Ilmuwan Jepang Kembangkan Antibodi untuk Obat Virus Corona

Uji coba vaksin Covid-19

Telset.id, Jakarta – Para peneliti sedang berlomba-lomba untuk menemukan obat virus corona atau Covid-19. Sejauh ini, belum ada obat maupun vaksin yang terbukti bisa melawan Covid-19.

Tapi, dikutip Telset.id dari Ubergizmo, Minggu (10/05/2020), ada kabar baik dari kelompok peneliti. Mereka mengembangkan satu antibodi yang menunjukkan tanda-tanda menjanjikan untuk melawan corona.

Tim peneliti tersebut berasal dari berbagai negara belahan dunia, seperti Belanda, Israel, dan Jepang. Mereka berhasil mengembangkan antibodi kuat yang diklaim mampu jadi obat ampuh untuk virus corona.

{Baca juga: Penelitian Antibodi Ungkap Titik Lemah Virus Corona}

Meski demikian, temuan itu baru diuji di laboratorium. Artinya, jika diujikan di manusia, antibodi temuan mereka belum tentu mampu bekerja secara efektif. Namun setidaknya, harapan mulai datang.

Berbicara kepada The Guardian, peneliti Berend-Jan Bosch dari Universitas Utrecht mengatakan bahwa antibodi penetralisasi yang ditemukan berpotensi mengubah arah infeksi di inang yang terinfeksi.

{Baca juga: Raksasa Teknologi Berlomba Atasi Corona, Masih Bisa Dipercaya?}

Hal tersebut katanya, mendukung pembersihan virus atau melindungi individu yang tidak terinfeksi yang terpapar virus. Kendati begitu, ia berujar bahwa penelitian lebih lanjut untuk antibodi itu masih dibutuhkan.

Selain mereka, beberapa perusahaan juga sedang mengembangkan vaksin penangkal virus corona. Gilead Sciences misalnya, menjadi salah satu perusahaan yang coba mengembangkan obat penangkal corona.

{Baca juga: Obat Covid-19 Ditemukan, Tapi Punya Efek Samping}

Akan tetapi, dilaporkan bahwa obat buatan Gilead Sciences tampaknya memiliki efek samping yang tidak diinginkan, yakni bisa menurunkan kuantitas sperma. Mengutip sebuah penelitian yang diposting ke situs pra-cetak yang dioperasikan oleh Cold Spring Harbor Laboratory, efek samping itu diketahui setelah dilakukan uji coba obat ke tikus.

Studi tersebut mengklaim bahwa dalam percobaan yang melibatkan 28 tikus, ditemukan bahwa jumlah dan motilitas sperma cenderung mengalami tren penurunan, bersamaan dengan sejumlah kelainan sperma. (SN/MF)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here