Utak-atik Strategi Pemain China, Harga atau Inovasi?

Utak-atik Strategi Pemain China, Harga atau Inovasi?

Penulis:Lucky Sebastian
Terbit:
Diperbarui:
⏱️15 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Saat ini, harga smartphone untuk kelas entry level dan mid-range, terasa semakin murah dan terjangkau. Jika dibandingkan beberapa tahun ke belakang, harga smartphone sekarang selain lebih murah ternyata secara teknologi juga semakin baik. Selain dikarenakan memang jumlah produksi smartphone semakin masif, hal ini juga tidak lepas dari ekspansi besar-besaran smartphone asal China.

Kita coba melihat gaya dan strategi beberapa smartphone asal China yang sekarang sangat eksis, kemudian mencoba menarik “benang merah” apa yang menjadi kesamaan, kelebihan, dan kekurangan dari strategi mereka dibanding brand-brand global, seperti Samsung dan Apple.

Xiaomi

Kurang lebih 3 tahun lalu, Xiaomi memulai ekspansinya secara resmi di Indonesia. Xiaomi bukan brand China pertama yang masuk Indonesia. Sebelumnya sudah ada beberapa nama tenar lain, misalnya Lenovo, Huawei, Oppo, dll. Para pemain China ini berhasil memikat pasar smartphone dengan harga lebih terjangkau, dibanding brand-brand global yang sudah lebih dulu ada di Indonesia.

Tetapi Xiaomi selain menawarkan harga yang lebih bersahabat, juga menawarkan “kelas” teknologi, karena digadang-gadang sebagai brand yang selain menawarkan device terjangkau, tetapi komponen di dalamnya berkelas, atau dikenal dengan spesifikasi tinggi. Tentu saja ini merupakan daya tarik yang besar, karena siapa yang tidak tergoda dengan barang murah tetapi bagus?

Saat Xiaomi mulai diperkenalkan resmi di Indonesia, gaungnya belum sebesar sekarang. Butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat bahwa produk dari China sekarang bagus. Wajar, karena sebelumnya Indonesia kebanjiran produk China dengan kualitas “kelas dua”, misalnya motor (dikenal dengan sebutan mocin), peralatan elektronik rumah tangga, dan lain sebagainya.

Yang menarik, Xiaomi memakai gaya baru saat menjual produk smartphone perdana mereka, yakni dengan cara flash sale. Hasilnya, Xiaomi menuai sukses besar dengan cara penjualan barunya tersebut, walaupun sebagian besar pembeli pertama adalah pedagang smartphone, untuk dijual kembali dengan selisih harga keuntungan yang lumayan. Tetapi para pedagang ini menjadi “corong utama” untuk memperkenalkan brand Xiaomi ke masyarakat lebih luas.

Penjualan online ini, tanpa iklan, dilakukan untuk menghemat biaya pengeluaran, sehingga bisa menekan harga jual. Keberhasilan Xiaomi mengundang brand smartphone China lain berebut masuk Indonesia, dan menggunakan cara penjualan yang mirip.

Tetapi pada akhirnya, walau pangsa pasar Indonesia tergolong besar dengan populasi masyarakatnya yang banyak, tetapi kepercayaan atau pengetahuan mereka pada penjualan online tergolong masih kecil. Jika dibandingkan prosentase-nya masih jauh dengan negara China, tempat asal Xiaomi. Kendala ini akhirnya memaksa Xiaomi untuk memasarkan beberapa seri smartphone terbarunya secara offline, bukan lagi flash sale.

Namun ketatnya persaingan yang juga datang dari sesama pemain China, pada akhirnya mengharuskan vendor yang dijuluki “Apple dari China” ini berganti strategi pemasaran dan marketing di negaranya sendiri. Jika semula hanya fokus pada penjualan online yang mengandalkan basis fans, kini Xiaomi membuat sebanyak-banyaknya gerai offline, setelah target penjualannya tidak tercapai di tahun 2015 dan 2016.

Apa yang membuat Xiaomi yang sedang gencar ekspansi dengan nama yang baik, produk yang bagus, harga yang terjangkau tiba-tiba seolah berhenti menanjak? Padahal di tiap negara yang disambanginya, Xiaomi memiliki basis fans yang kuat bahkan terkadang bisa dikatakan cukup “militan” ?

OnePlus

Banyak yang tidak menyadari, kalau OnePlus sebenarnya masih satu keluarga, atau saudara kandung dengan smartphone brand Oppo dan Vivo, dibawah bendera BKK electronics. Bahkan salah satu pendiri OnePlus, Pete Lau adalah mantan Vice Presiden di Oppo.

OnePlus sekarang namanya sedang berkibar, karena banyak dibahas media internasional, terutama karena cara marketing-nya yang berbeda. Untuk bisa membeli produknya pertama kali, harus mendapatkan undangan, tidak bisa memesan begitu saja.

Tagline mereka flagship killer, ternyata cukup menyita banyak perhatian, karena perusahaan yang dianggap startup ini dianggap berani bersaing langsung dengan smartphone flagship keluaran brand global seperti Apple dan Samsung.

OnePlus dikenal sebagai smartphone yang hebat dalam perolehan score benchmark, terutama AnTuTu. Perangkat besutan OnePlus menggunakan spesifikasi yang mirip dengan smartphone flagship global. Mirip dengan Xiaomi, OnePlus walau memiliki spesifikasi yang tinggi, menjual smartphone-nya dengan harga yang terjangkau.

Sedikit berbeda dengan Xiaomi, jajaran smartphone yang dikeluarkannya tidak banyak, bisa dikatakan mirip Apple, kebanyakan hanya versi hi-end. Secara umum, OnePlus lebih mendapat dukungan dunia barat, karena berhasil masuk ke pasar Amerika, pasar yang sampai saat ini belum bisa dijangkau smartphone Xiaomi. Sementara di Indonesia sendiri OnePlus sempat memiliki perwakilan resmi, yang kemudian tahun lalu hengkang, sepertinya karena peraturan TKDN.

Gambar terkait

Benang Merah

Masih banyak brand China lain yang juga besar, tidak kita bahas secara khusus, dan kita coba ambil benang merah dari beberapa brand di atas, membandingkan strategi mereka dengan brand global yang ingin mereka kejar.

Data terakhir dari Gartner memperlihatkan 5 besar brand smartphone di dunia, Samsung, Apple, Huawei, Oppo dan Vivo. Ada tiga brand China di sana, merupakan pencapaian besar, yang berarti hanya menyisakan 2 pemain global besar yang sudah lebih dulu eksis, dan berhasil melewati beberapa brand besar yang dulu bertengger di sana.

Mari kita bahas, untung ruginya strategi dari beberapa brand China di atas, apakah memiliki kesempatan untuk menyodok dua brand besar di posisi paling atas.

Pada bagian pertama ini kita membahas smartphone brand China yang mengandalkan penjualan dengan harga murah tetapi spesifikasi tinggi, pada bagian kedua kita akan membahas brand China yang menempuh strategi lain.

Harga Murah Spesifikasi Tinggi

Harga murah dan spesifikasi yang mumpuni, yang diusung Xiaomi dan OnePlus memberikan dorongan kepada pemain global untuk lebih ketat memperhatikan harga jual smartphone mereka. Dulu, smartphone global terbiasa menjual smartphone dengan harga lebih tinggi, untuk mendapatkan margin lebih besar, tapi kemudian seiring waktu menurunkannya sampai kepada harga bawah yang dianggap optimal.

Dengan kehadiran Xiaomi dkk, sekarang harga smartphone global lebih di posisi mendekati harga bawah optimal. Setiap tahun kita melihat walau teknologi smartphone meningkat, nilai mata uang lebih kecil, tetapi harga smartphone baru cenderung stabil seperti harga smartphone baru tahun lalu.

Tetapi tetap saja harga smartphone global tidak bisa semurah Xiaomi atau OnePlus. Padahal jika kita pikir, misalnya brand sekelas Samsung yang memiliki pabrik sendiri, termasuk komponen seperti layar, chipset, baterai, sensor, dan lain sebagainya, seharusnya akan dengan mudah bisa menyaingi Xiaomi atau OnePlus dari sisi harga.

Xiaomi dan OnePlus perlu membeli komponen dari banyak pihak, dan merakitnya menjadi smartphone, yang tentunya harga komponen yang mereka beli pasti lebih mahal dibandingkan pabrikan yang memproduksi komponen sendiri.

Jika kita membandingkannya dengan iPhone dari Apple, tidak ada iPhone yang harganya murah dan kelas mid-end atau low-end. Bayangkan, dengan brand image-nya sebagai ponsel kelas atas, jika Apple berniat membuat iPhone versi mid-end seharga 3-4 juta saja, akan mudah membuat orang-orang beralih ke iPhone.

Jadi, sisi harga murah ini sebenarnya bukan kompetisi yang sulit, buktinya setelah Xiaomi bermain di sisi harga murah dan spesifikasi mumpuni, dengan segera diikuti oleh brand China lain, seperti Meizu, Zuk, LeEco, Gionee, Nubia, dan banyak lagi yang merakit smartphone dengan pola yang sama.

Hal ini yang menyebabkan nama Xiaomi yang sempat muncul dalam 5 besar brand tahun 2014-2015 menurut Gartner, tidak lama kemudian hilang, dan target penjualannya tidak tercapai, karena disaingi oleh para pemain China lainnya yang memakai strategi yang sama.

Xiaomi beruntung memiliki line-up produk dari low end hingga hi-end yang semuanya relatif diterima pasar. Secara jumlah penjualan, antara hi-end, mid-end, dan low-end sampai saat ini masih berbentuk piramida, dengan jumlah hi-end lebih sedikit dibanding low-end. Hal ini wajar mengingat harga dan daya beli. Dari sisi margin, jualan hi-end memiliki margin yang paling besar.

Seringkali untuk mid-end, dan low-end, margin Xiaomi sangat tipis, bahkan terkadang dijual sesuai harga pembuatan dan mengandalkan keuntungan setelah harga komponen turun atau dari penjualan aplikasi. Di China, dengan tidak adanya Google Playstore, maka setiap vendor bisa membuat sendiri toko aplikasi dan mengambil keuntungan dari sana, termasuk juga penjualan wallpaper dan tema. Untuk pasar global yang sudah dilengkapi Playstore, agak sulit mendapat keuntungan dari sisi software.

Margin yang kecil memaksa Xiaomi untuk benar-benar berhari-hati saat memilih komponen dan tidak bisa mengembangkan terlalu banyak line-up yang bervariasi. Contohnya begini, untuk versi low dan mid-end, kita akan menemukan beberapa versi Redmi yang sama, hanya kemudian ditambah kode A, X, atau Pro. Secara bentuk dan desain bahkan ukuran, seri Redmi ini sama, hanya berbeda sedikit di spesifikasi, misal resolusi layar, besaran RAM, besaran ROM, jenis chip prosesor yang digunakan.

Cara ini ditempuh agar umur keberadaan Redmi tersebut panjang, karena smartphone yang berumur panjang berada di pasaran, bisa mendapat keuntungan dari harga komponen yang turun seiring waktu. Dalam satu desain bisa di dapat beberapa varian menguntungkan, karena desain ini membutuhkan biaya tidak sedikit, belum lagi keharusan melakukan banyak uji.

Sebelumnya line-up Xiaomi sebenarnya lebih sedikit, karena mereka ingin meniru Apple yang bisa bertahan dengan satu model yang sama selama satu tahun, sebelum model baru keluar. Tetapi ketatnya persaingan diantara smartphone Android, Xiaomi mau tidak mau akhitnya harus memperbanyak line-up dengan cara membuat lebih banyak varian. Sekarang ini line-up smartphone Xiaomi cukup banyak dan cukup membingungkan kategorinya.

Untuk versi hi-end, Xiaomi kemungkinan lebih memiliki margin bagus, tetapi mempertahankan harga yang seringkali hanya setengah harga hi-end brand global, berarti banyak penghematan harus dilakukan di sana.

Pada smarphone hi-end global, fitur-fitur baru lebih lengkap, sementara pada hi-end Xiaomi  (juga OnePlus) banyak fitur-fitur yang harus di pangkas. Misalnya IP68 atau tahan air, layar yang harus bertahan di resolusi full HD sementara brand global sudah QuadHD bahkan 4K dengah HDR, wireless charging, akses security baru seperti pemindai wajah dan iris.

Mungkin kita berpikir, masa sih fitur tahan air yang hanya tinggal menambahkan karet di sekeliling dalam casing dan port, harganya kan tidak seberapa?. Mengapa Xiaomi, OnePlus, tidak melakukannya saat ini? Aplikasinya tidak semudah itu, membuat device tahan air berarti membuat device sangat kedap dan mengurangi kecepatan device membuang panas.

Xiaomi dan OnePlus senang mengejar angka benchmark yang tinggi, dan biasanya menetapkan clock prosesor pada batas maksimal untuk show off, karena ini salah satu cara untuk membuat smartphone terlihat lebih menonjol dibanding brand global yang sekarang telah bergerak mengejar fitur.

Prosesor hi-end dan clock yang tinggi cepat menghasilkan panas yang harus segera dibuang supaya kinerja prosesor tidak throttling, dan kecepatannya menurun. Casing yang kedap menghambat pembuangan panas.

Untuk itu casing yang kedap perlu ditambahkan lagi sarana untuk membuang panas, apakah menambahkan lebih banyak lembaran penghantar panas atau malah membuat heat pipe cooling system, yang berarti menambah biaya parts dan menambah kerumitan desain.

Layar Full HD atau resolusi 1920×1080, senantiasa dibawa oleh brand China untuk hi-end device mereka. Berbeda dengan brand global yang kebanyakan sudah menetapkan resolusi QuadHD (2560×1440). Sebenarnya pada beberapa brand China sempat mencoba layar resolusi tinggi ini, tetapi kemudian memilih tetap di Full HD untuk versi hi-end mereka selanjutnya.

Ada alasan yang selalu dikatakan bahwa mata kita tidak bisa lagi melihat perbedaannya, karena resolusi Full HD juga sudah tinggi. Sebenarnya sudah 1-2 tahun ini teknologi VR sudah semakin matang, dan layar resolusi QuadHD saja masih terlihat pixelated untuk fungsi VR ini, apalagi layar Full HD. Alasan lainnya karena layar Full HD lebih irit daya dibanding QuadHD. Ini betul, tetapi dengan kemajuan teknologi layar sekarang, perbedaan penggunaan dayanya tidak lagi signifikan.

Alasan yang paling masuk akal, lagi-lagi adalah harga. Betul, harga layar adalah salah satu komponen paling mahal pada smartphone. Berbeda resolusi sudah berlipat harganya, apalagi selain berbeda resolusi juga berbeda jenis panel, misal LCD ke AMOLED, ini lebih membuat harga komponen layar semakin mahal.

Sebenarnya hal yang paling krusial dengan menjual smartphone hi-end harga murah adalah margin yang tidak cukup untuk Research and Development (R&D). Padahal R&D ini yang akan menjadi tulang punggung dan menentukan teknologi masa depan smartphone.

Perusahaan teknologi yang terkenal akan kita lihat sangat kuat menggelontorkan biaya besar untuk R&D, dari Intel, Google (Alphabet), Microsoft, Facebook, Qualcomm, dan lain sebagainya, karena menyadari pentingnya R&D dan ketatnya persaingan.

Dari data 2016, Samsung ada di urutan ke-2 sebagai perusahaan yang menggelontorkan dana terbesar untuk R&D, dan Apple ada di urutan ke-11. Hanya ada satu perusahaan smartphone brand China yang masuk dalam urutan 20 besar mengeluarkan biaya R&D, dan nilainya bahkan lebih besar dari Apple, yaitu Huawei.

Contoh pentingnya R&D ini bisa kita lihat dari penjelasan founder OnePlus, Carl Pei, saat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan seputar produk terbaru mereka OnePlus 5. Bagian yang jelas adalah ketika OnePlus ditanya mengapa memiliki konfigurasi dual camera serupa dengan iPhone 7 Plus.

Carl Pei menjawab dengan jujur bahwa mereka tidak mungkin melakukan test R&D yang mahal untuk mengetahui apa yang diinginkan pengguna smartphone. Dengan mengikuti Apple, mereka sudah mendapat bukti bahwa konfigurasi tersebut menarik dan dapat diterima.

OnePlus memamerkan beragam mock-up desain yang rencananya menjadi model OnePlus 5, tetapi akhirnya memilih model yang mirip dengan iPhone 7 Plus. Desain yang sama dimiliki oleh Oppo R11. Pilihan yang agak aneh untuk OnePlus, karena versi sebelumnya OnePlus pertama dan ke-2 memiliki desain yang khas OnePlus, (walau versi ke-3 desainnya lebih mirip Samsung).

Sepertinya hal ini dilakukan untuk menghemat biaya pembuatan casing dan desain, bergabung dengan Oppo. Sebelumnya juga mereka sudah memakai teknologi yang sama untuk charger, hanya dengan penamaan berbeda, Oppo menggunakan nama VOOC charger, dan OnePlus menggunakan nama Dash Charger.

Kemungkinan salah satu alasan memilih desain ini adalah untuk “menempel” iPhone, selain membuat orang lebih mudah mengenalinya, juga sebagai salah satu umpan, agar banyak dibicarakan media, dan ini menambah popularitas secara gratis.

Jika kita merunut setiap flaghship Xiaomi atau OnePlus, jarang sekali ada terobosan baru atau bisa dikatakan inovasi yang ada di smartphone tersebut. Sisi menariknya selalu spesifikasi tinggi dan harga murah. Tidak ada layar lengkung, 3D touch, squeezeable body, always on display, add on mods, dedicated VR dan AR, dual camera, tahan air, layar anti pecah, dan lain-lain. Bahkan beberapa smartphone Xiaomi termasuk hi-end nya tidak tahan bend test.

Sebenarnya ada inovasi yang dicoba Xiaomi, seperti 4 axis OIS yang secara teori harusnya sangat stabil, tetapi dalam implementasinya tidak sebaik teori. Kemudian sampai saat ini Xiaomi terlihat masih sendiri mengembangkan body dari bahan keramik, prosesnya memang membutuhkan teknologi yang lebih tinggi. Keramik ini bahan yang lebih tahan gores, hanya saja kelemahannya lebih mudah pecah ketika terjatuh, dibanding bahan kaca yang diperkuat seperti Gorilla Glass.

Dengan desain yang hampir seluruh badannya terbalut layar, Mi Mix sebenarnya adalah contoh pencapaian yang sangat baik dari Xiaomi dalam hal inovasi, dan berhasil membuat serangkaian apresiasi dan perhatian dunia. Hal ini menunjukkan produk dari China juga sudah berorientasi pada desain yang bagus, ditengah miripnya model smartphone yang diproduksi, terutama oleh pabrikan China.

Desain cantik Mi Mix merupakan karya desainer kondang, Philippe Starck. Memang hal yang biasa pabrikan bekerjasama dengan desainer luar untuk mendapatkan inspirasi baru, juga bisa memanfaatkan ketenaran sang desainer. Sayangnya Mi Mix ini di set sebagai hi-end tetapi tidak lengkap secara performa, misal hasil kamera yang biasa-biasa saja.

Hasil gambar untuk galaxy s8 vs iphone 8 vs xiaomi mi mix 2

Memang tidak ada smartphone yang sempurna sampai saat ini, tetapi melihat beberapa kali smartphone Xiaomi di-release, banyak fitur-fitur unggulan yang belum matang. Arena persaingan smartphone Android memang berat, jika teknologi baru terlalu lama dikeluarkan, sudah didahului brand lain.

Jika terlalu cepat, seringkali teknologinya belum matang. Berbeda dengan Apple yang tidak perlu bersaing dengan brand lain dalam ekosistem, sehingga 2-3 tahun kemudian baru me-release teknologi yang sudah ada pada smartphone lain, masih terasa relevan.

Kematangan inovasi ini bisa dicapai dengan R&D yang baik. Brand sekelas Xiaomi terpecah perhatiannya tidak hanya harus berinovasi dari smartphone, tetapi kepada perangkat lain yang coba mereka lengkapi, dari scooter hingga penanak nasi dan filter air.

Ini membutuhkan biaya R&D yang lebih besar lagi, sementara pendapatan terbesar masih dari sektor smartphone. Margin yang kecil berarti juga biaya R&D yang kecil, sehingga produk-produk yang dihasilkan harus “play safe”, hanya berkutat pada satu sisi. Sebagian spesifikasi harus terlihat superior, dan inovasi lebih bergantung pada inovasi yang dimiliki pembuat chipset atau SoC.

Xiaomi dan OnePlus “terpaksa” mengalihkan biaya utama kepada chipset dan RAM dan tidak terlalu mementingkan yang lain. Bahkan RAM yang besar ini seperti mengulang lagi iming-iming megapixel kamera, semakin besar semakin baik. Padahal dalam penggunaan sehari-hari belum tentu RAM besar ini bermanfaat optimal, apalagi melihat OS OnePlus yang lebih ke OS standa, tidak membutuhkan loading banyak aplikasi khusus yang harus mereka jalankan dari awal.

Banyak jalan pintas yang harus diambil untuk stand out, seperti yang pernah dituduhkan pada OnePlus, yakni soal cheating atau rekayasa dalam hasil benchmark speed. Untuk terlihat lebih unggul dari brand global, cara termudah adalah hasil benchmark yang kencang, sehingga terbentuk pikiran di banyak orang bahwa ini faktor terpenting. Saat ini brand global sendiri sudah move on dari pertarungan benchmark, dan lebih fokus pada fitur baru, kualitas, dan kemudahan untuk pengguna.

Harga murah bagaimanapun sudah menjadi marketing yang bisa menjual dirinya sendiri. Sebagian besar orang menimbang dari segi harga, dan harga yang murah, apalagi reputasi baik, sudah bisa menjual dengan sendirinya.

Tetapi jika terus dipertahankan, selalu butuh waktu bagi brand tersebut untuk menggunakan teknologi terbaru, sementara brand-brand global yang sudah mendapat kepercayaan konsumen menjual device-nya dengan harga yang lebih tinggi, tetapi bisa menyematkan teknologi terbaru.

Teknologi terbaru ini, misal storage yang lebih kencang, RAM yang lebih cepat, layar AMOLED resolusi tinggi, dan lain sebagainya. Saat pertama di-release akan mahal harganya, selain biaya R&D karena produksinya biasanya masih terbatas. Setelah beberapa waktu, harga teknologi ini cenderung turun, karena produksi yang sudah cukup banyak, biaya R&D yang sudah tercover, dan sudah ada teknologi lebih baru lagi.

Saat harga lebih terjangkau, baru teknologi ini dapat digunakan brand seperti Xiaomi atau OnePlus karena ketatnya rencana harga. Beruntungnya, seringkali teknologi baru ini hanya dimiliki segelintir brand global, dan konsumen seringkali belum mengerti benar gunanya, karena teknologi baru juga membutuhkan waktu untuk diadaptasi, sehingga saat digunakan brand dari China, teknologi ini masih terasa belum usang.

Butuh waktu hampir 2 tahun brand China menggunakan internal storage type baru yang sudah dimiliki Samsung, dan sudah hampir 3 tahun sejak layar lengkung diperkenalkan, masih sulit kita menemukan layar lengkung pada smartphone China. LG dan Samsung sudah memperkenalkan rasio standar layar baru yang akan segera diikuti Google Pixel, smartphone brand China masih belum memikirkan layar yang bisa menampilkan konten HDR.

Pertanyaannya, jika terus begini, berarti secara inovasi sulit bagi brand China mengejar brand global secara inovasi. Brand China yang bertahan dengan harga murah akan selalu menguntit dari belakang.

Secara sumber daya, kreatifitas, ide baru, rasanya tidak ada yang kurang pada brand China. Jika mereka memiliki biaya R&D yang cukup, bukan mustahil banyak terobosan baru akan kita nikmati lebih cepat. Untuk memiliki biaya R&D yang cukup, margin smartphone yang dijual juga harus lebih besar, nah, sekarang siapkah para fans dan calon konsumen mau membayar harga lebih untuk produk yang biasa mereka beli dengan harga murah.

Bagi Apple yang namanya sudah menjulang, ekosistemnya sudah terbentuk, basis fans yang lebih kuat di daya beli, tidak memiliki saingan pada OS yang sama, akan lebih mudah menyasar lebih banyak konsumen di level lainnya. Apple akan lebih mudah mendapatkan banyak pembeli jika suatu saat mau mengeluarkan produk mid-end dengan harga lebih terjangkau.

Sementara bagi Samsung, yang memiliki hampir semua lini pabrik komponen, dari layar hingga prosesor, jika mau menyamakan harga bahkan lebih rendah dibanding brand China, secara nalar, harusnya semudah membalikkan telapak tangan, jika suatu saat mereka merasa perlu mengambil alih lagi pasar.

Ke depan, perlombaan smartphone bukan lagi akan dititikberatkan pada spesifikasi dan kecepatan. Saat ini pun kecepatan smartphone hi-end yang beredar sudah sangat cepat. Kecuali dalam hal skor benchmark, menggunakan prosesor Snapdragon 835 yang terbaru, dan Snapdragon 821 tahun lalu, sudah sulit dibedakan. Bahkan chip prosesor smartphone sekarang sudah mulai menyaingi dan sanggup menjalankan aplikasi PC.

Sebentar lagi, kecepatan chipset bukan lagi faktor terpenting untuk memilih smartphone. Developer chipset sendiri sudah tak lagi hanya sekedar mengembangkan produknya sebagai otak komputasi, tetapi sebuah platform. Desain, user experience, fitur, dan inovasi baru, yang akan menjadi pilihan utama, termasuk kemudahannya terhubung dengan berbagai device lain sebagai ekosistem (IoT) yang diperkuat artificial intelligence. [LS/HBS]