Pernahkah Anda membayangkan bahwa solusi untuk krisis iklim global mungkin bukan terletak pada mesin canggih futuristik, melainkan pada debu batuan yang ditebar di ladang pertanian? Dunia teknologi iklim atau climate tech saat ini sedang mengalami pergeseran tektonik yang signifikan. Bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium, sektor ini telah berubah menjadi medan pertempuran bagi para raksasa teknologi dan investor berkantong tebal yang mencari skalabilitas nyata.
Di tengah hiruk-pikuk perlombaan menuju net-zero emission, sebuah kabar mengejutkan datang dari lanskap penghapusan karbon atau carbon removal. Terradot, sebuah startup yang didukung oleh nama-nama besar seperti Google dan Microsoft, baru saja mengumumkan langkah strategis yang mengubah peta persaingan. Mereka secara resmi mengakuisisi kompetitor utamanya, Eion. Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan sebuah sinyal kuat tentang arah masa depan industri keberlanjutan.
Akuisisi ini menyoroti realitas keras dalam dunia startup lingkungan: memiliki teknologi yang baik saja tidak cukup. Anda memerlukan skala operasional yang masif untuk bertahan hidup. Eion, meskipun memiliki inovasi yang menjanjikan, harus merelakan dirinya dicaplok karena tuntutan pasar yang semakin brutal. Pertanyaannya kini, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, dan mengapa investor kelas kakap begitu terobsesi dengan batuan yang dihancurkan ini?
Konsolidasi Demi Kontrak Raksasa
Alasan utama di balik akuisisi ini sangat pragmatis dan didorong oleh uang besar. Menurut laporan yang beredar, penjualan Eion ke Terradot sebagian besar didorong oleh desakan dari investor besar, termasuk sovereign wealth funds (dana kekayaan negara). Para investor institusional ini memiliki mandat untuk menyalurkan dana dalam jumlah fantastis, dan mereka hanya ingin bekerja sama dengan perusahaan yang mampu menangani kontrak berskala besar.
Anastasia Pavlovic Hans, CEO Eion, secara terbuka mengakui kepada The Wall Street Journal bahwa perusahaannya “terlalu kecil” untuk memenuhi selera pasar saat ini. Dalam ekosistem di mana Google berupaya Tekan Emisi secara agresif, ukuran perusahaan menjadi faktor penentu keberhasilan. Startup kecil yang terfragmentasi dianggap tidak efisien dalam menjalankan operasi penghapusan karbon yang membutuhkan logistik rumit dan jangkauan luas.
Dengan menggabungkan kekuatan, Terradot kini memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat di hadapan para pembeli kredit karbon global. Ini adalah langkah klasik dalam evolusi industri baru: fase konsolidasi di mana pemain-pemain kecil bergabung atau dimakan oleh pemain yang lebih besar untuk menciptakan entitas yang mampu mendominasi pasar.
Teknologi Enhanced Rock Weathering (ERW)
Kedua perusahaan ini, baik Terradot maupun Eion, bergerak di bidang yang dikenal sebagai Enhanced Rock Weathering (ERW). Bagi Anda yang belum familiar, ini adalah metode yang mempercepat proses alami bumi dalam menyerap karbon dioksida. Secara sederhana, perusahaan-perusahaan ini menggiling batuan tertentu hingga menjadi debu halus, kemudian menebarkannya di lahan pertanian.
Ketika debu batuan ini bereaksi dengan air hujan dan tanah, terjadi reaksi kimia yang mengikat CO2 dari atmosfer dan menyimpannya secara permanen dalam bentuk bikarbonat. Ini seperti memberikan “vitamin” pada tanah, yang tidak hanya menyerap emisi tetapi juga berpotensi menyuburkan tanaman. Konsep pemanfaatan material alam ini mengingatkan kita pada inovasi Material Kuat lainnya di bidang sains yang memanfaatkan struktur alami untuk performa tinggi.
Meskipun terdengar sederhana, ERW memiliki potensi untuk menjadi salah satu cara termurah untuk menghilangkan karbon dalam skala gigaton. Namun, tantangannya terletak pada operasional. Proses ini membutuhkan operasi penambangan, penggilingan, dan penyebaran yang sangat besar dan terdistribusi. Inilah mengapa penggabungan sumber daya antara Terradot dan Eion menjadi sangat masuk akal secara logistik.
Baca Juga:
Strategi Geografis: Basalt vs Olivine
Salah satu aspek menarik dari merger ini adalah penyatuan dua strategi geografis dan material yang berbeda. Terradot, yang berbasis di California, memusatkan operasinya di Brasil. Mereka memilih batuan basal (basalt) sebagai mineral pilihan mereka. Basal adalah batuan vulkanik yang melimpah dan memiliki laju pelapukan yang cukup cepat di iklim tropis seperti Brasil.
Di sisi lain, Eion beroperasi di Amerika Serikat dan menggunakan olivine. Olivine dikenal memiliki kapasitas penyerapan CO2 yang sangat tinggi, namun pengelolaannya membutuhkan kehati-hatian ekstra terkait kandungan logam berat tertentu jika tidak diproses dengan benar. Dengan mengakuisisi Eion, Terradot tidak hanya membeli kompetitor, tetapi juga membeli akses ke pasar Amerika Serikat dan diversifikasi jenis mineral.
Langkah ekspansi dan diversifikasi ini mirip dengan bagaimana raksasa teknologi melakukan Akuisisi Startup untuk melengkapi portofolio fitur mereka. Dalam konteks Terradot, mereka kini memiliki kaki di dua benua besar dengan dua jenis material berbeda, memberikan fleksibilitas operasional yang luar biasa.
Dukungan Para Raksasa Teknologi
Keberhasilan Terradot dalam melakukan akuisisi ini tidak lepas dari daftar investor mentereng di belakangnya. Perusahaan ini didukung oleh Gigascale Capital, Kleiner Perkins, dan tentu saja, dua raksasa teknologi dunia: Google dan Microsoft. Keterlibatan Google dan Microsoft di sini bukan kebetulan. Kedua perusahaan ini memiliki target iklim yang sangat ambisius dan sedang aktif memburu kredit karbon berkualitas tinggi.
Sementara itu, Eion sebelumnya didukung oleh AgFunder, Mercator Partners, dan Overture. Penyatuan kedua kubu investor ini menciptakan sebuah “powerhouse” baru di sektor ERW. Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor teknologi iklim kini telah masuk ke radar utama modal ventura, setara dengan antusiasme saat Facebook Akuisisi berbagai platform untuk memperkuat dominasi e-commerce dan sosial medianya.
Bagi Google dan Microsoft, berinvestasi di Terradot adalah langkah strategis untuk mengamankan pasokan kredit karbon masa depan mereka. Dengan memiliki andil dalam perusahaan yang memproduksi kredit tersebut, mereka dapat memastikan kualitas dan ketersediaan pasokan untuk menetralkan jejak karbon operasional mereka yang kian membesar akibat penggunaan energi pusat data AI.
Tantangan Harga dan Pasar
Meskipun potensinya besar, jalan menuju adopsi massal ERW tidaklah mulus. Berdasarkan survei dari CDR.fyi, masih terdapat kesenjangan yang lebar antara harga yang ingin dikenakan oleh perusahaan ERW dengan harga yang bersedia dibayar oleh pembeli. Teknologi ini, meskipun menjanjikan biaya rendah dalam jangka panjang, saat ini masih memerlukan investasi awal yang besar untuk infrastruktur dan verifikasi ilmiah.
Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV) adalah tantangan terbesar dalam ERW. Bagaimana Anda membuktikan secara akurat bahwa debu batuan yang ditebar di ladang di pedalaman Brasil benar-benar menyerap sekian ton CO2? Proses verifikasi ini memakan biaya. Namun, dengan skala yang lebih besar pasca-akuisisi, Terradot diharapkan mampu menekan biaya per ton karbon yang diserap, sehingga memperkecil kesenjangan harga di pasar.
Konsolidasi ini diharapkan dapat membawa efisiensi yang sangat dibutuhkan. Dengan menggabungkan data penelitian, jaringan petani, dan teknologi MRV dari kedua perusahaan, Terradot berpeluang menjadi standar emas dalam industri pelapukan batuan ini. Bagi Anda yang peduli pada isu keberlanjutan, ini adalah perkembangan yang patut dipantau karena keberhasilan teknologi ini bisa menjadi salah satu kunci utama menahan laju pemanasan global.
Pada akhirnya, akuisisi Eion oleh Terradot adalah cerminan dari kedewasaan industri karbon. Masa-masa eksperimen skala kecil mulai berakhir, digantikan oleh operasi industri yang didukung oleh modal raksasa. Apakah ini akan cukup untuk menyelamatkan bumi? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: bisnis membersihkan atmosfer kini telah menjadi permainan para raksasa.

