📑 Daftar Isi

Logo Airtable dan Bending Spoons dalam kesepakatan akuisisi senilai US$1,28 miliar

Akuisisi Airtable: Bending Spoons Resmi Caplok Rp20 Triliun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Bending Spoons akuisisi Airtable senilai US$1,28 miliar secara tunai, akuisisi pertama pasca-IPO
  • Valuasi Airtable turun drastis dari US$11 miliar (2021) menjadi US$2,25 miliar dengan kas bersih
  • Pendapatan berulang tahunan Airtable tumbuh 20 persen YoY menjadi US$480 juta per Juni 2026
  • Airtable melayani 500.000 organisasi termasuk 80 persen Fortune 100
  • Bending Spoons sebelumnya akuisisi Evernote, WeTransfer, EventBrite, dan Vimeo
  • Airtable luncurkan Superagent, platform orkestrasi agen AI pada Januari 2026

Telset.id – Bending Spoons mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi startup spreadsheet dan database, Airtable, dengan nilai US$1,28 miliar secara tunai. Akuisisi ini menjadi yang pertama sejak perusahaan melantai di bursa pada bulan lalu, menandai langkah ekspansi agresif pengembang aplikasi asal Italia tersebut.

Kesepakatan ini mengungkap perubahan valuasi signifikan bagi Airtable. Startup yang didirikan pada 2013 ini sempat mencapai valuasi puncak lebih dari US$11 miliar pada masa kejayaan 2021. Namun, pada awal tahun ini, sahamnya diperdagangkan di pasar sekunder dengan valuasi US$4 miliar. Dengan memperhitungkan saldo kas bersih saat ini, Airtable kini dinilai sekitar US$2,25 miliar.

Pendapatan Berulang Tahunan Airtable Tumbuh 20 Persen

Bending Spoons menyatakan bahwa nilai yang diberikan Airtable tercermin dari pendapatan berulang tahunan yang tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan menjadi sekitar US$480 juta per Juni 2026. Angka ini menjadi dasar keyakinan perusahaan untuk mempercepat inovasi melalui akuisisi ini.

“Airtable adalah merek pionir yang membentuk ulang cara tim mengorganisir data dan mengelola alur kerja penting. Nilai yang diberikan tercermin dalam pendapatan berulang tahunan yang tumbuh lebih dari 20 persen year-on-year menjadi sekitar US$480 juta per Juni 2026, dan bergabung dengan Bending Spoons akan mempercepat inovasi lebih jauh lagi,” ujar pendiri Bending Spoons, Luca Ferrrai, dalam pernyataannya.

Sebelumnya, pada Januari lalu, Airtable meluncurkan lini produk baru dengan nama Superagent. Platform orkestrasi ini memungkinkan pengguna untuk membentuk tim agen AI untuk menyelesaikan berbagai tugas. CEO Airtable, Howie Liu, menyatakan bahwa perusahaannya melayani lebih dari 500.000 organisasi, termasuk 80 persen dari Fortune 100.

Baca Juga:

Strategi Akuisisi Bending Spoons

Bending Spoons, yang melantai di bursa dengan valuasi US$18 miliar pada Juli lalu, memiliki pola bisnis yang khas dalam setiap akuisisi. Perusahaan biasanya membeli perusahaan yang diperdagangkan dengan diskon cukup besar dibandingkan valuasi privatnya, kemudian memangkas staf, merampingkan produk, dan berupaya menjalankannya secara menguntungkan.

Strategi ini telah terbukti melalui sejumlah merek terkenal yang telah diakuisisi sebelumnya, termasuk Evernote, WeTransfer, EventBrite, dan Vimeo. Akuisisi Airtable menjadi tambahan terbaru dalam portofolio perusahaan yang terus berkembang.

Kesepakatan ini menunjukkan tren konsolidasi di industri teknologi, di mana perusahaan publik dengan valuasi besar memanfaatkan kondisi pasar untuk mengakuisisi startup yang valuasinya turun signifikan dari puncaknya. Airtable, yang pernah bernilai US$11 miliar, kini dijual dengan harga yang jauh lebih rendah, mencerminkan koreksi valuasi yang terjadi di sektor teknologi sejak 2021.

Bagi Bending Spoons, akuisisi ini membuka akses ke basis pelanggan enterprise yang luas. Dengan lebih dari 500.000 organisasi yang dilayani, termasuk mayoritas perusahaan Fortune 100, Airtable memberikan landasan kuat bagi Bending Spoons untuk memperluas jangkauan bisnisnya di segmen perangkat lunak produktivitas dan kolaborasi tim.

Produk Superagent yang diluncurkan Airtable pada Januari lalu juga menjadi nilai tambah strategis. Platform orkestrasi agen AI ini memungkinkan pengguna membuat tim agen AI untuk mengerjakan berbagai tugas, sejalan dengan tren adopsi kecerdasan buatan yang semakin meluas di kalangan korporasi.

Dengan pendapatan berulang tahunan yang terus tumbuh di atas 20 persen, Airtable menunjukkan fundamental bisnis yang sehat meskipun valuasinya mengalami koreksi. Pertumbuhan ini menjadi indikator bahwa permintaan terhadap solusi manajemen data dan alur kerja berbasis cloud masih kuat di pasar.

Langkah Bending Spoons mengakuisisi Airtable juga menegaskan ambisi perusahaan untuk menjadi pemain utama di industri perangkat lunak produktivitas. Dengan portofolio yang kini mencakup Evernote, WeTransfer, EventBrite, Vimeo, dan Airtable, perusahaan memiliki basis pengguna yang luas di berbagai segmen pasar.

Kesepakatan tunai senilai US$1,28 miliar ini juga menunjukkan kekuatan finansial Bending Spoons pasca-IPO. Perusahaan yang baru melantai di bursa pada Juli 2026 ini memiliki modal yang cukup untuk melakukan ekspansi melalui akuisisi strategis.

Bagi industri teknologi secara keseluruhan, akuisisi ini menjadi contoh bagaimana perusahaan dengan valuasi besar dapat memanfaatkan koreksi pasar untuk memperkuat posisi bisnisnya. Airtable, yang sempat menjadi salah satu startup paling bernilai di segmennya, kini berada di bawah naungan Bending Spoons dengan harapan dapat beroperasi lebih efisien dan menguntungkan.

Ke depan, integrasi Airtable ke dalam ekosistem Bending Spoons akan menjadi ujian bagi model bisnis akuisisi yang diterapkan perusahaan. Keberhasilan dalam mengelola transisi ini akan menentukan apakah strategi serupa akan terus dilanjutkan untuk akuisisi berikutnya.

Luca Ferrrai, pendiri Bending Spoons yang juga menjabat sebagai pemimpin perusahaan, menyatakan keyakinannya bahwa penggabungan ini akan mempercepat inovasi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Bending Spoons tidak hanya fokus pada efisiensi biaya, tetapi juga pada pengembangan produk yang berkelanjutan.

Dengan basis pelanggan yang mencakup 80 persen Fortune 100, Airtable memiliki posisi kuat di pasar enterprise. Integrasi dengan Bending Spoons diharapkan dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam melayani pelanggan korporat dengan lebih baik melalui skala dan sumber daya yang lebih besar.

Akuisisi ini juga menarik perhatian karena melibatkan dua perusahaan dengan fokus berbeda. Airtable dikenal sebagai platform manajemen data dan workflow yang fleksibel, sementara Bending Spoons memiliki keahlian dalam mengoptimalkan operasional dan profitabilitas produk digital.

Kombinasi ini diharapkan dapat menghasilkan sinergi yang menguntungkan, di mana kekuatan produk Airtable didukung oleh kemampuan operasional Bending Spoons. Pendekatan ini sejalan dengan strategi Bending Spoons yang terbukti berhasil pada akuisisi sebelumnya.

Dengan nilai transaksi US$1,28 miliar, akuisisi Airtable menjadi salah satu kesepakatan terbesar di industri teknologi pada tahun ini. Angka ini mencerminkan keyakinan Bending Spoons terhadap potensi pertumbuhan Airtable di masa depan, meskipun valuasinya telah terkoreksi signifikan dari puncaknya.

Bagi pengguna Airtable, akuisisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kelangsungan produk dan layanan yang ada. Namun, pernyataan Bending Spoons tentang percepatan inovasi memberikan sinyal positif bahwa produk akan terus dikembangkan, bukan dihentikan.

Kesepakatan ini diharapkan dapat diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan pengalihan kepemilikan secara resmi kepada Bending Spoons. Setelah proses selesai, Airtable akan beroperasi sebagai bagian dari portofolio Bending Spoons yang terus berkembang.

Dengan demikian, akuisisi Airtable oleh Bending Spoons menandai babak baru bagi kedua perusahaan. Bagi Airtable, ini adalah awal dari era baru di bawah kepemilikan Bending Spoons. Bagi Bending Spoons, ini adalah langkah strategis untuk memperkuat posisinya di pasar perangkat lunak produktivitas global.

Perkembangan ini tentu menjadi sorotan bagi pelaku industri teknologi, mengingat nilai transaksi yang besar dan dampaknya terhadap lanskap kompetitif di segmen perangkat lunak kolaborasi dan manajemen data. Keberhasilan integrasi akan menjadi indikator penting bagi strategi akuisisi Bending Spoons ke depan.

Bending Spoons sendiri memiliki rekam jejak yang solid dalam mengelola perusahaan yang diakuisisi. Keberhasilan mereka dalam mengoptimalkan Evernote, WeTransfer, dan merek lainnya menjadi modal kepercayaan bahwa Airtable akan berada di tangan yang tepat untuk pertumbuhan jangka panjang.

Dengan pendapatan berulang tahunan yang mencapai US$480 juta dan pertumbuhan di atas 20 persen, Airtable menunjukkan fundamental bisnis yang kuat. Dukungan Bending Spoons diharapkan dapat mempercepat adopsi produk di pasar yang lebih luas.

Kesepakatan ini juga menunjukkan bahwa pasar teknologi masih menarik bagi investor, terutama untuk perusahaan dengan model bisnis yang jelas dan pertumbuhan pendapatan yang konsisten. Airtable menjadi contoh bagaimana perusahaan dengan fundamental kuat tetap menarik meskipun valuasinya terkoreksi.

Bagi Bending Spoons, akuisisi ini melengkapi portofolio mereka dengan produk yang melayani kebutuhan enterprise. Dengan jangkauan Fortune 100 yang luas, Airtable memberikan akses ke segmen pasar yang bernilai tinggi dan potensi pendapatan yang besar.

Ke depannya, pengawasan pasar akan tertuju pada bagaimana Bending Spoons mengintegrasikan Airtable dan apakah mereka dapat mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang telah dicapai. Keberhasilan ini akan menjadi tolok ukur bagi strategi akuisisi perusahaan di masa mendatang.

Dengan semua perkembangan ini, akuisisi Airtable oleh Bending Spoons menjadi salah satu berita paling signifikan di industri teknologi tahun ini. Nilai transaksi yang besar, perubahan valuasi yang drastis, dan potensi sinergi bisnis menjadikan kesepakatan ini layak untuk terus dipantau perkembangannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.