šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi pembangkit listrik panas bumi Cape Station Fervo di Utah yang memasok listrik untuk data center Google

Google Borong Listrik Panas Bumi 396 MW untuk Data Center Utah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Google menyetujui pembelian 396 MW listrik panas bumi dari Fervo untuk data center Utah
  • Pembangkit Cape Station dijadwalkan beroperasi pada 2028 dengan opsi tambahan 600 MW hingga Juni 2030
  • Kesepakatan membantu Google menyeimbangkan ambisi AI dengan target net-zero 2030
  • Fervo berizin mengembangkan 2 GW di Cape Station dengan potensi hingga 4 GW
  • Teknologi enhanced geothermal bisa hasilkan hingga 57 terawatt listrik di AS
  • Kerja sama Google-Fervo telah berjalan lebih dari lima tahun termasuk investasi saham

Telset.id – Google kembali memperkuat komitmennya terhadap energi bersih dengan menyetujui pembelian listrik panas bumi hampir setengah gigawatt dari perusahaan Fervo. Kesepakatan ini ditujukan untuk memasok kebutuhan listrik data center baru yang direncanakan dibangun di Utah.

Perjanjian pembelian listrik (power purchase agreement) yang diumumkan pada Selasa tersebut mengikat Google untuk membeli 396 megawatt dari pembangkit listrik Cape Station milik Fervo di Utah. Pembangkit ini dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Selain itu, Google memiliki opsi hingga Juni 2030 untuk membeli tambahan 600 megawatt dari sumber yang sama.

Kesepakatan ini hadir di tengah upaya Google dan perusahaan hyperscaler lainnya mencari sumber listrik baru di berbagai wilayah Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, Google memang dikenal sebagai salah satu pembeli energi bersih terbesar di AS, dengan portofolio pembelian listrik dari tenaga angin, surya, dan baterai untuk memenuhi janji mencapai emisi net-zero pada 2030.

Menyeimbangkan Ambisi AI dan Target Net-Zero

Namun, target tersebut menjadi lebih sulit dicapai sejak April lalu. Pasalnya, Google menandatangani kesepakatan dengan pengembang data center Crusoe untuk pembelian 933 megawatt listrik gas alam di Texas. Langkah ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap target lingkungan perusahaan.

Kesepakatan dengan Fervo ini dapat membantu Google mendanai ambisi kecerdasan buatan (AI) tanpa secara signifikan mengancam target net-zero yang telah ditetapkan. Dengan demikian, Google dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan komputasi yang terus meningkat dan komitmen keberlanjutan perusahaan.

Fervo sendiri memiliki izin untuk mengembangkan hingga 2 gigawatt energi panas bumi di Cape Station. Namun, Sarah Jewett, senior vice president of strategy Fervo, mengungkapkan kepada TechCrunch pada Mei lalu bahwa seorang insinyur pihak ketiga menyatakan situs tersebut menyimpan panas yang cukup untuk menghasilkan listrik dua kali lipat dari kapasitas yang diizinkan.

Jika dikembangkan sepenuhnya, kapasitas 4 gigawatt tersebut akan menggandakan total kapasitas pembangkit listrik panas bumi di AS. Hal ini berdasarkan laporan terbaru dari Departemen Energi AS.

Bukan hal yang mustahil jika kesepakatan gigawatt Google ini bisa tumbuh lebih besar lagi apabila operasional Fervo berjalan sesuai rencana. Potensi pengembangan yang lebih luas ini menunjukkan keyakinan kedua perusahaan terhadap teknologi panas bumi yang digunakan.

Teknologi Panas Bumi Canggih dan Potensi Besar

Teknologi panas bumi canggih (enhanced geothermal), seperti yang dikembangkan Fervo, mampu memanfaatkan sumber panas yang lebih dalam. Berdasarkan laporan Departemen Energi AS, dengan menggunakan teknologi tersebut, AS berpotensi menghasilkan hingga 57 terawatt listrik. Angka ini menunjukkan besarnya peluang pengembangan energi panas bumi di masa depan.

Kesepakatan baru antara Fervo dan Google ini menambah hubungan panjang kedua perusahaan. Mereka telah bekerja sama selama lebih dari lima tahun, dengan Google membeli sebagian dari listrik pertama yang dihasilkan Fervo. Keterlibatan Google tidak berhenti di situ, perusahaan tersebut juga ikut berinvestasi dalam putaran pendanaan terakhir Fervo sebelum perusahaan rintisan energi panas bumi itu melantai di bursa saham.

Saham Fervo sempat melonjak pada hari pertama perdagangannya, namun kemudian kehilangan sebagian besar keuntungan tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Kabar mengenai kesepakatan dengan Google ini berhasil mendorong harga saham Fervo naik sekitar 30 persen pada hari kemarin sebelum para trader mengambil keuntungan pada hari ini.

Langkah Google ini menunjukkan tren yang semakin jelas di kalangan perusahaan teknologi besar: kebutuhan energi untuk infrastruktur AI yang masif harus diimbangi dengan sumber listrik yang berkelanjutan. Dengan memilih panas bumi, Google tidak hanya mengamankan pasokan listrik untuk data center-nya di Utah, tetapi juga menunjukkan bahwa energi bersih tetap menjadi prioritas utama perusahaan.

Kesepakatan ini juga menjadi sinyal positif bagi industri energi panas bumi yang selama ini sering dianggap kurang kompetitif dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya seperti surya dan angin. Dukungan dari perusahaan sebesar Google dapat mendorong investasi lebih lanjut di sektor ini.

Bagi industri teknologi secara luas, langkah Google ini menjadi contoh bagaimana perusahaan dapat memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat tanpa mengorbankan komitmen lingkungan. Ini menjadi preseden penting bagi perusahaan lain yang menghadapi dilema serupa antara pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan.

Dengan kapasitas yang diizinkan sebesar 2 gigawatt dan potensi pengembangan hingga 4 gigawatt, Cape Station dapat menjadi salah satu pembangkit listrik panas bumi terbesar di AS. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi pengembangan energi panas bumi di masa depan.

Keputusan Google untuk membeli listrik dari Fervo juga menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar semakin serius dalam mencari solusi energi jangka panjang. Ini bukan sekadar langkah untuk memenuhi regulasi, melainkan strategi bisnis untuk memastikan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan bagi operasional perusahaan di masa depan.

Kerja sama yang telah berlangsung lebih dari lima tahun antara kedua perusahaan ini membuktikan bahwa kepercayaan dan komitmen jangka panjang menjadi kunci dalam transisi energi. Google tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga investor yang mendukung pertumbuhan Fervo sejak awal.

Meskipun saham Fervo mengalami fluktuasi sejak melantai di bursa, dukungan dari Google melalui kesepakatan pembelian listrik ini memberikan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan perusahaan ke depan. Kepastian pendapatan dari kontrak jangka panjang seperti ini sangat penting bagi perusahaan energi terbarukan.

Ke depannya, keberhasilan Cape Station akan menjadi studi kasus penting bagi pengembangan proyek panas bumi serupa di berbagai wilayah. Jika teknologi ini terbukti andal dan ekonomis, bukan tidak mungkin akan diadopsi lebih luas oleh perusahaan teknologi lain yang membutuhkan pasokan listrik bersih dalam jumlah besar.

Kesimpulannya, kesepakatan antara Google dan Fervo ini merupakan langkah strategis yang menguntungkan kedua belah pihak. Google mendapatkan pasokan listrik bersih yang dibutuhkan untuk data center-nya, sementara Fervo mendapatkan kepastian pendapatan dan validasi pasar untuk teknologi panas bumi yang dikembangkannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.