Telset.id – Google akan mengubah tampilan hasil pencarian di Eropa sebagai langkah untuk menghindari denda senilai €890 juta atau sekitar Rp16 triliun yang dijatuhkan Komisi Eropa (EC) pada awal musim panas 2026. Perubahan ini disebut sebagai penurunan kualitas layanan terbesar dalam sejarah mesin pencari tersebut.
Keputusan ini diambil setelah EC mendenda Google sebesar €460 juta (sekitar Rp8,3 triliun) atas tuduhan penyalahgunaan dominasi di sektor pencarian untuk mengutamakan layanan miliknya sendiri saat menampilkan hasil query. Sanksi ini menjadi bagian dari sengketa berkepanjangan antara pemerintah Uni Eropa dan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat terkait pelanggaran Digital Markets Act (DMA).
Aturan DMA mensyaratkan bahwa platform digital besar “tidak boleh memperlakukan layanan mereka sendiri lebih menguntungkan dalam peringkat dibandingkan layanan pihak ketiga.” Google pertama kali mengumumkan rencana perubahan layanannya sebagai respons terhadap DMA pada Maret 2024. Namun, pada akhir bulan yang sama, EC menyatakan sedang menyelidiki Google, Apple, dan Meta karena diduga terus mengutamakan layanan mereka sendiri—salah satunya dengan menampilkan informasi Google Flights di atas kompetitor pada kueri pencarian terkait perjalanan.
Setahun kemudian, Komisi Eropa menjatuhkan denda pertamanya kepada Google atas dugaan praktik self-preferencing tersebut. Laporan pada Oktober 2025 mengindikasikan bahwa Google telah menawarkan perubahan pada cara hasil pencariannya ditampilkan demi memenuhi aturan blok tersebut.
Format Baru Hasil Pencarian di Eropa
Berdasarkan laporan Reuters, hasil pencarian Google yang direvisi “akan menonjolkan satu mesin pencari khusus di bagian atas halaman, diikuti oleh dua mesin pencari lain dengan detail lebih sedikit.” Selanjutnya, carousel hotel, maskapai penerbangan, dan restoran akan ditempatkan di bawahnya dengan fitur utama seperti harga real-time yang dihilangkan.
Mesin pencari khusus tersebut mencakup situs seperti Expedia atau Hotels.com, yang juga dikenal sebagai layanan pencarian vertikal. Pengguna Eropa kemungkinan akan melihat situs agregator dan perbandingan lebih diprioritaskan dibandingkan situs web bisnis individu dalam hasil pencarian mereka.
Reuters mencatat bahwa “peringkat akan ditentukan oleh algoritma Google,” yang berarti perusahaan teknologi ini masih memegang kendali besar atas cara hasil ditampilkan. EC telah memberikan tenggat waktu 60 hari kepada Google untuk mematuhi aturan, namun perusahaan belum menentukan jadwal pasti kapan pengguna Eropa akan mulai melihat perubahan tersebut.
Baca Juga:
Pihak Google membingkai kepatuhan terhadap DMA sebagai langkah yang memaksa perusahaan menyajikan hasil pencarian berkualitas lebih rendah. Perusahaan menyatakan kepada Reuters bahwa perubahan ini akan menjadi penurunan kualitas layanan terbesar dalam sejarah mesin pencari tersebut.
“Perubahan ini menurunkan pengalaman pengguna bagi warga Eropa—menguntungkan perantara online dengan mengorbankan bisnis lokal, dan menghilangkan fitur bermanfaat yang diandalkan orang setiap hari,” ujar Nick Fox, senior vice-president knowledge and information di Google, dalam pernyataannya.
Google juga menyebut bahwa perubahan pencarian sebelumnya untuk kepatuhan DMA telah dikaitkan dengan penurunan 30 persen “dalam lalu lintas pemesanan langsung gratis ke bisnis Eropa.” Perusahaan mengindikasikan akan ada penurunan lebih lanjut dengan pembaruan terbaru ini.
Dampak bagi Pengguna dan Bisnis Eropa
Perubahan ini akan berdampak signifikan pada cara pengguna Eropa mencari informasi produk dan layanan. Situs perbandingan dan agregator seperti Expedia dan Hotels.com diprediksi akan mendapatkan visibilitas lebih tinggi, sementara situs bisnis individual berpotensi kehilangan lalu lintas kunjungan langsung.
Bagi pelaku bisnis lokal Eropa, langkah ini berarti tantangan baru dalam menjangkau konsumen melalui pencarian organik. Sebelumnya, Google telah melaporkan penurunan 30 persen lalu lintas pemesanan langsung gratis akibat perubahan kepatuhan DMA yang dilakukan sebelumnya.
Keputusan Google ini juga menjadi preseden penting dalam implementasi DMA di kawasan Eropa. Sengketa antara regulator dan raksasa teknologi diperkirakan akan terus berlanjut seiring upaya EC menegakkan aturan persaingan usaha yang lebih ketat di pasar digital.
Perkembangan ini terjadi di tengah berbagai inisiatif Google lainnya dalam mengembangkan teknologi dan layanannya. Google DeepMind baru-baru ini meluncurkan AlphaGenome Atlas, peta prediksi mutasi genom manusia. Perusahaan juga tengah mengembangkan reaktor nuklir di Iowa dengan dukungan pinjaman $1,9 miliar untuk kebutuhan energi pusat datanya.
Belum ada kepastian kapan perubahan hasil pencarian ini akan mulai diterapkan untuk pengguna di Eropa. Google juga belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai potensi dampak finansial dari penurunan lalu lintas ke situs bisnis akibat kebijakan barunya ini.





Komentar
Belum ada komentar.