📑 Daftar Isi

A pink Japanese garakei flip phone.

Jepang Tinggalkan Flip Phone Gara-kei, Layanan 3G Docomo Resmi Berakhir

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Docomo hentikan layanan 3G Maret 2026, mempercepat punahnya flip phone gara-kei
  • Smartphone kuasai 98 persen pengguna seluler Jepang pada 2025
  • Pengiriman feature phone turun lebih dari 25 persen jadi di bawah 400.000 unit
  • Populasi menua dan penghentian i-mode jadi pemicu utama pergeseran
  • Docomo gencarkan kelas smartphone untuk bantu migrasi pengguna

Telset.id – Jepang resmi meninggalkan era flip phone tradisional atau gara-kei setelah operator NTT Docomo menghentikan layanan data 3G yang tersisa di negara itu pada Maret 2026. Keputusan ini mempercepat penurunan perangkat feature phone yang sebelumnya bertahan puluhan tahun di pasar Jepang, sekaligus menutup babak panjang telepon lipat dengan keyboard fisik yang sempat menjadi ikon budaya teknologi setempat.

Gara-kei, singkatan dari Galapagos keitai, adalah sebutan untuk feature phone khas Jepang dengan keyboard fisik yang menolak punah di tengah gempuran smartphone layar besar. Istilah “Galapagos” merujuk pada kepulauan terisolasi di Samudra Pasifik, sementara keitai berarti “portabel”. Selama bertahun-tahun, operator seluler Jepang menjual cukup banyak handset dasar ini hingga menginspirasi lahirnya ponsel hybrid garaho dari merek seperti Kyocera, yang menggabungkan desain clamshell dengan Android dan konektivitas 4G.

Namun kebiasaan konsumen kini berubah. Survei Docomo di Jepang menemukan bahwa smartphone mencakup 90 persen pemilik telepon seluler pada 2021 dan naik menjadi 98 persen pada 2025. Pengiriman feature phone di negara itu turun lebih dari 25 persen menjadi di bawah 400.000 unit pada paruh pertama tahun fiskal 2025, menurut firma riset MM Research Institute.

A pink Japanese garakei flip phone.

Kenapa Gara-kei Begitu Populer di Jepang?

Banyak pihak meyakini gara-kei memiliki ikatan kuat dengan budaya Jepang. Perangkat ini punya fitur jauh melampaui flip phone biasa yang dirancang untuk pasar lain. Selain bodi tahan lama dan keyboard taktil, banyak di antaranya mampu menangkap siaran TV One-Seg dan berbagi info kontak lewat pemancar inframerah jauh sebelum fitur NameDrop milik Apple hadir. Tampilannya pun menawan, dengan warna vibrant dan lubang tali untuk gantungan kunci eksotis.

Sebagian besar gara-kei menawarkan dukungan 3G untuk aplikasi ringan yang tidak menghabiskan banyak data. Chip tertanam memungkinkan pengguna membayar kereta dan belanja bahan makanan, membuat ponsel dengan kontrak murah ini menjadi bagian integral dari kehidupan di Jepang.

Perusahaan di Amerika Serikat juga sempat mencoba meraup nostalgia dan keinginan Gen Z akan flip phone. Light Flip yang akan datang bukanlah gara-kei, tetapi menyasar pengguna yang menginginkan pengalaman flip phone tanpa distraksi. Gara-kei tradisional dari Kyocera dan Sharp masih bisa dibeli di toko seperti eBay, meski sebagian besar tidak memiliki band jaringan 4G LTE yang tepat untuk bekerja dengan operator Amerika.

Apa yang Memicu Pergeseran dari Flip Phone?

Penghentian i-mode, layanan internet seluler 3G milik Docomo, diperkirakan memengaruhi setengah juta orang dan lebih dari 400 model ponsel di Jepang, menurut laporan The Guardian. Langkah ini juga akan mengganggu sistem navigasi mobil dan mesin penjual otomatis di negara tersebut.

Pengumuman itu menjadi lonceng kematian bagi gara-kei, menyusul au dan SoftBank yang lebih dulu menghentikan layanan 3G pada 2022 dan 2024. Populasi Jepang yang menua menjadi kepingan lain dari teka-teki ini. Pada 2024, 29 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas, menurut World Economic Forum, membangun ekonomi yang bergantung pada dukungan lansia. Puluhan ribu kasus “lonely deaths” atau kematian dalam kesepian di kalangan lansia diduga turut membentuk ulang cara Jepang menggunakan teknologi seluler. Dalam upaya meningkatkan literasi teknologi, Japan Today melaporkan bahwa Tokyo membagikan 3.000 smartphone kepada warga senior pada 2021.

Meski sebagian pengguna Gen Z beralih ke feature phone untuk merebut kembali rentang perhatian mereka, banyak yang harus kembali ke smartphone jika ingin tetap terhubung ke internet. Docomo melihat migrasi yang tak terhindarkan ini sebagai peluang dan mempromosikan kelas smartphone di dalam toko yang mengajarkan cara menangani perangkat tersebut. Pelajaran menjelajah web dan kontrol gestur disertai risiko tumbuhnya kebiasaan doomscrolling yang digerakkan media sosial dan ketergantungan pada komputer seukuran saku ini.

Ini adalah akhir sebuah era di Jepang bagi generasi yang tumbuh besar menekan-nekan tombol feature phone untuk tetap terhubung dengan dunia. Perubahan ini juga menjadi cermin bagaimana infrastruktur jaringan, demografi, dan kebiasaan konsumen bergerak bersamaan meninggalkan teknologi yang dulu mendarah daging. Bagi pasar lain, termasuk Indonesia, transisi serupa menunjukkan bahwa perangkat yang bertahan karena kebiasaan dan ekosistem tertentu tetap akan tunduk pada keputusan operator soal jaringan. Sementara itu, inovasi perangkat keras dari Jepang terus berlanjut di segmen lain, seperti yang terlihat pada Gboard Conveyor Belt dan lini produk rumah tangga Aqua Japan yang menyasar kebutuhan konsumen modern.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.