Telset.id – Aksi walkout yang dilakukan karyawan Google pada 1 November 2018 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam industri teknologi. Di balik aksi yang melibatkan ribuan karyawan di berbagai kantor Google di seluruh dunia tersebut, terdapat kisah panjang tentang keberanian, solidaritas, dan perjuangan melawan budaya perusahaan yang diskriminatif. Buku terbaru berjudul “Don’t Be Evil: Bad Bosses, Fake Promises, and My Escape From Big Tech” karya Claire Stapleton mengungkap detail di balik layar organisasi aksi tersebut.
Claire Stapleton, mantan karyawan Google yang juga menjadi salah satu penggerak utama walkout, menceritakan bagaimana aksi tersebut bermula dari sebuah grup Google Groups yang ia buat pada 27 Oktober 2018. Dalam email pertamanya, ia mengajak rekan-rekan perempuan di Google untuk bergabung dalam aksi yang kemudian dikenal sebagai Google Women’s Walkout. Hanya dalam waktu singkat, grup tersebut diikuti oleh 200 orang dan terus bertambah dengan cepat.
Awal Mula Perlawanan Karyawan Google
Stapleton mengungkapkan bahwa keputusannya untuk memulai gerakan ini tidak lepas dari kekesalan yang mendalam terhadap budaya kerja di Google. Ia menyebutkan bahwa banyak karyawan perempuan yang selama ini merasa tidak didengar, mengalami diskriminasi, dan menghadapi berbagai perlakuan tidak adil. Energi kemarahan inilah yang kemudian menjadi bahan bakar utama gerakan walkout.
Dalam waktu singkat, keputusan penting pun diambil. Para penggerak sepakat bahwa walkout akan dilaksanakan pada Kamis, 1 November 2018, hanya lima hari setelah grup tersebut dibentuk. Pertimbangan utamanya adalah momentum dan kemarahan yang sedang memuncak di kalangan karyawan. Selain itu, mereka juga mempertimbangkan jadwal pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat yang jatuh pada 6 November 2018.
Seorang project manager bernama Tanuja kemudian bergabung dan membantu merancang strategi organisasi. Mereka membangun situs internal dengan model “hub and spoke”, di mana setiap kantor Google memiliki koordinator lokal yang menyesuaikan aksi dengan cerita dan kondisi masing-masing. Model organisasi ini terbukti efektif dalam memperluas jangkauan gerakan secara global.
Stapleton juga menceritakan pertemuannya dengan Amr, seorang “entry-level engineer” yang ternyata memiliki pengalaman luas dalam aktivisme. Amr sebelumnya terlibat dalam organisasi buruh restoran dengan gerakan Fight for $15 dan aktif dalam berbagai aksi aktivis di Google sejak awal bergabung. Ia memperkenalkan Stapleton pada Meredith Whittaker, yang dikenal sebagai sosok dengan integritas moral tinggi di dalam Google. Whittaker dan Amr sebelumnya telah memimpin gerakan penolakan terhadap Project Maven, proyek Departemen Pertahanan AS yang menggunakan AI Google untuk pengawasan dan penargetan drone.
Amr memberikan perspektif berbeda tentang organisasi aksi. Ia mengingatkan bahwa Google kemungkinan besar memantau pergerakan mereka dan akan memberikan perlawanan. Meskipun skeptis terhadap skala walkout yang terlalu besar dan terlalu cepat, Amr mengakui bahwa momentum yang ada sudah tidak bisa dibendung. Prinsip organisasinya sederhana: Anda harus tahu posisi orang secara politik, emosional, dan sejauh apa mereka bersedia mengambil risiko.
Baca Juga:
Pengakuan Karyawan yang Mengungkap Budaya Toksik
Pada Senin malam, Stapleton mengirimkan email ke listserve dengan sebuah pertanyaan sederhana: “Mengapa Anda ikut walkout?” Ia menyertakan Google Form untuk mengumpulkan jawaban. Hasilnya mencengangkan: 350 orang merespons dengan berbagai kisah pribadi yang mengungkap budaya diskriminasi yang sistemik di Google.
Beberapa pengakuan yang diungkapkan dalam respons tersebut sangat mengejutkan. Seorang karyawan menceritakan direkturnya yang secara terbuka menekan karyawan perempuan untuk memakai high heels, memaksa anggota tim yang kelebihan berat badan untuk “pergi ke gym”, dan menyebut klien mereka sebagai “battered women”. Direktur tersebut bahkan membuat lelucon homofobik dan rasis, serta melontarkan komentar seksis dalam pertemuan satu lawan satu.
Pengakuan lain mengungkap insiden di sebuah resort saat off-site, di mana seorang asisten direktur hampir menjadi korban pelecehan seksual oleh pria non-Googlers yang mendapatkan kunci kamarnya. Meskipun korban berhasil melawan, investigasi HR yang dilakukan justru berakhir dengan korban yang meninggalkan perusahaan, sementara direktur tersebut justru dipromosikan tiga kali.
Seorang karyawan dari tim Google UK menceritakan pengalamannya dengan budaya “boys club” yang mengerikan. Ketika para perempuan menulis surat protes ke HR, tidak ada tindakan yang diambil. Sebaliknya, manajer justru memanggil para karyawan perempuan satu per satu dan membuat mereka menangis serta menyesal pernah melapor. Karyawan tersebut akhirnya diminta keluar dari tim dan diancam akan dipecat jika membicarakan insiden tersebut.
Ada pula pengakuan dari seorang perempuan kulit berwarna yang mengalami underleveled dan harus menerima pemotongan gaji 20 persen saat bergabung dengan Google. Bahkan setelah tiga tahun dan dua kali promosi, gaji pokoknya baru kembali ke level sebelum bergabung, tanpa memperhitungkan inflasi dan biaya hidup yang terus meningkat.
Yang paling ironis adalah pengakuan dari seorang karyawan HR yang mengatakan, “Saya bekerja di HR. Saya datang bekerja setiap hari untuk memperjuangkan keadilan dan perbaikan bagi para Googler. Siapa yang berjuang untuk saya?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa bahkan mereka yang bertugas melindungi karyawan pun merasa tidak aman dalam sistem yang ada.
Stapleton menyebut kumpulan pengakuan ini sebagai “monumen kekecewaan yang menakjubkan dan menyedihkan”, yang menangkap berbagai anekdot tentang diskriminasi, gaslighting, retaliasi, pelanggaran etika, manajer yang menghukum, dan HR yang tidak berfungsi. Jika diringkas menjadi satu pertanyaan, semuanya bermuara pada: “Kapan Anda pertama kali menyadari kesenjangan antara apa yang Anda yakini tentang Google—progresif, adil, baik—dengan apa yang sebenarnya Anda lihat dan alami setiap hari?”
Momen ini menjadi titik balik bagi Stapleton. Selama bertahun-tahun ia bekerja sebagai corporate storyteller yang membangun narasi positif tentang Google. Namun, kumpulan pengakuan tersebut membuka matanya bahwa narasi dan “nilai-nilai” yang selama ini ia bangun justru menjadi tabir yang menutupi kebusukan di dalam perusahaan. Baginya, bisnis Google pada akhirnya hanyalah iklan, imperium pengawasan, dan infrastruktur penangkapan perhatian serta pengaruh.
Keputusan akhirnya bulat: kisah-kisah nyata para karyawan—bukan versi internal yang disanitasi—akan menjadi pusat dari aksi walkout. Stapleton menyadari bahwa cerita-cerita tersebut mungkin tidak akan meruntuhkan apa pun, tetapi setidaknya bisa menembus mitos tentang Google sebagai perusahaan yang baik. Dan terkadang, perubahan nyata memang dimulai dari sana.
Buku “Don’t Be Evil” karya Claire Stapleton dijadwalkan terbit pada 4 Agustus 2026 oleh William Morrow, imprint dari HarperCollins Publishers. Buku ini menjadi kesaksian penting tentang bagaimana karyawan teknologi mulai berani bersuara melawan ketidakadilan di tempat kerja, sebuah fenomena yang terus relevan di tengah maraknya isu etika dalam industri teknologi. Perkembangan serupa juga terjadi di berbagai perusahaan teknologi lain yang mulai menghadapi tantangan etika dan tuntutan transparansi dari karyawan maupun publik.
Kisah Google Women’s Walkout 2018 menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap inovasi teknologi, terdapat perjuangan manusia untuk mendapatkan keadilan dan martabat di tempat kerja. Aksi yang dimulai dari sebuah email sederhana ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang diambil dengan keberanian.





Komentar
Belum ada komentar.