kelompok peretas ShinyHunters mengaku bertanggung jawab atas serangan siber yang menimpa raksasa distribusi farmasi Amerika Serikat, McKesson, pekan lalu. Insiden ini menyebabkan kebocoran data kesehatan yang sangat sensitif, menambah daftar panjang serangan siber terhadap perusahaan kesehatan Amerika dalam beberapa bulan terakhir.
McKesson mengonfirmasi pada Jumat lalu melalui pernyataan di situsnya bahwa peretas membobol beberapa akun cloud-hosted miliknya pada awal pekan dan mengeksfiltrasi data. Perusahaan tersebut memperkirakan akan terjadi “gangguan layanan yang intermiten” terkait insiden ini. Dalam pemberitahuan terpisah kepada pelanggan, Chief Technology Officer McKesson, Francisco Fraga, mengatakan data yang dicuri berkaitan dengan unit onkologi & multispecialty serta unit medical-surgical.
Perusahaan yang berbasis di Texas ini merupakan salah satu distributor farmasi, obat-obatan, perlengkapan medis, dan teknologi terbesar di Amerika Serikat yang melayani rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan di seluruh negeri. Karena perannya yang krusial tersebut, McKesson menangani sejumlah besar data pasien.
Modus Serangan dan Data yang Dicuri
Kelompok peretas ShinyHunters, yang dikenal sebagai salah satu tim pemeras data paling aktif dalam dua tahun terakhir, mengungkapkan kepada TechCrunch bahwa mereka membobol lingkungan cloud McKesson dengan mengelabui beberapa karyawan melalui teknik phishing dan social engineering. Metode ini memang menjadi ciri khas kelompok tersebut untuk mendapatkan akses ke jaringan perusahaan.
Para peretas mengaku telah mencuri berbagai informasi pribadi seperti nama, alamat, dan nomor Jaminan Sosial (Social Security numbers). Selain itu, mereka juga membawa kabur informasi kesehatan yang dilindungi (protected health information), termasuk diagnosis, pengobatan, alergi, dan catatan pasien. ShinyHunters menyebut mereka mengambil jutaan baris data pasien dari lingkungan Snowflake dan Salesforce yang di-hosting di cloud, namun mereka tidak yakin berapa banyak individu yang akhirnya terdampak. Data yang dicuri juga mencakup informasi karyawan McKesson, seperti alamat rumah.
ShinyHunters membagikan tangkapan layar dan sampel data yang dicuri kepada TechCrunch, dan tim redaksi berhasil memverifikasi sebagian kecil data tersebut terhadap catatan publik. Sementara itu, Bleeping Computer yang pertama kali melaporkan keterkaitan dengan kelompok ShinyHunters, menyebut para peretas menuntut tebusan sebesar $55 juta dari perusahaan agar data yang dicuri tidak dipublikasikan.
Baca Juga:
Respons McKesson dan Eskalasi Ancaman Siber Kesehatan
Dalam pernyataannya, juru bicara McKesson, Kristina Chang, mengatakan perusahaan “terus beroperasi di semua lini bisnis” dan mengulangi pernyataan publiknya. Chang juga mencatat bahwa McKesson yakin tidak ada aktivitas tidak sah yang berkelanjutan di sistemnya. Namun, perusahaan menolak menjawab pertanyaan TechCrunch mengenai insiden tersebut, termasuk apa yang diminta para peretas atau berapa banyak individu yang datanya terdampak.
McKesson menjadi perusahaan kesehatan atau pembuat perangkat medis terbaru yang menjadi sasaran rentetan serangan siber dalam beberapa bulan terakhir. Para peretas memang menargetkan perusahaan-perusahaan ini untuk mencuri data medis dan kesehatan dalam jumlah besar yang dapat digunakan untuk memeras perusahaan agar membayar tebusan demi mencegah data tersebut dipublikasikan.
Pekan lalu, pembuat perangkat medis Boston Scientific juga menjadi korban serangan siber yang melumpuhkan sebagian besar jaringan perusahaan. Serangan tersebut memiliki efek serupa dengan insiden yang menimpa pembuat perangkat medis Stryker awal tahun ini, di mana peretas menyalahgunakan alat internal perusahaan untuk menghapus ribuan perangkat karyawan dari jarak jauh. Abbott Laboratories dan Medtronic juga pernah mengalami serangan siber, sementara penyedia catatan pasien elektronik CareCloud dan perusahaan teknologi kesehatan TriZetto mengalami pelanggaran yang memengaruhi lebih dari 3 juta pasien masing-masing.
Kelompok ShinyHunters juga telah mengklaim bertanggung jawab atas pelanggaran data besar di One Medical milik Amazon dan perusahaan asuransi gigi DentaQuest setelah serangan siber pada sistem mereka. Tren ini menunjukkan bahwa sektor kesehatan semakin menjadi target utama para peretas karena nilai data pasien yang sangat tinggi. Ancaman ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran global terhadap keamanan siber, termasuk tugas siber khusus yang kini melibatkan teknologi canggih, serta upaya perlindungan infrastruktur penting seperti yang diatur dalam RUU keamanan air senilai Rp4,8 triliun.
Insiden peretasan dengan modus serupa juga terjadi di luar sektor kesehatan, seperti kasus pencurian Bitcoin senilai Rp1,7 triliun dari dompet dingin Coinkite. Hal ini menegaskan bahwa ancaman siber kini menyasar berbagai sektor dengan nilai ekonomi tinggi.
Serangan terhadap McKesson menyoroti kerentanan sektor kesehatan terhadap serangan siber yang semakin canggih. Dengan data pasien yang sangat sensitif dan bernilai tinggi, perusahaan kesehatan perlu meningkatkan postur keamanan mereka untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang. Insiden ini juga menjadi pengingat bahwa tidak ada perusahaan yang kebal terhadap serangan siber, terlepas dari seberapa besar atau mapan perusahaan tersebut.





Komentar
Belum ada komentar.