Investor ByteDance Coba Mainkan Saham Demi TikTok

Saham TikTok

Telset.id, Jakarta – Laporan menyebut, investor ByteDance sedang dalam pembicaraan untuk menggunakan saham di perusahaan guna membantu membiayai tawaran untuk aplikasi TikTok.

ByteDance sedang dalam pembicaraan untuk mendivestasi operasional TikTok di Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru kepada sejumlah pengakuisisi potensial, termasuk Microsoft dan Oracle.

Presiden Donald Trump telah memerintahkan perusahaan China untuk memutuskan hubungan dengan aplikasi media sosial di Amerika Serikat (AS) dengan alasan kekhawatiran atas keamanan data pribadi pengguna.

Beberapa investor ByteDance, termasuk perusahaan investasi General Atlantic, berlomba-lomba untuk memiliki saham besar di aset TikTok. Microsoft atau Oracle dapat menerima saham minoritas di aset tersebut.

{Baca juga: Donald Trump Larang TikTok dan WeChat di Amerika Serikat}

Dikutip Telset.id dari Reuters, Selasa (25/08/2020), aset TikTok untuk dijual bisa bernilai antara USD 25 miliar hingga USD 30 miliar. Untuk membantu mendanai penawaran, para investor ByteDance sedang berdiskusi.

Mereka akan melakukan penukaran sebagian atau semua saham di perusahaan China dengan ekuitas di aset TikTok. Namun, rencana investor ByteDance menghadapi peluang panjang dan rintangan signifikan.

Pejabat administrasi Trump berharap perusahaan besar AS memenangkan kesepakatan TikTok. Panel pemerintah AS, Komite Investasi Asing di AS, harus menandatangani kesepakatan apa pun yang dicapai ByteDance.

Trump Ingin Aset TikTok AS Dijual

Presiden Donald Trump memberi waktu 90 hari kepada ByteDance untuk melepaskan semua aset yang digunakan untuk mendukung aplikasi TikTok di AS.

Perintah eksekutif Trump mengatakan, ada bukti kredibel yang meyakinkan bahwa ByteDance mungkin telah melakukan tindakan salah yang mengancam dan merusak keamanan nasional AS.

{Baca juga: Trump Perintahkan ByteDance Jual Semua Aset TikTok di AS}

Sekretaris Pers Gedung Putih, Kayleigh McEnany, menyatakan bahwa Trump menjalankan otoritas darurat di bawah UU 1977 yang memungkinkan mengatur perdagangan internasional.

“Pemerintah berkomitmen untuk melindungi rakyat AS dari semua ancaman dunia maya. TikTok mengumpulkan sejumlah besar data pribadi pengguna,” kata McEnany seraya menegasakan bahwa China ada di belakang TikTok.

Oracle Juga Tertarik “Ambil Kesempatan”

Oracle juga tertarik untuk mengakuisisi operasional aplikasi video TikTok di Amerika Serikat (AS). Oracle kabarnya sudah melakukan diskusi dengan ByteDance.

Oracle akan bersaing dengan Microsoft yang sebelumnya menjadi satu-satunya perusahaan yang secara terbuka menyatakan ketertarikan kepada TikTok.

Menurut laporan, Oracle juga tertarik untuk mengakuisisi TikTok. Perusahaan tersebut menyatakan “minat serius” lewat proses pembicaraan awal dengan ByteDance.

{Baca juga: Oracle Juga Tertarik Akuisisi TikTok?}

Kalau laporan itu benar, tentu kabar akuisis TikTok jadi semakin menarik. Lebih-lebih, Oracle tidak dipandang sebagai bisnis yang melayani konsumen. Oracle merupakan penyedia perangkat lunak database untuk perusahaan.

Apabila benar sudah melakukan pembicaraan intensif dengan ByteDance, Oracle diprediksi tak akan kesulitan mengakuisi TikTok. Secara finansial, Oracle juga cukup mumpuni karena punya kapitalisasi pasar cukup besar di dunia.

Apple jadi Korban

Imbas pelarangan TikTok di AS malah berdampak pada bisnis Apple. Pasalnya, App Store terancam akan dilarang beredar di China.

Tidak seperti Google, Apple memiliki hubungan yang cukup baik dengan China. Karenanya, tidak mengherankan kalau Apple menganggap China sebagai salah satu pasar terbesar untuk pemasaran produk.

{Baca juga:Nah Lho! App Store Terancam Dilarang Total di China}

Namun, situasi perang perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China membuat hubungan tersebut diuji. Ada laporan bahwa kemungkinan App Store akan dilarang total di Negeri Tirai Bambu.

Jika benar-benar akan dilarang, Apple berpotensi kehilangan triliunan rupiah akibat kebijakan China yang mengharuskan warganya tidak memakai iPhone. (SN/MF)

SOURCEReuters
Previous articleMinta Bantuan Hakim, Apple Ogah Fortnite Nongol di App Store
Next articleDirektur & Chief Finance Officer XL Axiata Mengundurkan Diri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here