Berawal dari keresahan pribadinya dan ibu mertua, Farhana (29) memanfaatkan Google Form dan WhatsApp untuk mengatasi stunting dan tuberkulosis di desanya.

Google Form dan WhatsApp Atasi Stunting dan TB di Desa Perante

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Inisiatif TP PKK Desa Perante menggunakan Google Form dan WhatsApp untuk mendata stunting dan TB
  • Farhana (29) dan Siti Zubaidah (59) menggabungkan penanganan dua masalah kesehatan dalam satu program
  • Data terakhir: hampir 200 anak didata stunting, 500-600 orang untuk skrining TB dari total 1.000 penduduk
  • Anak stunting mendapat PMT gratis selama satu bulan setelah terdata
  • Metode 'jemput bola' dilakukan untuk warga yang belum mengisi formulir online
  • Beberapa anak berhasil keluar dari status stunting pada 2025 setelah program PMT 2024

Telset.id – Masalah stunting dan tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Berawal dari keresahan pribadi, Farhana (29) dan ibu mertuanya, Siti Zubaidah (59), memanfaatkan Google Form dan WhatsApp untuk mendata kasus stunting dan TB di Desa Perante, Situbondo, dengan lebih cepat dan luas.

Keduanya yang merupakan pengurus TP PKK Desa Perante melihat belum ada upaya yang menyatukan dua masalah kesehatan ini dalam satu penanganan. “Setelah saya cari-cari, ternyata belum ada yang menyatukan dua masalah terkait TB dan stunting. Di sini, kami mencoba menyelesaikan dua masalah ini dalam satu penanganan,” ujar Farhana kepada detikINET, Jumat (29/5/2026).

Guru di MIM Perante ini menjelaskan bahwa TB dan stunting ibarat lingkaran setan. Anak yang stunting rentan terkena tuberkulosis, sementara TB membuat anak stunting sulit bertumbuh kembang maksimal. “Kalau sudah kena stunting, nggak bisa 1-2 bulan tindakannya, itu harus ditindak bertahun-tahun mendatang, mungkin 2-3 tahun. Kalau anak kena stunting, keluarga harus dicek kena TB atau nggak,” jelasnya.

Upaya penggencaran pengurangan angka stunting di Perante sudah dimulai sejak 2023 melalui program Kardas Centing Tosis (Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis). Farhana mengaku sentuhan digital, meski hanya berupa Google Form dan grup WhatsApp, ternyata mampu membantu pendataan menjadi lebih luas serta cepat.

Keluarga yang didata pun menjadi lebih mudah memberikan informasi tanpa rasa malu. Hasil skriningnya dapat digunakan sebagai landasan untuk konsultasi lebih lanjut ke Posyandu. “Google Form ini hanya dibagikan lewat grup WhatsApp Kader Posyandu. Tak hanya mengandalkan Google Form dan edukasi di WhatsApp, kami juga memberikan penyuluhan workshop mengenai bahaya TB dan stunting,” tegas Farhana.

Dengan Google Form saja, hampir satu desa berhasil terdata untuk skrining stunting dan tuberkulosis. Data terakhir mencatat sudah ada hampir 200 anak yang didata masalah stunting dan 500-600 orang untuk skrining tuberkulosis, dari total penduduk Desa Perante yang berjumlah hampir 1.000 orang.

Berawal dari keresahan pribadinya dan ibu mertua, Farhana (29) memanfaatkan Google Form dan WhatsApp untuk mengatasi stunting dan tuberkulosis di desanya.

Setelah berkomunikasi dengan tenaga kerja di Posyandu dan bidan desa, anak yang terindikasi stunting akan mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) secara gratis selama satu bulan. Meski belum ada data pasti soal penurunan angka stunting, Farhana mengalami sendiri beberapa kabar membahagiakan.

“Waktu itu aku sudah mulai ikut menyalurkan PMT 2024. Ternyata ada beberapa anak yang di 2025 nggak mendapatkan PMT lagi. Waktu itu aku tanya ke kadernya ‘Kenapa nggak dapat lagi?’, dijawabnya ‘Anak ini sudah sehat, anaknya nggak stunting lagi’,” kisahnya.

Bagi warga yang belum mengisi formulir secara online, Farhana menjelaskan bahwa ia dan tim melakukan upaya ‘jemput bola’. Keluarga yang belum terdata akan dikunjungi ke rumahnya langsung sehingga dapat dipastikan semua warga mengisi formulir tersebut.

Inisiatif ini membuktikan bahwa teknologi sederhana seperti Fitur Terbaru dari Google dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat di tingkat desa. Pendekatan digital yang murah dan mudah diakses ini bisa menjadi model bagi desa-desa lain di Indonesia yang menghadapi masalah serupa.

Keberhasilan pendataan di Desa Perante menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu membutuhkan infrastruktur canggih. Dengan memanfaatkan alat yang sudah tersedia seperti Google Form dan WhatsApp, masalah kesehatan kompleks seperti stunting dan tuberkulosis bisa ditangani lebih efektif.

Farhana dan tim berharap inisiatif ini dapat terus berlanjut dan direplikasi di daerah lain. Data yang terkumpul secara digital memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanganan stunting dan TB secara berkala.

Meskipun masih ada tantangan seperti keterbatasan akses internet di beberapa wilayah, pendekatan Akun Gratis untuk mengakses platform digital ini menjadi solusi yang inklusif. Dengan metode ‘jemput bola’, semua warga tetap bisa terdata meskipun tidak memiliki ponsel atau akses internet.

Inovasi sederhana ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan pemanfaatan teknologi yang tepat dapat mengatasi masalah kesehatan yang selama ini menjadi momok di Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar.