Telset.id – General Motors (GM) secara resmi menunda rencana peluncuran kendaraan listrik (EV) baru untuk merek Chevrolet dan Cadillac. Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO Mary Barra dalam laporan keuangan kuartal kedua 2026, menandai perubahan haluan strategis raksasa otomotif Amerika tersebut untuk kembali fokus pada kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).
Dalam konferensi pers setelah pengumuman laba, Mary Barra mengonfirmasi bahwa “generasi berikutnya dari kendaraan ICE Cadillac” akan mulai hadir pada musim semi tahun depan. Model-model anyar tersebut mencakup sedan CT5 yang diperbarui, SUV XT5, dan SUV tiga baris XT6. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Cadillac, yang sebelumnya berambisi menjadi merek listrik murni pada 2030, kini memilih jalur hibrida dengan tetap mempertahankan lini bensin di samping jajaran SUV listrik yang sudah ada.
Chevrolet, yang saat ini menempati posisi kedua sebagai merek EV terlaris di AS di bawah Tesla, juga ikut serta dalam strategi ini. Alih-alih meluncurkan model listrik baru, Chevy justru bersiap meluncurkan kendaraan bensin anyar. Produksi Chevy Bolt generasi terbaru, yang baru saja diperkenalkan, akan dihentikan pada akhir tahun ini. Pabrik di Kansas yang selama ini memproduksi Bolt akan beralih untuk membuat kendaraan crossover berbahan bakar bensin sebagai penggantinya.

Keputusan GM untuk mengerem laju pengembangan EV tidak datang tanpa konsekuensi finansial. Perusahaan mencatatkan beban terkait EV sebesar USD 10,9 miliar sejak paruh kedua 2025. Dari jumlah tersebut, USD 7,2 miliar akan berdampak pada arus kas, dan USD 4,5 miliar di antaranya telah dibayarkan hingga akhir Q2 2026. Meskipun dibebani biaya besar, GM justru menaikkan proyeksi laba setahun penuh menjadi USD 14 miliar hingga USD 16 miliar, naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar USD 13,5 miliar hingga USD 15,5 miliar.
Meski model-model seperti Chevy Equinox EV, Blazer EV, dan Silverado EV akan tetap dijual, masa depan pengembangan model listrik anyar tampak suram. Menurut laporan Automotive News, Blazer EV mungkin akan menerima “pembaruan signifikan pada 2028,” dan Equinox EV juga berpotensi mendapatkan pembaruan serupa di tahun yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa GM lebih memilih untuk menyegarkan model yang sudah ada ketimbang meluncurkan platform atau model EV baru dalam waktu dekat.
Langkah GM ini membuka celah besar bagi para pesaingnya. Hyundai, misalnya, kini semakin agresif. Hyundai IONIQ 5 berhasil mengalahkan Chevy Equinox EV dalam penjualan, menjadi EV terpopuler ketiga di AS. Hyundai memproduksi IONIQ 5 bersama IONIQ 9 di pabrik Metaplant Georgia, sementara GM merakit Equinox EV di Meksiko. Ketimpangan ini semakin terlihat dengan dibukanya pabrik baterai baru Hyundai senilai USD 5 miliar bersama SK On, yang mampu memproduksi sekitar 35 GWh sel baterai per tahun—cukup untuk mendukung sekitar 300.000 kendaraan listrik.
Baca Juga:
Ancaman tidak hanya datang dari Hyundai. Toyota bZ juga mencatatkan permintaan tinggi dan berhasil mengungguli angka penjualan Chevy Equinox EV hingga Juni 2026. Sementara itu, gelombang model EV anyar dari Rivian (R2), BMW (iX3), dan Tesla (Model Y L) siap membanjiri pasar. Situasi ini membuat keputusan GM untuk kembali ke ICE terlihat seperti langkah mundur di tengah persaingan yang semakin ketat.
Yang paling menarik adalah pernyataan Duncan Aldred, senior VP dan presiden GM untuk Amerika Utara, pada Mei lalu. Aldred mengakui bahwa “data yang lebih luas menunjukkan bahwa setelah pelanggan beralih ke EV, mereka cenderung bertahan, dan kemungkinan besar akan memilih EV lain untuk kendaraan berikutnya.” Pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar: jika data menunjukkan loyalitas pelanggan terhadap EV, mengapa GM justru memilih untuk kembali ke bensin?
Komentar dari pembaca setia GM di forum Electrek menggambarkan kekecewaan yang mendalam. Seorang pengguna dengan nama Dan B, pemilik Chevy Equinox EV 2026, menyatakan bahwa dirinya tidak akan kembali ke kendaraan ICE. “Saya tidak ingin atau membutuhkan truk. Saya tidak ingin atau membutuhkan SUV besar. Saya menginginkan mobil atau hatchback yang lebih kecil dan saya tidak akan kembali ke ICE,” tulisnya. Dan B bahkan mengancam akan pindah ke merek lain, termasuk BYD asal China, jika GM benar-benar meninggalkan strategi EV-nya.
Implikasinya jelas: GM mengambil risiko besar dengan meninggalkan momentum yang sudah dibangun di pasar EV. Sementara para pesaing terus berinovasi dan membangun infrastruktur, GM memilih untuk mengamankan keuntungan jangka pendek dari penjualan kendaraan bensin. Keputusan ini, berdasarkan data yang ada, berpotensi membuat GM kehilangan pangsa pasar di segmen yang diprediksi akan tumbuh paling cepat dalam dekade mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai strategi kendaraan listrik GM, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Chevy Bingo EV dan Chevy Blazer EV 2027.





Komentar
Belum ada komentar.